Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
Bab II 13


__ADS_3


Hari minggu pagi terjadi kehebohan di Coffee Shop 'Arleen' yang sudah berpindah kepemilikan. Beberapa pegawai memang sudah mengetahuinya dari chat grup semalam dari owner atau pemilik langsung, Erlangga alias Angga. Mereka masih kaget dan tidak menyangka dalam waktu singkat Coffee Shop tempat merka bekerja di miliki oleh Bagas sekarang. Mereke mengenal Bagas hanya sebagai pelanggan tetap, pemilik percetakan besar di seberang Coffee Shop.


"Bisa tiba-tiba begini ya, sekarang ownernya Mas Bagas. Apa Pak Angga bangkrut sampai jual ini tempat?"


"Iya, aneh rasanya. Tiba-tiba begini"


"Sudah, gak usah dipikirin. Yang penting bersyukur masih bisa bekerja di sini. Gak di pecat atau di PHK. Cari kerja kan susah"


"Iya, sudah bersyukur saja masih bekerja dan mendapat gaji. Sudah ayo siap-siap" Leni membubarkan para penggosip dadakan


tok


tok


tok


Pintu depan Coffee Shop di ketuk Bagas dengan di dampingi Nina dan seorang lelaki dengan tampilan formal. Para pegawai bisa melihat mereka berdiri di depan pintu yang sebagian besar dari kaca transparan namun anti pecah.


Leni dengan segera membukaan pintu yang memang di kunci karena belum waktunya jam operasional Coffee Shop.


"Pagi Mas Bagas" Leni menyapa dan mempersilahkan masuk Bagas karena tahu bahwa sekarang Bagas adalah owner atau pemilik Coffee Shop tempatnya bekerja


Pegawai lain dengan cekatan menyusun bangku yang masih di atas meja untuk bisa di duduki oleh Bagas dan lelaki yang belum diketahui siapa namanya.


"Pagi semuanya, saya Bagas yang akan menjadi pemilik Coffee Shop 'Arleen' selanjutnya. Mari kita duduk untuk berbincang-bincang


*


*


Cring


Cring


Cring


Lonceng kecil di atas pintu menendakan pintu depan Coffee Shop itu terbuka. Masuk beberapa orang, rombongan kecil.


"Selamat datang~~" Kompak para pegawai menyapa


"Selamat Sore~ Untuk berapa orang kakak?" Leni menyapa ramah


"Lima kak"


"Baik, silakan sebelah sini"

__ADS_1


Setelah melihat meja yang tersedia, Leni menuntun pelanggan ke meja yang memuat mereka dan melayani pelanggan dengan baik.


Sore itu pengunjung Coffee Shop sudah lumayan ramai dengan bertepatan dengan waktunya pulang kerja untuk pegawai kantoran disekitarnya. Hingga nanti malam menjelang akan semakin ramai lagi.


Nina saat ini masih sibuk dengan pesanan dan mesin kopinya. Walaupun terhitung sejak tadi pagi posisinya sudah naik menjadi manajer, ia tetep akan memegang posisi barista sebelum mendapatkan pegawai tambahan yang membantu.


"Terima kasih atas kunjungan nya, selamat jalan semoga selamat sampai tujuan. Di tunggu kunjungan-kunjungan berikut nya" Nina mengantar pelanggan yang hendak keluar setelah selasai bertransaksi pembelian take away


Cring


Cring


Cring


Lonceng kecil di atas pintu kembali berbunyi saat pelanggan keluar dan masuklah sosok penghuni hati Nina, Bagas. Suara ramai percakapan para pelanggan itu hilang seketika saat tidak sengaja bertemu tatap dengan Bagas. Seluruh dunia di sekitar tubuhnya terasa memudar dan menyisakan mereka berdua, dirinya dan Bagas. Tubuh Nina membeku untuk sepersekian detik, terpesona. Dan detik berikutnya seyum Bagas tercipta indah di wajah tampannya. Nina pun tanpa sadar tersenyum, seyum mendampa.


"Selamat datang~~" sapaan koor para pegawai menyadarkan Nina


Bagas hanya menggangkat tangan kanannya sebagai balasan. Berjalan menuju counter pemesanan.


