Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
Bab II 8


__ADS_3


Bunyi dering telepon Nina berbunyi, menandakan bahwa ada panggilan telepon masuk.


'Mas Bagas' Nina memandang layar telepon nya sebentar dan mengangkatnya dengan segera


"Iya Mas?"


"Kamu baik-baik saja Nin?"


Hati Nina menghangat mendengar Bagas mengkhawatirkan keadaan dirinya


"Baik mas Alhamdulillah, kenapa mas?"


"Gak ada apa-apa sih. Lagi ada tamu kamu di rumah ya? Mba Ratih kirim WA ke saya. Kamu yakin kamu baik-baik saja?"


"Iya ada Bu Maria datang. Lihat keadaan saya aja Mas. Maaf saya gak izin bawa tamu ke rumah Mas" Nina merasa bersalah membawa orang lain ke rumah Bagas, membuatnya sulit menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Maria.


"Saya gak masalah kamu bawa tamu kok, santai jangan di bawa pikiran ok. Tapi beneran kamu baik-baik saja? Maria ini istri pak angga ya?"


"Iya Mas, saya baik-baik saja. Benar bu Maria istrinya Pak Angga. Kok mas tahu?"


"Iya saya tahu, nanti mungkin saya ceritain. Tapi kamu yakin kamu baik-baik saja. Maria gak ngapa-ngapain kamu kan? Saya ada track record buruk dengan dia soalnya. Bahkan sebenarnya dia sudah dilarang masuk ke perumahan, diblacklist sama keluarga kami"


"Ooo" Nina sekarang sedikit paham situasinya.


'Pantesan tadi dia nyuruh ke pos security depan buat izinkan dia masuk'


"Saya dalam perjalanan pulang sekarang. Kalau kamu ada kesulitan sama Maria itu, lapor security biar dia diusir aja. Maaf saya benar-benar gak suka sama dia Nin"


"Iya Mas, maaf saya bawa orang yang gak di sukai mas masuk ke rumah mas. Ini kalau sudah selesai akan saya suruh pulang. Maaf sekali lagi ya mas" Nina makin merasa bersalah. Dirinya merasa keluar dari mulut buaya bertemu dengan mulut hariamu. Setelah selamat dari Budi, mantan suaminya malah bertemu masalah dengan Maria


"Saya gak marah sama kamu kok Nin. Saya cuma agak gak suka sama dia saja" Bagas mulai sebal jika harus memanggil nama Maria lagi dari mulutnya tapi ia tahan kesalnya agar tidak membuat Nina merasa bersalah


"Makasih banyak Mas. Hati-hati dijalan"


"Makasih buat apa sih Nin?"


"Semuanya mas. Kebaikan Mas ke saya"


Tawa Bagas terdengar dari seberang telepon


"Kan sudah saya bilang, saya lagi balas budi kamu yang pernah nolong saya di saat-saat yang memalukan itu loh, hehehe"


Nina ikut tersenyum menahan tawa ingat kejadian dulu saat pertama berjumpa dengan Bagas, kejadian yang terlalu berkesan.


"Iya, pokoknya makasih banyak Mas Bagas, hati-hati dijalan ya" Suara Nina bercampur dengan suara tawa

__ADS_1


*


Maria memperhatikan suasana rumah milik Bagas yang rupanya berubah banyak, jika dulu tampilan rumah itu bergaya Victoria sekarang berubah ke gaya minimalis modern. Bahkan taman di depan halaman rumah pun berubah banyak. Jika melihat sekilas pasti akan setuju bahwa ini rumah yang berbeda. Tanpa petunjuk jalan dari Nina, mungkin Maria tidak akan sampai ke rumah ini. Hanya berputar-putar saja karena di ingatan Maria hanya tahu wujud rumah lama milik Bagas.


Maria benar-benar dalam keadaan hati yang tidak baik. Dia ingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat dia datang ke rumah itu untuk melabrak selingkuhan Angga, suaminya. Bersama Ibu dan kedua mertuanya, yang berujung salah sasaran. Karena kejadian itu sempat membuat rumah tangganya di ujung perceraian, namun berhasil bersatu lagi karena ada bayi dalam rahimnya, ia hamil. Walaupun akhirnya bayinya meninggal di dalam kandungan sebelum melahirkan. Pukulan telak setelah kematian anak mereka membuat dirinya menyalahkan Angga dan kembali pernikahan mereka menjadi hambar.


'Dulu dengan gadis sok suci, sekarang dengan janda sok suci juga' maki Maria dalam hati lebih di tunjukkan kepada Angga, suaminya.


"Maaf Bu, kita duduk di teras saja ya. Maaf saya tidak bisa ajak masuk karena ini rumah mas Bagas. Saya tidak punya hak membawa orang luar masuk" Nina sungkan kepada Maria, dirinya dilema setelah tadi berbicara dengan Bagas di telpon. Bagaimana mungkin ia mengizinkan masuk orang yang di benci Bagas ke dalam rumah milik Bagas sendiri.


