
Orang-orang sudah bubar, mata Izana memicing tajam membuat Aria merinding.
“Kita ke rumah sakit dulu,” ucap Izana mengangkat tubuh Aria. Marah pun dia jadi tidak tega melihat keadaan Aria sekarang, lihatlah kening gadis itu juga ada benjol.
Sesampainya di rumah sakit.
“Tidak mau aku tidak mau dokter dokter itu, dia bau!”
Dokter seketika langsung mundur, dia mengendus tubuhnya sendiri. “B-bau obat ya Kak?”
“Bau ketiak!” jerit Aria hingga dokternya kena mental.
“Maaf dok, dia akhir-akhir ini memang seperti ini. Babak belur ini aja hasil memalak kakek-kakek, saya enggak tahu mengapa tiba-tiba dia kayak begitu. Bisa periksa sekalian otaknya ya dok,” jelas Izana.
“Saya obati lebamnya dulu ya mas, nanti saya antar ke ruang lain.” Dokter itu memaklumi, sepertinya dia mengerti sesuatu.
Selesai Aria diobati, dokter membawa pasangan itu ke ruang lain.
“Ini untuk orang periksa kehamilan enggak sih?” bisik Aria ke Izana. Dia melihat ibu-ibu hamil pada duduk di kursi tunggu. Izana dan Aria tidak mengantre lagi, mereka langsung masuk bersama dokter yang membawa mereka.
“Dok tolong periksa dia hamil atau tidak.”
“Dok saya ini mandul, mana bisa hamil,” sanggah Aria, reaksi kedua dokter itu pun ikut terkejut.
“Ba-bagaimana kalau diperiksa dulu aja Kak.”
__ADS_1
Aria memandang Izana, pria itu pun mengangguk. Kali ini dia sangat berharap ada keajaiban ketika melihat Aria duduk di bed sedang ditanya-tanyai oleh dokter.
“Kapan terakhir datang bulan?”
“Hampir sebulan kayanya.”
“Ada rasa mual-mual saat mencium suatu objek?”
“Bawang! Aku jadi tidak bisa masak karena di dapur ada bawang.”
“Kita USG aja langsung ya.”
“Dok saya ini mandul.”
“Tidak apa-apa, cuman periksa enggak lebih.”
Saat di USG Aria tidak mengerti apa-apa pada gambar yang tertera di monitor.
“Ada Kak ada!”
“Apanya yang ada?” Tanya Aria dengan jantung berdegup kencang, dia tidak mau berharap tapi dokter ini kenapa begitu antusias.
“Hamil! Kaka hamil sudah 4 minggu!” Dokter ikut terharu, dia tahu perasaan bagaimana wanita mandul yang menantikan anak. Ini sebuah keajaiban.
__ADS_1
“Dokter kau enggak bercanda kan?”
“Lihat ini, yang seperti biji ini anak Anda,” tunjuk dokter pada layar monitor.
Aria mematung memandang biji kacang itu, Izana menangis haru dia datang memeluk Aria yang masih terdiam.
“Jadi kandungannya bagaimana dok?”
“Sangat sehat dan kuat, panjang dan berat bedanya normal, posisinya juga bagus. Sangat disarankan untuk meminum susu hamil ya, cari yang tidak membuat istri mas enggak mual.”
Izana banyak bertanya pada dokter, hingga akhirnya mereka keluar. Anehnya Aria hanya diam saja sejak tadi, dia begitu shock.
“Sayang.”
“Bang dokter tadi enggak bohongkan hiks.”
“Enggak, kamu benaran hamil.”
“Tapi aku man-”
“Shuut jangan diungkit lagi, nyatanya kau hamil. Sekarang abang mengerti kenapa tingkahmu akhir-akhir ini aneh, maaf ya abang mengabaikanmu beberapa hari ini.”
“Ahhh iya ternyata begitu, aku hamil bang ehehe,” cengir Aria tapi air matanya jatuh, dia bukan sedih tapi dia terharu.
Tbc.
__ADS_1
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu.
Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.