Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
Bab II - 2


__ADS_3


'Kepala gw rasanya mau pecah' Bagas mengurut keningnya setelah keluar dari mobilnya yang di parkir. Ia baru selesai meeting dengan kliennya yang juga merupakan pamannya sendiri


'Isi baterai dulu sebelum kerja lagi' Bagas berjalan menyebrang jalan ke arah Coffee Shop


Sebelum masuk dia sudah bisa melihat isi dari Coffee Shop tujuannya. Dan matanya fokus ke arah seorang wanita yang tersenyum ramah.


'Aih... Mood booster ku. Senyuman mu mengisi energiku' Bagas memeluk dirinya sendiri sambil memandangi wajah wanita yang ada di balik counter Coffee Shop


'Karenina, mood booster ku'


Bagas sebenarnya bukanlah pencinta duduk manja di sebuah Coffee Shop. Ia lebih senang duduk menyepi di tempat yang sunyi, menikmati kesendirian. Berangkat pagi buta dari tempat tinggalnya di depok, dan pulang malam gelap. Ia lebih memilih menyepi di ruang kantornya sendiri.


Hidup monotonnya berubah tujuh bulan yang lalu. Kala itu ia terlalu asyik dengan handphone miliknya seperti biasanya sampai tidak mengindahkan sekeliling.


"Hati-hati jalannya mas" lengan Bagas di tarik cepat menghindari motor yang lewat dengan kecepatan tinggi


Itu awal berjumpa dengan Nina. Dan perkenalan singkat mereka. Hari itu di pagi hari


"Eh, iya. Makasih banyak mba ....?" Bagas mencoba bertanya nama kepada Nina


"Sama-sama. Lain kali hati-hati kalau jalan jangan sambil lihat HP" Nina malah menceramahi, tidak peka bahwa Bagas menanyakan namanya


Bagas hanya bisa tersenyum kecut


"Saya Bagas, kerja di percetakan itu. Mba nya namanya siapa?" Bagas menunjuk gedung percetakan miliknya


"Nina, saya kerja di Coffee Shop seberang. Mampir mas, cobain kopi kami. Rasanya bakalan nagih" Jiwa marketing Nina keluar


Lalu perjumpa ke dua kalinya di hari yang sama saat siang hari dengan cara yang memalukan. Niat hati dan raganya mau masuk ke toilet, alih-alih masuk ke toilet pria. Ia malah masuk ke toilet perempuan. Tidak menyadari tatapan tajam mata para penghuni toilet dan tetap masuk ke dalam bilik toilet


"ORANG MESUM"


"akhhh..."


Jeritan para penghuni toilet bersautan. Beberapa kata hujatan pun terdengar. Bagas yang baru tersadar akan keadaan mematung syok. Itu hari apes miliknya, sudah toilet di gedung percetakan miliknya rusak dan masih di gunakan pegawai nya. Terpaksa ia meminjam toilet minimarket sebelah percetakan nya.


"Maaf...maaf... Salah saya." Suara salah satu perempuan yang baru keluar dari salah satu bilik toilet membela Bagas, Nina lah perempuan tersebut


"Maaf ya mba-mba semua, pacar saya ini. Mungkin dia pikir toilet nya cuma ada saya" perempuan itu dengan nada bicara sopan dan lembut menundukkan badan dan kepalanya memohon maaf


Bagas benar-benar kehilangan kata-kata dan kemampuan bergerak. Akhirnya lengannya di tarik oleh perempuan yang membelanya tadi keluar dari toilet. Keinginan nya untuk membuang hajat hilang entah kemana.


"Mas..." di goyangkan lengan Bagas lembut


"Mas Bagas baik-baik saja?" ia menatap mata Bagas penuh khawatir


Bagas hanya mampu mengganggukkan kepala


"Toilet pria itu disana Mas"


Bagas pun akhirnya masuk ke dalam toilet pria.


Setelah menyelesaikan membuang hajat nya, Bagas keluar dengan menundukkan kepala malu.


"Makasih ya Bro" Bagas berterima kasih kepada pegawai minimarket yang memang sudah ia kenal

__ADS_1


"Sorry ya bikin gaduh"


"Santai"


Perjumpaan ketiga mereka di hari yang sama saat malam di pelataran minimarket yang sama. Masih sama dengan cara yang memalukan. Bagas masih saja tersita perhatian nya kepada handphone miliknya, duduk di meja dengan mie dan cemilannya yang ia beli di dalam minimarket. Mengganjal perutnya sementara. Tentu saja tanpa menghiraukan lingkungan sekitar. Bagas memakan camilan hingga tandas dengan mata yang terpusat di layar Handphone.


