Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
bab II 19


__ADS_3


Bagas terpaksa harus berganti pakaian kembali setelah di kerjai Ratih -menciprati air berkali-kali- dan saat ini menunggu Ratih yang masih sibuk menyiapkan bekal makanan.


"Lain kali Den, jangan suka teriakan tengah malam. Gimana kalau pas security yang denger bisa jadi kasus toh. Mbok eling wiz tuo*"


(Coba sadar sudah tua)


"Memang yang sudah tua saya apa mba ratih?" Ledek Bagas


"Bocah gendeng dikandane wong tuo"


( Anak sin-ting di bilangin orang tua)


"Kan ngaku sudah tua"


"Dah ini bekel makanan buat non Nina, insyaallah cukup sehari ini. Den Bagas ngomongnya dadakan gak sempet beli sayur yang ada aja, jadi gak banyak makanannya. Besok baru tak bikinin makanan yang bisa di simpen seminggu" Ratih sewon membanting pelan tempat makan di meja island dapur


"Cepetan halalin den. Sana ketemu pakle bulik Gunarto juga pakle bulik Broto. Biar jadi wali pas ngelamar. Mosok ngelamar cuma bawa diri sendiri... Ngisinne wae*" Ratih mengingatkan


(Malu-maluin)


Bagas menggaruk tengkuknya, tertohok ucapan Ratih. Ia tidak kepikiran sampai kesana, memberitahukan juga meminta adik-adik ayahnya untuk menjadi wali nanti ia melamar Nina.


"Kan...mesti gak mikir sampai situ toh... Den bagas... Den bagas... " Ratih geleng-geleng kepala


"Hehehe" Bagas hanya bisa cengengesan


*


Tok


Tok


Tok


Bagas mengetuk pintu Coffee Shop setelah sukses melewati jalanan padat merayap di pagi hari karena kesiangan. Walaupun terhitung kesiangan namun ini masih tergolong pagi untuk Coffee Shop buka. Dan di depan pintu inilah Bagas sudah berdiri bersama tas jinjing berukuran besar di tangan kirinya.


Srett


Tirai tipis yang menitupi semua bagian kaca di Coffee Shop di buka dari dalam oleh Leni. Ia yang bertugas untuk membuka pintu setiap paginya.


"Eh pak boss sudah datang, pagi pak boss" Leni menyapa sambil membukakan pintu untuk Bagas


"Pagi len, rajin nih. Nina diatas ya, saya naik ya" Bagas menjawab sapaan Leni dan bergegas masuk


"Iya masih ada di atas pak boss" Leni menjawab sambil menutup kembali pintu dan menguncinya, belum jam operasional takut ada pelanggan nyelonong masuk


"Tirainya buka aja semuanya Len, biar matahari pagi masuk" Bagas memberikan perintah di anak tangga sebelum naik


"Siap Boss" Leni memberikan hormat layaknya menghirmati bendera merah putih


Bagas berlalu naik dengan cengengesan melihat tingkah Leni


'ada-ada aja kelakuan'


Butuh ekstra kekuatan saat ini untuk Bagas menaiki tangga karena bawaan yang ia bawa lumayan besar dan berat. Ratih memaksa membawa beberapa makanan yang ia beli dadakan untuk melengkapi makanan yang ia masak


"Kasian toh den, di kasih makan sedikit. Biar bisa makan sama-sama temannya juga, nti dikira pelit" ucap Ratih saat memasukkan beberapa makanan yang ia beli dadakan di warung makan depan komplek perumahan


'kayaknya gue butuh banyak olah raga ini, dah lama banget gak nge-gym' nafas Bagas sudah mulai tersengal-sengal menuju lantai 3


'Akhirnya sampai' Bagas audah berdiri di depan pintu ruangan huni.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Manjaga kesopanan Bagas mengetuk pintu lebih dahulu sebelum di izinkan masuk.


"Iya?" Ada suara menyapa dari dalam dan Nagas tahu suara siapa itu dari senyuman yang mengembang di wajahnya, itu suara Nina.


