
Paginya Aria pergi ke warung buk Emi untuk beli telur, namun tidak sengaja dia mendengar teriakan Sari yang menangis di dalam.
“Aku belum mau nikah pokoknya enggak mau!”
Sekarang Aria mengerti kenapa ada keributan di dalam sana, Aria tidak mau ikut campur dia masih menunggu ibu Emi untuk melayaninya berbelanja.
“Aduh maaf ya ibu enggak tahu ada pembeli, mau beli apa Aria?” ujarnya yang baru keluar dari dalam.
“Telur Buk sepuluh ribu.”
Buk Emi mengambilkan beberapa telur, hingga datanglah Sari keluar dari dalam dengan pipi dibanjiri air mata. “Ibu tolong pujuk ayah, aku enggak mau dinikahi, aku enggak kenal.”
“Sepupu kamu sendiri loh, Sari.”
“Enggak mau! Ibu enggak mengerti aku.”
“Terima saja, dulu ibu sama ayahmu juga dinikahkan oleh kakekmu. Lihat tuh temanmu Aria, dia lebih muda dari kamu loh tapi sudah nikah.”
Merasa terpanggil Aria tersenyum kikuk merespons tatapan yang kini mengarah padanya.
“Aria?”
“Ehehe aku beli telur mau masak nasi goreng.”
“Cepat kasih telur Aria Buk! Aku mau main ke rumah Aria.”
“Ini Aria telurmu, tolong bantu pujuk Sari ya,” kata buk Emi sembari memberikan kantong plastik berisi telur.
“Apaan sih Ibu, yuk Aria kita pergi.”
Kini di meja makan ada tiga orang dengan Sari yang bergabung bersama Aria dan Izana. Sari makan dengan lahap tapi matanya tak berhenti menangis.
“Sar air matamu jatuh ke piring.”
__ADS_1
“Bagaimana ini Aria aku belum mau nikah, apalagi sama sepupu sendiri huhu.”
“Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa kali, Sar.”
“Ini sangat berat sebenarnya ada orang yang aku suka,” katanya sambil melirik Izana. Izana yang paham langsung ingin kabur, dia tahu Sari menyukainya, kabar Sari yang akan menikah cukup melegakan bagi Izana.
“Sayang aku mau pergi ke bengkel pak Ramli dulu ya.”
“Jam berapa pulang?”
“Hmm, iya,” jawab Aria dengan memasang wajah masam.
Cup.
Sebelum pergi Izana menyempatkan untuk mengecup kening Aria, itu sudah menjadi rutinitasnya sebelum keluar rumah.
“Enak ya kamu Ar, nikah sama orang yang dicintai. Aku iri dengan kalian.”
__ADS_1
“Ah? O-oh iya.”
Saling mencintai apanya? Dulu mereka hannyalah sepasang korban dan pelaku, tidak ada yang menyangka akan berakhir seperti ini.
“Izana kerja apa Ar? Aku lihat dia seperti sesuka hatinya saja. Kadang seminggu enggak kerja, kadang malam keluar entah ke mana, aku jadi penasaran.”
“Kamu memperhatikan suamiku ya?”
“E-enggak! Kan dia memang sering lewat depan rumah ku, ya aku lihatlah,” elaknya, padahal Sari memang sering memperhatikan Izana diam-diam.
“Dia seorang montir.” Aria sudah kebiasaan berbohong jika ada orang yang menanyakan soal pekerjaan Izana, bohong bukanlah hal yang sulit namun menyembunyikan ekspresi adalah tantangan yang sebenarnya.
“Sudah setahun mengenal kalian, aku baru tahu pekerjaan suamimu. Eng... jadi bagaimana imi tentang masalah aku,” rengeknya kembali.
“Bicara lagi coba sama ayahmu.”
“Ayahku keras kepala, kalau dia bilang A ya berarti A.”
“Kalau aku jadi Sari pasti sudah kabur hihi,” batin Aria mengingat masa lalu yang pernah terjadj, masa di mana dia sangat keras kepala dan pembangkang.
__ADS_1
Tbc.