"Ehmmm..." deheman seseorang menarik perhatian nya


Mata Bagas melebar melihat perempuan yang sudah dua kali menolong dan membantu nya. Duduk di samping nya dengan pandangan mata yang tajam


"Maaf mas Bagas, itu makanan punya saya. Punya mas Bagas ada di meja sebelah itu"


Bagas bolak-balik melihat ke meja di depannya dan meja di samping nya, berulang kali. Kembali Bagas kehilangan kata-katanya. Rupanya Bagas kembali ceroboh, menaruh makanannya di meja samping namun duduk di kursi sebelah.


Itulah satu hari Bagas dan Nina berkenalan dengan cara yang unik. Serangkaian kejadian itu membuat mereka menjadi lebih dekat, dan Bagas menyadari dirinya tertarik kepada Nina.


*


Cring


Cring


Cring


Pintu terbuka dan kembali tertutup menimbulkan goyangan dan membuat lonceng kecil di atas pintu berbunyi.


"Selamat datang~"


"Malam mas Bagas, tumben pakai jas" Nina menyapa dengan sopan dengan senyum teramah miliknya


"Habis meeting ketemu klien kelas kakap"


"Pesan yang biasa ya Nin" Bagas mengedipkan sebelah matanya menggoda Nina


"Siap Mas"


Alih-alih ekspresi bahagia yang diberikan Nina, malah punggung yang diberikan. Nina acuh dan sibuk membuatkan kopi pesanan Bagas


'Yah...di kacangin lagi' dengan langkah gontai menuju meja di pojok ruangan dekat dinding.


Tempat favorit Bagas duduk, karena dari meja itu ia bisa dengan leluasa melihat Nina dengan kesibukan nya.


'Nin, lihat ke sini dong'


'Senyumnya cukup buat aku saja'


'Mood booster ku'


Bagas bukanlah laki-laki kikuk bila berhadapan dengan lawan jenis. Ia sudah sangat sangat dan sangat sering menggoda, menebar pesona dan mengajak nge-date Nina. Namun respon Nina selalu biasa saja terhadapnya, padahal dengan sepenuh hati semua usaha itu Bagas lakukan.


*


'Pala gw pening lagi, bis di cuekin Nina'


Bagas keluar dari gedung percetakannya dengan langkah gontai tidak bertenaga.


"Baru pulang Mas Bagas" Sapa Rahmat salah satu Security

__ADS_1


"Iya pak" Bagas merogoh dompet miliknya dan mengeluarkan beberapa lembar uang


"Buat kopi ma cemilan. Bareng-bareng ya" Di serahkan lembaran rupiah itu


"Wah makasih banyak Mas"


Bagas memandang gedung Coffee Shop di seberang jalan, sudah gelap dan sepi. Menandakan bahwa sudah tidak ada siapapun di sana.


huff


Helaan nafas panjang Bagas keluarkan. Hari ini ia hanya sebentar bisa melihat Nina, mood booster nya. Karena Karen datang mengganggu dengan pembicaraan tentang pekerjaan.


Bagas mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang. Jalanan Ibukota di malam hari lumayan lenggang.


Bagas menajamkan penglihatan nya, di ujung jalanan ia merasa melihat ada sepeda yang melawan arah. Ia seperti mengenal sosok tersebut juga. Dibelakang nya terlihat ada yang mengejarnya. Sebuah sepeda motor.


cittt


"NINA!!!"


"Masuk mobil cepat"


Nina melompat cepat, melepaskan diri dari sepeda nya dan masuk ke dalam mobil lewat pintu belakang. Bagas dengan cepat menekan pedal gas setelah merasa Nina sudah masuk dan berlindung kedalam mobil. Di tinggalkan sepeda milik Nina dan membelah jalanan.


Bagas mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Motor yang mengejar tadi masih terlihat di kaca spion dalam, walaupun jaraknya semakin menjauh. Bagas dengan mobil sport miliknya yang memang bisa biasa ia ajak mengebut dalam kecepatan tinggi memudahkan untuk lepas dari kejaran.


"Nin, kamu baik-baik saja?"


"Iya, makasih banyak Mas Bagas" terdengar suara Nina yang ngos-ngosan dengan bergetar


"Semua pasti akan baik-baik saja" Bagas meyakinkan


Mobil memasuki jalan TOL, Bagas tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


*


"Kamu sekarang tidur di sini dulu ya" Nina memandangi jejeran rumah-rumah yang tanpa pagar depan dengan taman-taman di muka halaman masing-masing, lalu memandangi rumah minimalis modern di hadapannya.


"Terima kasih banyak ya Mas" suara Nina bergetar menahan tangis


Bagas merangkul pundak Nina, mengelus-elus lembut. Menyalurkan kekuatan kepada Nina. Di tuntunnya masuk ke dalam rumah.


Dengan bantuan mba Ratih ART nya. Bagas menitipkan merawat Nina di kamar.




❤️ Minta like jempolnya ya kakak 👍



❤️ Terima kasih banyak ❤️



Bersambung 😉

__ADS_1


__ADS_2