'Menuju nina dan mendapatkan hatinya' Bagas bermonolog seperti buzz di toy story


"Hai Nin" Sapa Bagas


"Sore Mas, tumben ke sini sore. Sudah selesai kerjanya?" Nina sedikit merasa heran melihat wajah Bagas yang agak sedikit kusut daripada hari-hari biasanya


'Mas Bagas kayaknya cape banget'


"Boss duduk disini aja dulu, nanti saya anter pesanannya. Mau nambah makanan juga Boss?" Agus memberikan saran kepada Bagas sambil melap meja kosong di depan counter pemesanan


"Iya duduk dulu aja Mas, istirahat duduk dulu. Saya buatin dulu pesenan kopinya." Nina membalikkan badannya segera membuat pesanan khusus untuk Bagas, Boss barunya juga pemilik hati barunya.


Bagas menuju meja yang sudah di bersihkan oleh Agus


"Makasih ya" di tepuk bahu Agus pelan sebagai tanda Bagas berterima kasih


dan duduk tetap dengan wajah kusut dan memejat pelipisnya. Matanya mencuri-curi pandang ke arah Nina yang kembali sibuk meracik pesanan


'Mood booster ku' senyum Bagas mengembang di sudut wajahnya


Nina menyelesaikan pesanan Bagas dengan cepat, di ambilnya beberapa slide cake di etalase dan memindahkannya ke dalam box. Memasukan ke dalam kantung yang sama dengan kopi pesanan Bagas.


'kalau kopi pahit aja kasian nanti lambung Mas Bagas'


Nina bergegas keluar dari counter pemesanan menuju meja tempat berada Bagas duduk, masih dengan memijat pelipisnya


"Mas Bagas" Nina menyimpan kantung pesanan di atas meja

__ADS_1


"Pusing banget ya, mau minum obat biar gak terlalu pusing? Saya ada obat pusing yang gak buat kantuk, mau? Saya ambilin ya" Nina bergeges ke arah belakang Coffee Shop menuju area loker pekerja.


Bagas belum mencerna semua ucapan Nina, namun nina sudah terlebih dulu menghilang


'Lah... Gw di tinggal sih Nin'


Nina bergegas membuka loker miliknya. Ada kotak obat mini miliknya dan diambilnya obat pusing tanpa kantuk dan menutup loker kembali setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. Dengan sedikit berlari Nina kembali ke arah meja tempat Bagas berada


"Ini Mas obatnya, di minumannya setelah makan ya. Di dalam kantung ini ada beberapa cake, di makan bareng kalau minum kopinya biar lambungnya gak sakit. Obatnya saya tarus dalam kantungnya" Nina memasukkan obat tadi ke dalam kantung pesanan Bagas


'Berasa lagi di perhatiin istri sendiri' Bagas malah tersenyum senang mendengar wejangan Nina


"Makasih banyak ya Nin. Berasa di perhatiin istri jadinya" Bagas mengedipkan sebelah matanya


"Gimana kalau kita cepat-cepat di SAH an saja?"


"SAH" Leni yang ada di dekat mereka malah meledek


"Kamu terbaik" Bagas membalas Leni dengan nada seperti boboboy


Nina kehilangan kata-katanya, wajahnya memerah merona, bukan malu namun bahagia


'Mas Bagas serius apa main-main sih? Tapi kemarin ngomong suka dengan wajah serius banget. kan jadi ngarep ini akunya'


"Asyik, undang-undang saya ya Boss Bagas. Biar nanti saya yang paling kencang bilang SAHnya" Leni masih saja menggoda dengan tetap membersihkan meja di sebelah setelah selesai di gunakan pelanggan.


"Mas Bagas katanya masih ada kerjaan lagi, gak balik?" Nina mulai malu karena ledekan Leni


"Ok, bu Boss sudah memerintah saya pamit dulu. Nanti malam kesini lagi, saya ajarin pembukaan sama Bram. Dah Leni" Bagas berdiri membawa kantong pesanannya


"Makasih Nin, bye"


Setelah kepergian Bagas, Leni masih saja menatap Nina dengan tatapan menggodanya. Beberapa rekan kerja juga sudah mengetahui kedekatan antara Bagas dan Nina belakangan ini.


"Apaan sih Len?"


"Aduh bu Boss, jangan marah dong. saya jangan dipecat" Leni meledek dengan nada memelas


"Jadi beneran nih sudah siap jadi Bu Boss Nin?" Agus menimpali


"Apaan sih" Nina menghindar namun wajah merah merona memperlihatkan dengan jalas jawabannya


*


*


Jangan lupa like jempolnya ya 👍

__ADS_1


Terima kasih banyak ❤️


Bersambung 😉


__ADS_2