
Siang ini Budi janji bertemu dengan Anton di kantor Pengacara milik sepupu Bagas, dan Budi sudah tahu itu dari mulut Anton yang sempat mengancamnya saat ia masih bersikap keras kepala soal masalah Nina.
"Siang, saya Budi. Ada janji ketemu pak Anton" Budi berbicara kepada resepsionis kantor. Ia baru pertama kali datang ke gedung pangacara yang tampilannya seperti gedung mewah. Dulu ia juga sempat menyewa pengacara saat di gugat cerai Nina, namun tampilan gedungnya seperti langit dan Bumi, jauh berbeda. Nyalinya semakin ciut, ia salah berurusan dengan orang.
"Pak Anton sudah menunggu di lantai 3 ruang 2 ya Pak. Saya boleh meminta KTPnya dulu pak" Resepsionis menjawab setelah mengecek melalui komputer jadwal semua Pengacara
"Untuk apa ya mba?"
"Formalitas pak, KTPnya sementara ditaruh disini sebagai jaminan kartu tamu ini. Karena semua akses masuk harus dengan Kartu" Resepsionis menunjukkan kartu tamu kepada Budi. Akhirnya Budi mengikuti aturannya dan dapat masuk ke dalam.
Awalnya ia agak kebingungan karena ada beberapa pintu lift yang berbeda-beda bentuk pintunya. Seorang security menghampiri Budi
"Siang pak, hendak kemana, bertemu siapa?" Dengan ramah Security bertanya
"Mau ketemu pak Anton, katanya lantai 3 ruang 2"
"Baik, lewat sini pak. Ini pintu liftnya, tempel kartu disini baru lift bisa di gunakan. Ruang 2 ada di sebelah kiri ya pak. Silakan" Security memberikan pengarahan singkat. Dan Budi mengikutinya dengan gugup dan canggung
Setelah sampai di lantai yang di tuju, pintu baru di buka sudah ada Anton berdiri di depan pintu lift layaknya menyambut kedatangan Budi
"Pak Anton" sapa Budi segan
"Eh, pak Budi sudah sampai. Baru saya mau turun nunggu di bawah" Anton basa-basi
"Sekarang saya gak nyasar lagi pak, naik ojol jadi gak nyasar"
"Ya sudah ayo kita masuk keruangan" Anton memimpin jalan dan Budi mengikuti
*
*
Suasana Coffee Shop sudah kembali kondusif, ya walau masih ada yang penasaran akan gosip-gosip miring tentang Coffee Shop. Penasaran adalah hak seluruh manusia.
Namun dengan memanfaatkan momen saat banyak yang penasaran, Nina memberikan banyak promo menarik di Coffee Shop. Salah satunya adalah, buy 3 get 1 (beli 3 gratis 1) khusus dine in. Juga promo 10% untuk pembelian min. Rp 100.000 khusus dine in (makan ditempat). Alhasil makin ramailah Coffee Shop, strategi ini sebagai pemanggil pelanggan baru. Dengan ramainya pengunjung menjadi iklan tersendiri bahwa kopi di Coffee Shop Arleen bercita rasa sempurna hingga banyak yang datang.
Maria hari ini datang kembali ke Coffee Shop, ia masih mendendam dengan Nina. Ia masih belum mendapatkan penjelasan apapun dari Angga, hingga salah pahamnya masih berlanjut. Ditambah lagi dengan dibelinya Coffee Shop oleh adik mantan selingkuhan Angga, Bagas. Dan yang membuatnya makin bertambah dendam Nina menjadi manager Coffee Shop dan berita bahwa Nina memiliki hubungan khusus dengan Bagas.
Maria merasa bahwa Nina seperti lon-te, dari satu pria ke pria yang lain untuk bisa mendapatkan harta tanpa susah payah. Sedangkan ia harus menerima getah kelakuan Nina, suaminya Angga menggugat cerai kembali. Coffee Shop yang ia bangun dengan susah payah karena Angga tidak peduli dengan keadaan keuangan Coffee Shop, diambil alih dengan mudahnya dan berganti menjadi milik Bagas dan Nina kembali ada diantaranya.
Saat Maria memasuki Coffee Shop sudah menjadi pusat perhatian para pegawai, mereka semua mengikuti gerak gerik tingkah laku Maria.
Nina yang tidak ambil pusing dengan entah niat apa Maria datang. Tetap bersikap profesional, tersenyum ramah dan melayani semua pelanggan. Kebetulan Nina sedang memegang kasir, bergantian dengan Kayla yang sedang istirahat.
__ADS_1
"Selamat datang, sudah siap dengan pesanannya? Kami ada promo menarik kak, buy 3 get 1 khusus dine in atau akan ada diskon 10% setiap pembelian minimum seratus ribu rupiah. Jadi kakak mau kopi apa?" Nina menyapa ramah dengan sopan
"Astaga, sampai ada promo? Jangan-jangan kopinya gak enak ya" Maria memandang remeh Nina, ia segaja bersuara keras agar banyak yang mendengar
"Bagaimana kalau kakak coba dulu rasa kopi kami? kan kakak sudah hampir tiga hari selalu mampir kemari. Ada menu baru yang belum kakak coba, kakak mau coba? Saya jamin besok kakak akan datang lagi karena kopi kami" Nina tidak terpancing, ia tetap tersenyum ramah.
Maria mati gaya tidak bisa berkata-kata saat Nina menyentil soal dia yang sudah lebih dari tiga hari selalu datang ke Coffee Shop. Niatnya hanya untuk menghasut para pegawai agar menurunkan kwalitas dan sedikit demi sedikit membuat Coffee Shop bangkrut.
