
Pak Jakar keluar dengan raut marah dari ruangan Ennie, perjanjiannya dengan Ennie terpaksa batal dan tentu saja itu membuat pak Jakar tidak akan membantu Ennie.
Dengan perasaan yang sudah pasrah Ennie tersenyum memandang pemandangan di luar yang terdapat banyak gedung tinggi.
“Hah sudah saatnya roda takdir berputar,” tuturnya sendiri.
Tok tok tok
“Permisi Buk,” izin Zan membuka perlahan pintu bersama seorang tamu bersamanya.
Ennie berkedip beberapa kali tanpa bersuara ke arah Zan tanda ia bertanya siapa pria yang dibawa oleh sekretarisnya itu, Zan membalas dengan gelengan kecil tanda ia juga tidak tahu.
Si tamu yang mengerti komunikasi tak bersuara dari CEO dan juga sekretaris pun membuka suara. “Maaf, kedatangan tamu yang tak dikenal seperti saya pasti membuat Anda bingung. Saya Adam salah satu pemegang saham di grup x, bolehkah saya duduk?'
“Oh iya silakan Pak Adam, Zan tolong siapkan kopi.”
Setelah Zan pergi tinggallah dua orang ini duduk saling berhadapan. “Ada keperluan apa ya pak Adam kemari?” tanya Ennie terlebih dahulu.
“Saya berniat menanamkan saham di sini, Buk.”
“Tapi Pak perusahaan ini akan bangkrut, tidak ada untungnya bagi Bapak menanam saham di sini.”
“Apa Ibu begitu tidak percaya diri? Gunakanlah dana saya jika gagal maka gedung ini jadi milik saya, bagaimana?”
__ADS_1
Kesempatan tidak datang dua kali, Ennie tidak tahu apa pria di hadapannya ini memang bodoh atau dia memang memiliki rencana lain, tapi setidaknya untuk sekarang dia harus memanfaatkan peluang yang ada untuk tujuan pak Adam yang tidak jelas untuk apa biarlah itu jadi urusan nanti.
“Baiklah Pak saya setuju.”
Mereka saling berjabat tangan, kemudian Zan pun datang dengan dua gelas kopi dan meletakkannya ke meja.
“Ada yang lain buk?” kata Zan sebelum dia pamit untuk keluar.
“Buatkan surat kerja sama dengan Pak Adam.”
Zan tampak tak percaya apa benar bapak yang duduk itu ingin bekerja sama? aneh sekali bahkan gedung ini mendekati sekarat yang sebenarnya dengan para Investor yang menarik saham mereka.
Setelah Zan selesai mengetik surat yang sudah diberi mantrai buk Ennie dan pak menandatangani sepucuk kertas itu.
“Zan antarkan Pak-”
“Tak perlu Buk, saya sendiri saja.”
Pak Adam pun keluar, Ennie dan Zan saling bertatapan dan bernapas lega secara bersamaan.
“Ibu bapak itu enggak mabuk kan?”
“Enggak tahu, Zan.”
__ADS_1
“Bagaimana kalau dia ada rencana lain yang mungkin kita tidak tahu, Buk?”
“Hei perusahaan ini sedang kehabisan darah, kalau pun pak Adam ada rencana jahat, perusahaan ini juga pada akhirnya memang akan hancur tanpa niat buruknya, dia tidak mungkin mendorong kita ke jurang karena kita memang sudah berada di dalam jurang, ibaratkan dia adalah tim SAR yang mengulurkan tali untuk kita memanjat naik.”
“Oh iya juga ya Buk, kita kan sudah berada di jurang.”
.
.
Di sisi lain Adam berada di dalam lift seorang diri dengan sedikit memijat pangkal hidungnya. “Permintaan anak itu membuatku repot saja.”
Pak Adam mengambil HP-nya dan mengirim pesan pada seseorang.
[Sudah kutanamkan dana di perusahaan buk Ennie, apa sekarang kau merasa puas? Berhentilah memerasku]
Balasannya pun langsung masuk..
[Jangan sok merasa paling tersakiti, ini hannyalah masalah uang] ...
Balasan dari sosok yang membuat Adam tak berkutik itu membuatnya menggeram kesal. “Seandainya anak itu tidak ada mungkin hidupku sekarang akan tenang,” geramnya menyertakan gigi.
Tbc.
__ADS_1