'Nina my mood booster' Hanya mendengar suaranya dada Bagas menghangat dan mengalir ke seluruh tubuhnya


"Ya.." Nina membuka pintu yang memang tidak di kunci


"Mas Bagas" Nina membelalakan matanya terkejut melihat Bagas sudah rapi berdiri gagah di depan matanya


"Pagi Nina, gimana tidurnya nyenyak? Calon imam mu sudah datang" Bagas menyapa dengan senyum menggoda dan kerlingan matanya juga merentangkan kedua tangannya


Nina membeku melihat tingkah Bagas, wajahnya memerah merona malu-malu


'ikh... Malu.... Calon imam aku...'


'aih... Mood booster ku bisa malu-malu kucing lucu begitu. Jadi pengen peluk... Tapi takut di hantam panci'


"Ini dari calon mertua" Bagas menarik tangan Nina agar menggenggam tali tas jinjing yang ia bawa, namun Bagas tidak melepaskan genggaman tangannya di tas karena Bagas tahu betapa beratnya tas yang ia bawa.


"Makanan buat kamu, yuk taruh meja dulu. Ini berat kita bawa sama-sama biar ringan. Sama kayak rindu berat tapi karena kita sama-sama jadi ringan" gombalan Bagas beraksi


'jadi kehilangan kata-kata... Serangan mas Bagas bikin aku malu... Tapi aku senang...'


Nina dengan wajah yang masih memerah merona malu, dengan cekatan mengeluarkan isi dalam tas jinjing dan menjejerkan di atas meja makan


"Astaga Mas Bagas.... Banyak banget ini"


"Dari mba Ratih, bisa buat rame-rema atau gak kamu simpan di kulkas. Jadi kamu gak usah keluar pertokoan buat nyari makan. Dari pada ketemu mantan trus kamu takut lagi"


"Makasih banyak ya Mas Bagas" Nina menggenggam tangan kanan Bagas, berterima kasih dengan tulus


"Kan sebagai calon imam kamu harus beginilah" goda Bagas


*


*


Nina kembali bekerja dengan tekun di Coffee Shop. Walaupun tugasnya sudah berkurang banyak -dari barista menjadi Manager- tapi tanggung jawabnya malah makin besar. Ia tidak lagi menjadi barista namun tetap membantu melayani dan merapihkan meja kursi bila pegawai lain sibuk. Ia memperhatikan semua pelanggan juga pegawai dengan senyum ramahnya.


Saat sore hari Tono dan Rahmat datang ke Coffee Shop dengan seragam minimarket sebelah


"Sore Nin, sorry tadi pagi anak-anak gak jadi kesini. Lagi ada manager minimarket datang tadi sidak mendadak. Kalau minta kopi sekarang masih berlaku gak?" Dengan cengengesan Toni menyapa sambil melirik Leni yang sibuk


"Masihlah, malah kata mas Bagas bonus cake juga" Nina menjawab sambil menuju counter pemesanan


"Wizs beneran calon bu Boss nih" ledek Toni


"Hehehe, doain aja" Nina membalas, sedikit mencoba menyentil Rahmat -mantan gebetan yang menolaknya karena janda-


"Mau enam atau berapa nih?" Tawar Nina


"Wah beneran, kau boleh sepuluh sekalian ma kang parkir" Toni sumringah senang


"Leni..." Panggil Nina sopan


"Iya, bu" jawab Leni, selama jam kerja semua pegawai diwajibkan oleh Bagas memanggil Nina Ibu -untuk menghormatinya, penanda bahwa Nina atasan-


"Tolong bantu pesanan Toni ya, saya mau ke atas sebentar lihat pelanggan" Nina denga sengaja menyuruh Leni melayani pesanan Toni, hitung-hitung balas jasa. Soal mereka akan dekat atau tidak itu urusan mereka, yang terpenting Nina sudah membantu mendekatkan.


"Sama Leni ya Ton. Saya ke atas dulu, yuk rahmat" pamit Nina


Rahmat melihat kepergian Nina dengan wajah sendu.


"Memangnya bener ya Nina pacaran sama mas Bagas?" Rahmat keceplosan bicara, ia menyesali ucapannya.

