Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
Bab II 27


__ADS_3


"Teko hanya mengeluarkan isi di dalamnya" Bagas mengucapkan sebuah perumpamaan


"Jadi jika yang keluar air comberan, ya itu isi dari teko tersebut. Begitu juga sebaliknya, keluar teh hangat, ya itu isi tekonya" Bagas berbicara sambil membuka cangkang capit kepiting. Mereka sudah ada di warung sea food yang buka dari jam sebelas malam sampai subuh. Warung itu begitu ramai akan penikmat seafood dan kuliner malam dari seantero Jabodetabek. Beruntunglah tadi Baskara sudah dimintai tolong datang lebih dahulu dan memesan makanan, bila terlambat sedikit saja. Mereka semua harus antri lama menunggu pembeli yang lain selesai makan.


"Buat saya selama kalian merasa bahwa Coffee Shop adalah tempat kalian mencari rezeki yang halal dan teman-teman yang lain sebagai keluarga. Kita kompak, semua orang yang berniat buruk pasti mental" Bagas memberikan daging kepiting yang berhasil ia buka kepada Nina


"Saya selalu menganggap kalian semua juga semua karyawan saya di percetakan sebagai keluarga. Saya memperlakukan orang dengan baik tulus ikhlas karena Allah SWT, urusan orang bales jahat itu masalah mereka. Saya tegas cuma saat bekerja, selesai bekerja ya senang-senang begini" Bagas kembali sibuk membuka cangkang kerang hijau dan memberikan kepada Nina lagi


"Jadi kalau masih ada yang merasa saya otoriter, bahkan tidak suka bekerja sama saya, silakan keluar" Bagas memakan suapan dari Nina


Para karyawan gagal fokus. Alih-alih curhat masalah Maria dan kelakuannya juga mendengar pendapat Bagas, mereka malah fokus pada gerak-gerik pasangan Boss mereka yang saling memberi dan menerima makanan bahkan mereka membelalak melihat Nina dengan enteng menyuapi Bagas dengan menggunakan tangannya langsung. Ambyar sudah konsentrasi mereka untuk mendengarkan Bagas berbicara.


"Sudah-sudah gak usah di teruskan gibahin orang, sekarang makan dulu semuanya. Tapi kalau ada yang mau nerima hasutan Bu Maria bilang ya..." Nina menengahi, mengajak kesadaran para pegawai yang salfok sama kemesraan pasangan Boss mereka.


Mereka semua tertawa, Nina sukses mencair suasana


"Tapi kalau bulan depan tiba-tiba kinerja kalian merosot, jangan salahkan saya jadi curiga kalau kalian ada affair sama Bu Maria. Maka siap-siap ketemu pak Anton pengacara saya" Bagas mengancam menggunakan nama Anton, pengacara yang terbiasa menangani para preman.


Keadaan kembali mencekam, sulit untuk menelan ludah sakit tegangnya.


"Sudah-sudah ayo makan semuanya. Saya yakin semuanya bersaudara, gak akan mungkin menyakiti sesama saudara kan. Makan ayo makan" Nina kembali mencairkan suasana kaku


"Nanti minta bungkus bawa pulang sekalian, bisa buat lauk di kosan kan. Jangan lupa minum obat kolesterol juga sebelum tidur" Nina mencoba membuat suasana kembali riang


"Beneran bu boss, bener boleh pak boss" nada girang bahagia terdengar


"Iya, bungkus saja. Sana pesan" Bagas mengiyakan, ia tidak bisa bilang tidak bila Nina sudah meminta


Lalu tanpa aba-aba para pegawai langsung memanggil pelayan untuk memesan lagi, takut nanti Bagas berubah pikiran.


*


"Makasih banyak ya Mas buat hari ini"


"Semua buat kamu Nin, calon makmum ku"


Bagas dan Nina sudah kembali ke Coffee Shop lagi. Bagas mengantar Nina pulang sambil mengambil mobilnya di parkiran.


"Ya sudah, hati-hati dijalan ya mas. Kalau sudah sampai kabarin" Nina mengelus lengan Bagas lembut. Mereka ngobrol berdiri di depan gedung Coffee Shop

__ADS_1


"Iya, sudah masuk gih" Bagas menangkap tangan Nina yang mengelus lengannya dan menciumnya.


Wajah mereka bersemu merah malu-malu bahagia. Nina masuk dan mengunci pintu. Setelah yakin pintu sudah di kunci, Bagas berlalu menuju mobilnya. Nina memperhatikan dari balik jendela.


Nina naik ke lantai 3 dengan perlahan, saat sudah sampai di atas rupanya ada Tati dan Mina sedang menonton televisi dengan memakan cemilan


"Hai Nin. Aku kira kamu masih nginep di Rumah Sakit jagain Leni" Tati menyapa, Mina hanya melambaikan tangannya, matanya terkonsentrasi menatap televisi yang menayangkan drama Korea.