"Akh, karena kakak sudah tiga hari berturut-turut selalu datang kembali kemari, saya berikan spesial kopi terbaik kami gratis khusus untuk kakak cantik" Nina sedikit merayu.
'kita bikin kupon 5 kali beli kopi harinya berurutan gratis 1 gelas kopi spesial' Otak bisnisnya kembali berjalan
*
Maria dan Nina saat ini duduk berhadapan di ruang huni lantai 3. Sebenarnya Nina ingin di lantai 2 tapi private room sudah penuh terbooking. Nina merasa harus meluruskan salah paham di antara mereka. Awalnya Nina sudah merasa bahwa masalah antar mereka sudah selesai saat Angga menjual Coffee Shop. Dan sekarang Maria datang mencoba menghasut para pegawai dan pelanggan. Itu membuatnya tidak nyaman karena Coffee Shop ini milik Bagas dan ia yang bertanggung jawab.
"Hebat sekali, sampai dibuatkan tempat tinggal layaknya apartemen" Maria masih saja menyindir Nina, ia makin murka saat harus berbicara di ruang huni ini, seperti Nina sedang pamer kepadanya
"Biar gampang jual dirinya ya?"
"Saya langsung saja ya Bu Maria. Pertama saya bisa memperkarakan semua tingkah laku anda ke polisi, saya juga masih menyimpan pesan-pesan anda yang lalu juga bukti-bukti video dengan suara anda mencoba menghasut pegawai dan pelanggan disini. Kedua..."
Brak
"Lon-te!!!" Maria memukul meja, ia terpancing emosi. Ia memaki-maki Nina dengan amarah
Maria makin murka, ia berdiri menghampiri Nina. Ia hendak menampar wajah Nina, menyalurkan emosinya.
Belum sempat tangannya sampai di pipi Nina, ada tangan yang mencekal tangannya, menghalangi gerakannya.
"Ini masuk tindakan kriminal bu Maria" ucap Bagas, ia menghempaskan tangan Maria kasar. Bagas beruntung ia tepat waktu datang setelah mendapat pesan dari Nina soal kedatangan Maria. Nina ingin meluruskan salah paham agar tidak ada masalah dikemudian hari lagi, walaupun Bagas enggan bertemu dengan Maria. Ia masih ingat akan Ibundanya dulu yang sempat dianiaya oleh maria.
"Silakan duduk, kita berbicara layaknya manusia yang memiliki akal" Bagas mencibir
"Tapi jika anda tidak mau berbicara dengan baik-baik jangan salahkan saya memperkarakan anda ke jalur hukum, dan saya yakin pasti menang melawan anda yang bukan siapa-siapa" Bagas memperingatkan Maria yang hendak pergi.
Mendengar ancaman Bagas, maria memutar tumitnya duduk dengan wajah marah.
"Bicara apa lagi?" Bentak Maria
"Kedua, saya tidak ada affair apapun dengan pak Angga sama sekali. Hari itu saya diteror mantan suami saya dan diselamatkan oleh mas Bagas. Ketiga, saya tidak tahu menahu soal perpindahan kepemilikan Coffee Shop ini." Nina kembali menjelaskan dengan menekankan setiap kata
"Apa anda tahu kenapa suami anda membuka Coffee Shop di sini Bu Maria?" Tanya Bagas dengan mata menerawang
Maria hanya diam saja mencoba meredakan amarahnya
__ADS_1
"Suami anda membuka Coffee Shop ini hanya untuk bisa melihat kakak saya lagi, jika anda tidak tahu itu bu Maria. Dan saya sama seperti anda tidak suka akan hal itu, maka saya membeli Coffee Shop ini dari suami anda. Saya hanya ingin dia menghilang dari hidup keluarga saya termasuk anda."
"Seperti yang dikatakan oleh Nina, ia tidak ada sangkut pautnya dengan pengalihan kepemilikan Coffee Shop ini. Bahkan dia tidak pernah ada affair dengan Angga, hanya dengan saya dari dulu hingga sekarang ini"
"Jadi saya harap kedepannya, kita tidak usah saling bersinggungan. Kalau perlu saling menghilang dari kehidupan masing-masing"
"Di dalam hati kecil anda, saya yakin. Anda pasti setuju bahwa semua ini adalah salahnya suami anda. Jadi untuk apa anda melampiaskan emosi anda kepada saya ataupun Nina"
*
*
"Makasih banyak ya Mas Bagas, calon Imamku" Nina menggoda Bagas saat makan malam bersma di warung sate setelah selesai bekerja.
"Iya calon makmum" Bagas mengelus lembut rambut Nina
"Hari ini cape banget, tapi lega sudah selesai semuanya" Nina senang masalah dengan Maria sudah selesai, Maria berjanji tidak akan pernah muncul di hidup Nina ataupun Bagas. Bila bertemu pun akan menganggap tidak kenal.
"Masih ada dong Nina sayang" Bagas mencolek hidung Nina gemas
"Apa?" Tanya polong Nina
"Menuju halal" wajah serius Bagas membuat Nina merona merah malu-malu
"Aamiin" Nina mengaminkan
"Eh tapi, soal...."
"Si mantan sudah selesai juga" Bagas menyela perkataan Nina. bagas pun bercerita semua sesuai cerita Anton, bahwa Budi menandatangani surat perjanjian untuk tidak pernah lagi mengganggu kehidupan Nina. Budi juga sudah diberikan pekerjaan tetap dan rumah.
Nina menutup mulutnya, ia terkejut dengan kebaikan Bagas untuknya. Membantunya di masalah dengan mantan bos -Maria-, mantan suami dan keluarganya -Budi dan kedua orang tuanya- juga mantan gebetan -Rahmat-
*
*
Jangan lupa like jempolnya ya 👍
Terima kasih banyak ❤️
__ADS_1
Bersambung 😉