Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 73


__ADS_3

Pada akhirnya keputusan ayah Sari tidak bisa terbantahkan, besok adalah pernikahan Sari dengan sepupunya bernama Ambrin. Mereka adalah pasangan yang cocok, Aria dapat melihat itu dari gambar di kartu undangan.


“Bang kalau dilihat-lihat Sari cocok loh sama sepupunya ini, lumayan juga si Ambrin ini.”


“Heh! Apanya yang lumayan.”


“Puji orang dikit aja enggak boleh.”


“Engga boleh, Sayang di sini ada aku yang mendekati sempurna, puji saja aku.”


“Apaan sih! Ahaha.” Aria tertawa sambil menampol wajah Izana yang narsis itu. Kemudian Aria berjalan ke lemari bajunya untuk mencari pakaian untuk pergi ke kondangan besok.


“Bang beli baju couple yuk untuk ke kondangan besok.”


“Alay banget Sayang.”


“Maksud aku kita pakai baju dengan warna yang sama, yuk pergi yuk Abang ada duit kan?”


“Tunggu, nanti malam abang merampok.”


Aria mengurut kepalanya sendiri, entah kapan Izana akan tobat. “Dari pada merampok di jalanan lebih baik kau rampok saja papamu, lagian itu sebenarnya hartamu,” geram Aria.


“Aku enggak mau jadi CEO, ribet berurusan dengan kertas.”

__ADS_1


“Iya! Jadi begal aja seumur hidup. Nanti aku hamil kasih aku makan dengan uang itu biar anakmu besarnya jadi begal juga kaya papanya!”


“Astagfirullah Sayang, mulutmu!”


“Tidak tahu ah malas, entah sampai kapan aku berbohong tentang pekerjaan Abang ke orang-orang. Nanti kalau abang tertangkap bagaimana? Engga mungkinkan Abang lolos terus, pasti ada karmanya suatu hari nanti. Bisa saja anak kita dibully karena statusmu.”


“Anak? Kau saja belum hamil, padahal kita sudah nikah sudah satu tahun, selama ini kita enggak ada pakai pengaman loh.”


“Terus? Bahkan ada yang belum hamil walaupun mereka sudah menikah satu tahun. Abang kira kita hidup di dunia novel yang sekali **** langsung jadi! Jangan aneh-aneh!”


“His ya sudah yolk kita beli baju.” Izana sudah pusing jika berdebat dengan Aria terus menerus, lebih baik mengalihkan pembicaraan pada keinginan Aria sejak awal sebelum perdebatan mereka tadi.


“Begitu kek dari tadi,” gumam Aria kembali ke kamar untuk berganti pakaian.


.


.


“Yang sopan yang sopan harus yang sopan, hais ini kependekan, hii~ ini lagi kepanjangan, ini warnanya ngejreng banget entar aku yang dikira si pengantinnya.”


Aria sangat sibuk, susah sekali mencari baju sesuai gambaran di otaknya. Bolak balik bolak balik, jangankan Izana pelayan toko yang mengekori Aria saja bingung. Beberapa baju yang ditawarkan akan ditolak oleh Aria hingga dia jumpa baju yang cukup simpel tapi juga bagus untuk Izana.


“Nah yang ini mbak yang cocok untuk ke kondangan, ukurannya juga pas ini untuk aku sama suamiku.”

__ADS_1


“Jadi mau yang ini, Mbak?”


“Iya.”


“Sepasang ya, tunggu kami bungkuskan.”


Izana lega akhirnya dilema istrinya selesai. “Sudah selesai?”


“Belum, kita belum cari kado buat Sari.”


“Kalau untuk pengantin baru cocoknya apa ya?”


“Doa, sudah kasih doa aja semoga langgeng,” jawab Izana. Membayangkan Aria memilih kado akan membuat Izana pening nanti, memilih baju saja sudah memakan waktu dua jam, apalagi kado?


“Masa doa cuman sih?”


“Ya sudah isi amplop aja dua ribu nanti.”


“Sekalian aja amplop kosong.”


“Hmm itu juga bagus.”


“Ihh orang cuman bercanda, ya kali Sari cuman dapat amplopnya.” Aria sudah pusing sendiri, mungkin dia akan mengikuti saran Izana untuk memberi amplop saja. Tapi enggak dua ribu atau hanya amplop kosong juga ya gais.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2