
21
Tok
Tok
Tok
"Nin... Ada apa Nin?" Suara Tati diselingan ketukan pintu
"Nin... Baik-baik aja kan? Ini Tati Nin... Buka pintunya" pinta Tati dengan penuh khawatir, ia baru kembali dari bekerja dan baru saja membuka pintu ruangan mendengar suara jatuh kencang yang mengagetkan ia di sela rasa lelahnya. Suara itu berasal dari kamar Nina, saat ia mendekat dengan capet malah terdengar suara pintu di kunci dengan tergesa-gesa lalu kembali terdengar bunyi dentuman keras. Lalu bagaimana ia tidak khawatir akan keadaan Nina.
"Nina... Buka pintunya nin... Ini Tati... Nin kamu baik-baik saja?" Tati makin khawatir tidak ada jawaban dari dalam kamar
Mina yang kamarnya di sebelah kanan Nina membuka pintu kamarnya, ia terbangun karena ketukan pintu dan suara Tati.
"Ada apa Ti?" Mina mengucek-ngucek matanya, -nyawanya belum terkumpul sempurna masih berceceran di alam mimpi- di sandarkan kepalanya di kusen pintu kamarnya memandang Tati
"Tadi ada suara nge-debug gitu dari kamar Nina, pas di semperin malah pintunya di kunci terus nge-debug lagi" Tati menjelaskan dengan bahasanya
Mina yang memang belum sadar sempurna -setengah ngantuk- menghampiri, ia belum mencerna perkataan Tati. Di ketuknya pelan pintu kamar Nina
"Bu boss Nina..." Di goyangkan handel pintu kamar Nina, mencoba membukanya. Namun terkunci
"Dah tidur kali orangnya Ti" Mina mengedipkan matanya, bertarung dengan rasa kantuknya.
"Tapi suara nge-debug apaan itu? Saya takut Nina kenapa-napa aja Min" Tati menggoyangkan lengan Mina, mencoba membangunkannya
"Pada kenapa?" Leni menyapa Tati dan Mina, ia baru saja pulang nge-date bareng Toni makan di angkringan. Baru membuka pintu ruangan sudah di suguhkan dua orang temannya yang berdiri di depan kamar bu boss nya
"Tau nih Tati" Mina sewot cemberut, ia benar-benar mengantuk
"Tadi ada suara nge-debrug dari kamar Nina Len, saya takut kenapa-napa sama Nina. Saya ketuk malah di kunci dari dalam" Tati bercerita sambil mempraktekkan melompat hingga terdengar suara gaduh
"Masa sih?" Leni sangsi
"Ini dari tadi di ketuk gak dibukain, takunya dia jatuh trys pingsan gimana?" Tati mulai menakuti
"Ntar, saya cari kunci cadangan kamar" Leni menuju bufet TV tempat semua kunci-kunci pintu Coffee Shop beserta cadangannya. Ia tidak tahu kunci mana yang merupakan anak kunci kamar Nina, di bawanya semua kunci untuk mencoba
"Misi" Leni mendorong Mina yang tidur berdiri di depan pintu Nina. Di coba satu persatu kunci di lubang kuncinya. Dan beberapa saat akhirnya bunyi suara kunci membuka pintu
Klik
"Nina...." Tati paling pertama masuk
"Bu boss" Leni ikut masuk
Beberapa detik mata mereka mencoba beradaptasi dengan ruangan kamar yang tanpa cahaya, dan sadar ada orang dalam selimut. Selimut itu bergetar-getar pelan dan ada isakan tangis, suara Nina.
__ADS_1
"Nina, kamu kenapa Nin?" Tati langsung menyibak selimut yang menutupi tubuh Nina.
Nina meringkuk menangis, memeluk dirinya sendiri. Isakan tangisnya membuat tubuhnya bergetar pelan.
"Ada aku Nin, semua baik-baik saja" Tati mengangkat tubuh Nina hingga terduduk dan memeluk Nina erat.
Leni bingung, bingung apa yang telah terjadi dan bingung harus bersikap. Mina masih tidur berdiri bersandar di dinding depan kamar Nina.
"Semua baik-baik saja Nin, istighfar" Tati berbisik di telinga Nina lembut sambil mengusap-usap punggung Nina.
Tati beristighfar dan Nina mengikuti hingga beberapa kali sampai Nina tenang. Leni keluar kamar dan membawakan teh hangat untuk di minum Nina.
"Makasih" Nina menerima cangkir dan meminumnya sedikit
"Aku takut Ti, Budi ketemuin aku" rengek Nina
"Ada aku, dia gak akan bisa macam-macam. Nanti kita lapor polisi. Semua baik-baik saja" Tati memeluk Nina lagi dan mengelus kepala Nina
*
*
Sore tadi setelah dari Coffee Shop, Rahmat pergi. Ia tidak membantu Toni membawakan kopi traktiran dari Nina, juga tidak kembali ke minimarket. Shifnya sudah selesai dan entah kenapa hatinya panas setelah mengetahui hubungan Nina dan Bagas. Ia sedikit kecewa dan sedikit patah hati. Bagaimana seorang Nina yang janda bisa mendapatkan Bagas pemilik percetakan besar. Ia tahu bahwa ialah yang menolak Nina saat tahu bahwa Nina seorang janda, ia malu bila memiliki pacar atau bahkan istri seorang janda. Karena rasa gengsinya lebih tinggi daripada rasa sayang kepada Nina.