"Lalu bagaimana kamu bisa membuktikan kalau kamu tidak punya affair dengan suami saya kalau saya tidak bisa masuk melihat?" Nada suara Maria masih saja ketus tidak bersahabat


Nina bingung, berulang kali ia menghela nafas dengan berat.


'Astaga, Bu Maria berubah jadi Nenek sihir. Semburan nafas naga keluar tiap dia ngomong'


Setelah meminta izin kepada Ratih dan meminta maaf juga, akhirnya Maria di izinkan masuk ke dalam rumah.


Maria melihat-lihat rumah dengan tenang namun dengan wajah judes.


'Jadi benar ini rumah milik wanita j*lamg itu' Maria melihat foto keluarga Bagas yang berukuran besar di dinding ruang tamu


"Kamu kenal dengan cewe itu Nin?" Maria menunjuk gambar wajah Rheina


Nina menggelengkan kepalanya cepat


"Yakin kamu gak kenal?" Maria melipat kedua tangannya di depan dada


"Yakin"


"Kamu kenal Bagas dari mana?"


"Di depan parkiran minimarket sebelah Bu. Dulu mas Bagas asyik main Hp trus hampir ke serempet motor saya tarik dia. Dari situ kenalnya"


"Masa" ada nada meremehkan keluar dari nada suara Maria


"Bisa nanti kita konfortasi bareng mas Bagas"


Ratih datang dari arah dalam rumah membawa nampan berisi dua gelas minuman dan setoples cemilan. Ratih awalnya enggan menyuguhkan minuman ataupun makanan. Namun akhirnya ia menyuguhkan karena takut majikannya di cap pelit atau tidak ramah


"Silakan di nikmati Non" Ratih mempersilahkan tamu meminum minuman


"Kamu kenal saya?" Maria menunjuk Ratih


Ratih menggelengkan kepalanya, memang tidak kenal nama Maria, tapi ingat akan Maria dan kelakuannya dahulu.


"Yakin kamu gak tahu saya. Kalau begitu dimana gadis itu berada sekarang?" Maria menunjuk ke gambar Rheina lagi

__ADS_1


"Non Rheina ada di Belanda kerja di sana, sama suaminya juga tinggal di sana"


"Sudah menikah? Laki-laki mana yang mau sama bekasan?"


'mulut gak punya filter Bu?'


'Aslinya mak lampir rupanya, dulu casing nya ibu peri' sikap Maria merubah cara pandang Nina akan diri Maria selama ini


"MAKSUD ANDA APA?!" Ratih merasa tersinggung akan ucapan Maria yang menyinggung tentang majikannya


'Boleh hina saya tapi bukan anak-anak. Saya yang membantu membesarkan mereka selama ini bukan untuk di hina'


Maria makin terpancing


"L*nte itu sudah merayu suami orang, apa namanya kalau bukan bekasan kalau pernah merayu suami orang HAH!!!"


"Kalau tidak merayu dengan tubuh muda dan cantik tidak mungkin bisa merayu suami orang"


"Non Rhein gak pernah merayu itu Erlangga-Erlangga itu ya asal anda tahu. Erlangga itu yang ngejar-ngejar terus terusan Non Rhein. Bahkan berani langsung melamar kemari dengan membawa surat akta cerainya ke Tuan dan Nyonya baru bisa pacaran sama Non Rhein. Bahkan sebenarnya Erlangga-Erlangga itu yang ngebet pengen cepet menikah sama Non Rhein. Bahkan minta nikah agama dulu baru resepsi"


"Saya tidak pernah dan tidak akan pernah bercerai sama suami saya"


"Itu urusan kalian, lebih baik anda keluar dan pergi dari rumah ini atau saya harus panggil Security dan polisi lagi" Ratih benar-benar murka, ia tidak terima bila anak yang di besarkannya di hina dan di jelek-jelekkan, walaupun bukan ia yang mengandung dan melahirkan.


"Kamu saya pecat Nina" Maria keluar dari rumah kediaman Bagas dengan penuh kekesalan yang bertambah setelah mendengarkan bahwa Angga berani melamar dan menunjukkan akta cerai yang entah di dapat dari mana


'Apa selama ini bener-benar kamu penipu Angga?'


"Mba Ratih, saya minta maaf ya" Nina meminta maaf dengan sedikit isakan tangis. Ia syok menerima pemecatan dirinya langsung tanpa sebab yang jelas dari atasannya


"Non Nina gak apa-apa Non"


"Ya Allah Non jangan nangis lagi" Ratih memeluk tubuh Nina, di elus dengan lembut punggung Nina




Jangan lupa like jempolnya ya 👍



Terima kasih banyak ❤️



Bersambung 😉👍

__ADS_1


__ADS_2