"Gak, tadi bis makan-makan sama anak-anak. Ditraktir mas boss, ini jatah kalian. Seafood luber" Nina menghampiri mereka dan memberikan bungkusan berisi makanan


"Asyiiiiikkk" Mina paling bersemangat, ia sudah melupakan drakor. Mengambil alih bungkusan makanan dan membukanya segera


"Cuci tangan dulu, jorok akh" Tati mengingatkan


"Tinggal dulu ya, mau mandi" Nina pamit undur diri


"Makasih banyak Nin, salam makasih buat pak boss. Bilang kalau balasannya saya doakan cepat halal dan SAH" Tati berterimakasih sambil meledek


"Aamiin" teriak Mina dari arah dapur, ia sedang mencuci tangannya


"Aamiin" Nina juga mengaminkan


Ia sudah tidak malu-malu menjawab setiap ledekan soal menuju halal, ia sekarang malah dengan senang hati menjawab dan mengaminkan agar segara benar-benar halal bersama Bagas


*


*


Jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit malam, sudah lewat dari lima belas menit dari jadwal perjanjian. Anton agak kesal harus menunggu kedatangan Budi, ia sudah memesan makanan dan minuman. Ia belum menyentuh makanannya dan hanya meminum minuman pesanannya.


'Harus melakukan rencana B sepertinya, sudah diberi kemudahan dan banyak keuntungan malah memilih jalan sulit' Anton semakin kesal


Bagas meminta jalan kekeluargaan tanpa campur tangan pihak berwajib tentang masalah pengancaman Budi terhadap Nina. Bagas menawarkan kepada Budi pekerjaan di Waskana juga akan dibelikan kembali rumah keluarga yang sempat mereka dijual.


'Kurang apa lagi? Dasar manusia serakah' maki Anton dalam hati


Anton memulai makan malamnya yang sendirian, baru satu suap makanan masuk mulutnya. Ia sudah diganggu, mejanya bergoyang ditabrak orang hingga membuat air di gelas tumpah dan memberantakan makanannya.


"Aduh, maaf Pak Anton.... Maaf... maaf" dengan sigap diambil gelas yang jatuh hingga tidak terlalu membasahi meja ataupun pakaian Anton. Bisa dituntut ganti rugi.


Anton mencibir kesal, ia melihat pelaku yang menabrak mejanya dan mengganggu makan malamnya. Ia menghela nafas berat, antara lega dan kesal. Budi rupanya yang menabrak mejanya, ia sedang dibantu seorang pelayan merapihkan meja yang berantakan.

__ADS_1


"Sudah biarkan, ada yang mengurusnya" Anton melarang Budi


"Bisa tolong kau siapkan meja lainnya?" Pinta Anton kepada pelayan, dan pelayan lain membantu menunjukkan meja kosong untuk Anton dan Budi duduk.


"Pesanlah" perintah Anton yang sudah memesan makanan


"Saya sudah makan pak, terima kasih" Budi menjawab dengan segan


"Saya yang bayar, tenang saja"


"Kalau begitu samakan saja dengan makanan pak Anton"


Pelayan meninggalkan meja setelah mencatat semua pesanan


"Maaf pak saya terlambat, saya nyasar tadi. Maklum belum lama di Jakarta. Belum hafal jalannya. Sekali lagi saya minta maaf Pak" Budi meminta maaf dengan tulus


"Ok, saya akan maklum hari ini, saya harap kedepannya tidak terulang"


"Makasih banyak Pak"


"Sebelum anda mengucapkan terima kasih. Saya masih menunggu jawaban anda akan tawaran Bapak Bagaspati Widyanata Sarendra. Jadi bagaimana jawaban anda?" Anton bertanya dengan wajah serius mengintimidasi


"Saya terima tawarannya pak, ke dua orang tua saya juga setuju" Budi menjawab sambil menundukkan kepalanya


"Bagus kalau begitu, setelah makan kita akan ke kantor saya untuk menandatangani kontrak perjanjian dengan legal" nada suara Anton kembali ramah dan bersahabat


"Terima kasih banyak Pak"


"Nanti setelah tanda tangan baru bisa berterima kasih"


Mereka makan malam dengan tenang, tanpa ada percakapan berarti. Budi sudah pasrah sejak awal bertemu dengan Anton. Awal pertemuan Budi masih dengan sikap sok arogan, namun kalah dengan arogansi seorang Anton yang biasa menghadapi preman di kasus premanisme. Anton membeberkan semua bukti konkret tentang pengancaman dan itu bisa di pidanakan, Anton juga mengancam hal yang menakutkan. Bila Budi tetap kekeh tidak mau berdamai dan di penjara, saat dipenjara akan dihabisi oleh para napi lainnya dan akan dianggap sebagai sakit biasa. Itulah ancaman Anton tentu saja Budi menciut, terlebih ia ingat bahwa ibunya sakit serius dan membutuhkan biaya walaupun menggunakan BPJS tapi biaya transportasi dan biaya hidup masih harus dipikirkan. Hartanya sudah habis, bahwa rumah keluarga sudah di jual untuk biaya perawatan Ibunya.


Sekarang ia pasrah, apalagi imbalan yang diterima dari Bagas -calon suami Nina- tidak main-main, menjadi pekerja tetap Waskana dan rumahnya yang dulu sempat dijual. Syaratnya hanya menghilang dari hidup Nina selamanya dan tidak akan pernah menggangu hidup Nina. Syarat yang mudah menurut kedua orang tuanya.


*


*


~~❤️


Jangan lupa like jempolnya ya 👍

__ADS_1


Terima kasih banyak ❤️


Bersambung 😉


__ADS_2