Rahmat berjalan tidak tentu arah, ia tidak tahu mau kemana. Yang ia tahu hanya pergi menjauh sebentar dari daerah pertokoan. Menghilangkan rasa panas di hatinya. Akhirnya ia memutuskan untuk duduk di taman. Awalnya ia ingin membakar tembakau tapi rupanya ia tidak membawa rokok, dan dilihat di ujung taman ada tukang asongan sepeda penjual minuman, biasanya menjual rokok juga.
"Sebatang aja bang, pinjem koreknya" Rahmat memberikan uang kepada pedagang
"Woi..." Protes pedagang tersebut
"Lo yang malam-malam ngejar-ngejar Nina trus ngancem-ngencem ya kan?" Rahmat tersenyum miring sambil sesekali memainkan alis matanya
"Siapa lo?" Pedagangnya sewot
"Woles bro" Rahmat mengangkat kedua tangannya layaknya orang menyerah
"Gw tahu ada dimana Nina, dan gw bisa kasih tahu lo. Itu juga kalau lo mau" di hembuskan asap putih ke wajah pedagang
"Apa untungnya buat lo?" Tantangnya
"Bantu orang lah... Kan lo nyari-nyari Nina, gw tahu, ya gw kasih tahu. Kalau lo mau"
"Ada dimana dia?" Suaranya makin naik
"Syaratnya lo jangan seret-seret gw kalau ada masalah, gimana?" Rahmat mengulurkan tangan kanannya
"Deal" di balasannya jabatan tangan Rahmat
"Coffee Shop Arleen, dia jadi manajer disana. Calon lakinya yang punya percetakan di seberangnya, bujang lapuk belum nikah-nikah padahal dah tua" Rahmat meludah ke samping karena kesal. Perasaannya begitu kesal akan kedekatan Nina dan Bagas, apalagi saat ini ia harus menceritakan lewat mulutnya sendiri. Makin bertambah kesal.
"Serius lo?" Ada nada tidak percaya dari pertanyaannya
__ADS_1
"Terserah lo mau percaya atau gak. Gw dah gak ada urusan lagi." Di angkat kedua bahunya acuh, lawan bicaranya memandang dengan tatapan mata sinis
"Ini anggap bonus buat gw" Rahmat mengambil sebuah cemilan dan hendak pergi
"PABU*, nama lo siapa hah?"
(Umapatan kasar aratinya @njing)
"Lo gak usah tau, sama kayak gw gak mau tau nama lo siapa. Walaupun gw tahu lo siapanya Nina" Rahmat menoleh dengan senyum miring merendahkan
Pedagang itu, tak lain Budi -mantan suami Nina- memandang Rahmat yang berlalu dengan kesal. Ia kesal karena di remehkan juga karena informasi yang di berikannya tentang Nina.
'L*nte itu hebat sekali bisa jadi manajer dan dapat bujang lapuk kaya. @su' maki Budi
Malamnya karena rasa penasaran, Budi mendatangi Coffee Shop tempat Nina bekerja. Awalnya ia ingin masuk dan mengganggunya, namun di urungkan. Ia malu akan penampilannya sekarang dibandingkan dengan para pengunjung, juga disana terlalu ramai. Ia takut, bisa saja di keroyok masal.
Budi hanya memperhatikan Nina dari parkiran, lewat jendela-jendela kaca. Setelah menghabiskan satu batang rokok, ia berlalu mencari ide agar bisa membalaskan dendamnya kepada Nina.
Ia sebenarnya begitu mencintai Nina hingga membuatnya khilaf berjudi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan mertuanya yang selalu meminta uang padanya. Setelah kalah berjudi ia kerap mabuk dan tanpa sadar melampiaskan kekesalannya dengan memukuli Nina. Ia akan selalu merasa bersalah setelah sadar dari mabuknya dan Nina selalu akan memaafkannya tanpa dia meminta maaf, hingga akhirnya ia berpikir bahwa Nina mencintainya apapun yang terjadi. Tapi anggapannya salah, setelah empat bulan menikah malah meminta cerai kepadanya. Ia merasa Nina membohonginya, berbohong mencintainya namun palsu. Hingga akhirnya mereka bercerai dan muncullah dendam dalam hatinya karena kemarahan.
Budi berjalan hendak kembali ke rumah kontrakannya, namun melihat Rahmat yang keluar dari minimarket. Muncul ide di kepalanya. Di kejar langkah kaki Rahmat, merangkul pundaknya dan mensejajarkan langkah.
"Bro, nomor Nina dong" Budi menodong Rahmat dengan handphone miliknya
Rahmat terkejut bukan main, ia mencoba melepaskan rangkulan Budi. Di menatap ke kanan dan ke kiri.
"@su*, jangan disini dong. Tar gw ketahuan. Ikut gw, jaga jarak jangan deket-deket" rahmat mendorong Budi dan berlari menjauh dari area pertokoan
(Umpatan kasar artinya @njing)
Budi menyerah mengikuti perginya Rahmat. Sampai akhirnya mereka berada di taman yang tadi awal mereka bertemu.
"B@ngke lo, ngagetin gw aja. Gw dah bilang jangan bawa-bawa gw lagi." Rahmat mendorong tubuh Budi
"Nomor Nina bro" disodorkan handphone miliknya ke Rahmat, Budi menahan amarahnya setelah di dorong rahmat. Ia ingin sekali membalas dan menghajar Rahmat hingga babak belur.
'sabar, tunggu waktunya lo habis sama gw b@ng-s@t' maki Budi
Jangan lupa like jempolnya ya 👍
Terima kasih banyak ❤️
Bersambung 😉
__ADS_1