
Sore pada pukul lima lebih, Aria memandang Izana heran begitu pula dengan bocah yang menemaninya. Jas? Sejak kapan Izana memakai pakaian kantoran.
“Abang lagi cosplay ya?” tanya Aria.
Izana paham apa yang membuat dia orang yang tengah makan gulali itu heran. Ya Izana tidak pernah berpenampilan serapi ini sebelumnya, dia begal!
“Ayo pulang.”
“Pulang ke mana?”
“Ke rumahku.”
“Hah? Jahat banget sih Abang! Tak mungkin kita jauh di saat ibu dalam keadaan seperti ini.”
“Sayang kita pulang ke rumahku bukan rumah kontrakan di kota sebelah.”
Aria mencoba mencerna. “Ja-jangan bilang Abang suda-”
“Iya,” potong Izana cepat.
Merinding bulu kuduk Aria, akhirnya tibalah saatnya dia bisa pamer soal pekerjaan suami dengan rasa penuh bangga.
Brug!
Aria memeluk Izana. “Huhuhu kenapa tidak dari dulu.”
“Maaf.”
Sementara satu bocah di sini tak mengerti apa yang mereka maksud. Biarkan saja, lagian Theo tidak begitu tertarik kecuali sesuatu yang berbau kasus.
“Kerna bang Izana sudah di sini aku pamit pulang ya.”
“Gak mau diantari?”
“Aku bisa naik Taksi.”
“Yakin? Nanti diculik lagi.”
“Hehe enggaklah, ini masih terang enggak kaya kemarin tengah malam.”
Theo pergi dengan gaya cool tapi tampak songong di mata Izana. Tangannya melambai dengan tubuh membelakangi, ck ck ck tapi tak dipungkiri Theo sudah banyak membantu Izana.
Bukannya senang Aria malah kecewa saat sampai di rumah yang dulunya ditempati oleh Adam dan keluarga.
“Ada apa?”
“Aku tidak mau tinggal di rumah ini.”
“Hah kenapa?”
“Itu itu dan itu, semua foto Putri. Rumah ini sudah dijelajahi oleh telapak kaki Putri, aku tidak mau tinggal di sini.”
__ADS_1
Ah benar juga, mendengar keluhan Aria Izana jadi ikut tidak berselara akan rumah yang banyak menyimpan kenangan buruk ini.
“Di apartemen bagaimana?” saran Izana.
“Tidak masalah di mana pun itu asal kan tidak ada bau bau keluarga mu di sana.”
Rasanya mustahil jika Aria akan menghormati keluarga Izana, kalian tau sendirikan bentukan mereka? Jangan katakan Aria sebagai wanita tak tahu diri! Jangan terlalu percaya diri mengubah mereka, Aria juga tahu yang bisa merubah mereka hannyalah diri mereka sendiri termasuk Izana.
Lihat kan? Bahkan Aria tidak memaksa Izana untuk berubah, dia sendirilah yang memutuskan. Aria memang tidak memiliki bakat sebagai guru sepersen pun.
\>\>\>
Sementara mereka menginap di hotel dulu sebelum menemukan apartemen yang pas. Untuk Ennie, Aria akan sering menjenguknya tapi tidak sampai menginap, di rumah sakit ada petugas sendiri untuk menjaga pasien.
“Bang?”
“Hmm”
“Bisa.”
“Masa sih? Engga percaya aku. Yang ada bentar lagi gulung tikar karena Abang yang jadi CEO-nya.”
“Ahaha abang bisa kembali menjadi begal lagi kalau itu terjadi.” Izana malah bercanda padahal Aria mengkhawatirkannya.
“Seriuslah Bang.”
“Tenang saja soal strategi abang ini jagonya, untuk hal lain bisa dibantu dengan sekretaris.”
“Sekretaris pak Adam?”
“Dia juga masih baru, katanya baru lima bulan kerja di sana.”
__ADS_1
“Cewek cowok?”
“Cewek.”
“Umur?”
“Du-dua lima”
“Selisih dikit dong dengan Abang!” Aria tidak bisa tenang, dari banyaknya cerita novel yang pernah dia baca, rata-rata bos selingkuh dengan sekretaris atau tidak sekretaris yang menjadi istri bos menyingkirkan istri pertama.
“Sayang kau terlalu banyak baca novel, jangan berpikir aneh-aneh.”
“Engga mau tahu, ganti!”
Engga heran Aria cemburu, dia takut Izana berpaling mengingat dia memiliki kekurangan besar sebagai seorang wanita.
“Ya sudah kamu aja yang pilihkan bagimana?”
“Ok sudah kuputuskan Zin akan menjadi sekretarismu.”
“Hah! Bukankah dia di perusahaan ibumu ya?”
“Sekarang bukan punya ibuku tapi Roni, kita ambil saja Zin, dia juga sudah pengalaman selama tiga belas tahun. Aku yakin dia akan sangat membantu Abang dari pada sekretaris lima bulan itu.”
Izana pasrah, tapi Zin memang pilihan terbaik. Izana harus memperkerjakan Zin.
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu
Author sangat berterimakasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.
__ADS_1