__ADS_1


Toni dan Leni memandang aneh tingkah Rahmat, terutama Toni yang tahu bagaimana Rahmat pernah dekat dengan Nina namun menjauh tanpa alasan yang Toni tahu.


"Iya, kan calonnya mas Bagas. Nunggu undangannya aja doain." Leni menjawab sambil memasukkan beberapa cake ke dalam box


"Beneran?" Toni kepo


"Beneranlah, buktinya Coffee Shop ini. Kan sudah di beli mas Bagas buat Bu Nina kelola" Leni menatap wajah Rahmat, ia iseng menunggu reaksi Rahmat. Karena sebenarnya ia pun tahu juga kedekatan Rahmat dan Nina, walau harus bersikap seperti orang lain yang tidak kenal setelahnya.


Rahmat menampakkan wajah canggungnya, ia bingung dan kehilangan kata-kata


"Ooo" hanya itu yang ia bisa suarakan


"Doain aja biar lancar sampai SAH..." Leni kembali sibuk dengan gelashgelas kopi yang sudah di buat Anka -barista pengganti Nina-


"SAH... kalau kita kapan Len?" Goda Toni


"Kalau berani ketemu orang tua saya langsung lah" tantang Leni dengan wajah merah merona


"Kuy lah" Toni menyanggupi


Rahmat tidak menggubis cara PDKT Toni ke Leni, lebih ke acuh tak peduli. Ia agak sedikit merasa nyeri di hatinya, mendengar kedekatan Bagas dan Nina. Sedikit menyentil egonya -harga dirinya-


"Mas Bagas tahu Nina itu janda?" Tanya Rahmat kepada Leni yang masih sibuk dengan percakapannya dengan Toni, ia tidak peduli jika pertanyaannya mengganggu PDKT Toni.


"Tahulah" jawab Leni diplomatis, padahal ia tidak tahu. Leni bisa menangkap rasa tidak suka Rahmat akan kedekatan Bagas dan Nina


'apa coba maunya nih cowo, perasaan dulu sok gak kenal bisa akrab banget sekarang malah sok begini. Iri bilang boss' maki Leni dalam hati


"Nah, ini pesenannya. Selamat menikmati, terima kasih" Leni menyodorkan 3 kantung plastik berisi kopi dan cake


"Terima kasih kunjungannya, selamat jalan sampai tujuan. Di tunggu kunjungan-kunjungan berikut" Leni memamerkan senyum ramah profesional yang biasa di berikan kepada pelanggan


'sana pergi jangan kemari lagi minta gratisan, dasar cowo baperan' maki Leni kepada Rahmat


Toni menerimanya dengan enggan, dia agak kesal kepada Rahmat yang membuat Leni mengusirnya. Padahal tadi asyik ngobrol. Dengan wajah cemberut ia membawa sendiri tas plastik tersebut dengan dua tangannya


'gak setia kawan banget dah jadi orang' maki Toni saat Rahmat acuh tak menolongnya, Rahmat malah lebih dahulu keluar dengan tampang garang.


Toni menoleh setelah merasakan sentuhan di lengan kirinya, rupanya Leni mencolek-colek lengannya.


"Telpon aku ya, chat aku juga" Leni berbicara tanpa suara dan dengan gerakan tangan yang Toni paham maksudnya


*


Bagas menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Hari ini ia berencana untuk datang ke rumah adik ayahnya, pakle Gunarto dan besok baru ke rumah pakle Broto. Bagas akan mengikuti saran Ratih, meminta izin dan bantuan untuk melamar Nina.


Bagas mengirim pesan chat ke Nina, mengabarkan malam ini dan besok tidak bisa ke Coffee Shop dulu.


[Nina, calon makmum ku. Hari ini mas gak bisa ke sana ya, besok juga gak bisa. Mungkin lusa baru bisa ngecek, sekalian lihat kamu. Hati-hati jangan keluar sendirian. Kalau mau jajan delivery aja. Dari calon imam mu. Bagas ❤️]


Bagas bahkan menambahkan emoticon hati di akhir chatnya.


'Nina, I lope u pul' gurau Bagas dengan serius




Minta like jempolnya ya 👍



Terima kasih banyak ❤️



Bersambung 😉

__ADS_1


__ADS_2