
Sikap Sari yang seperti dibuat imut membuat Izana berpikir gadis itu tengah mencari perhatian, dia asyik mengobrol dengan Aria sembari melirik Izana di saat Aria tidak memandangnya.
“Sayang aku tidur di dalam,” kata Izana pamit, ia langsung berjalan tanpa menunggu jawaban Aria.
Melihat Izana masuk ke dalam membuat Sari kecewa namun dia tidak berputus asa. “Aria aku menumpang toiletmu sebentar ya.”
“Ah ok.” Aria mau berdiri mengantarkan Sari, namun gadis itu menahan agar Aria tetap duduk.
“Tak perlu repot-repot aku pergi sendiri saja.”
Sari pergi dan Aria membiarkannya saja, lagian rumahnya kecil mudah saja bagi Sari untuk menemukan toilet.
Saat dia sedang sendiri satu orang lagi datang menghampiri, dia adalah Tati. “Aria.0”
“Oh Tati, ada apa?”
“Soal semalam aku belum berterima kasih dengan benar. Ini jambu air untukmu, aku baru petik tadi di belakang rumahku.”
“Terima kasih Tati, sini duduk.” Aria menerima plastik jambu air itu lalu mencicipinya. “Hmmm ini kayaknya cocok dibuat rujak kebetulan aku punya banyak mangga, nanti aku antarkan ke rumahmu ya.”
“Iya, engg... Semalam aku ada lihat Sari ke sini, dia mengganggumu ya?”
“Enggak, dia mengantarkan kolak.”
“A-apa dia ada bilang sesuatu tentangku?” tanyanya gugup, Aria mengerti namun sepertinya dia harus jadi penengah.
“Dia bilang ibumu memiliki banyak hutang di warungnya, Sari bilang dia juga butuh uang tapi ibumu tidak bayar hutang sejak lama.”
“Ah itu.. Ibuku sudah bayar bulan lalu tapi baru setengah, untuk saat ini kami belum punya uang.”
Aria bingung harus menanggapi seperti apa, siapa benar siapa salah itu sebenarnya bukan urusan dia. Namun kedua gadis inilah bercerita dengannya.
>>>
Sedangkan Sari dia berada di depan pintu kamar Izana, dia tahu Izana ada di dalam dengan ragu-ragu dia ingin mengetuk pintu itu.
Tok tok tok.
Cklek.
Bukannya terbuka pintu itu malah terdengar seperti baru saja dikunci.
“Is kenapa dikunci sih?” Kesalnya mengentakkan kaki keluar, namun netranya terfokus pada Tati yang bercerita dengan Aria.
... Ibuku sudah bayar bulan lalu tapi baru setengah, untuk saat ini kami belum punya uang.”
Tuturan Tati membuat Sari geram namun dia mencoba untuk menahannya.
“Hai Tati,” sapa Sari membuat gadis gendut itu menatap takut, dia tak tahu ada Sari di sini.
“S-sari?”
“Jangan gugup begitu, aku minta maaf ya soal kemarin. Biarkan utang piutang itu menjadi urusan orang tua kita.”
Tati Heran kenapa Sari tiba-tiba baik, apa karena ada Aria di sini? Tapi kenapa dia takut dengan Aria?
“Aku harus terlihat baik di depan Aria agar aku bisa main ke rumahnya setiap hari untuk mencari perhatian Izana” Batin Sari. “Jadi bagaimana, Tati?”
__ADS_1
“Iya a-aku juga minta maaf.”
“Sekarang kita teman kan?”
“Iya.” Mereka berdua bersalaman, namun Tati sadar kalau ini hanya sandiwara Sari.
Satu wanita polos ini malah senang karena dia mendapatkan dua teman, sebelumnya Aria tidak punya teman dekat, walaupun di sekolah dulu dia banyak kenal orang tapi tak ada satu pun yang dekat dengan Aria, mereka hanya sekedar kenal saja.
“Baguslah kalian baiklah, kalau begitu sekalian aja kita buat rujak di sini,” antusias Aria, dia berlari ke belakang untuk mengambil bahan-bahannya.
“Eh Tati kau jangan pernah bicara keburukan aku di depan Aria ya,” ancam Sari setelah Aria masuk ke dalam.
“Eng.”
“Dengar enggak!”
“I-iya.”
Malamnya di saat Aria dan Izana tengah berbaring Izana membiarkan istrinya senyum-senyum sendiri membelakangi Izana.
“Kenapa sih dari tadi aku dicueki, sudah capek mengode kamunya enggak peka.”
“Abang mengode apa?”
“Is enggak ya, lihat ini fotoku dengan Sari dan Tati. Akhirnya setelah sekian lama aku memiliki foto dengan teman.”
“Kasihannya istriku, padahal cantik begini tapi kok kesepian? Memangnya waktu jaman sekolah enggak ada yang suka kamu?”
“Banyak, makanya aku dijauhi sama teman-teman cewek. Mereka menyebar gosip yang tidak-tidak tentangku.”
“Mulut cewek mengerikan ya.”
“Bukan cewek biang keladinya, tapi cowok yang pernah kutolak di depan umum. Mungkin dia malu dan kemudian menyimpan dendam pada ku, bahkan dia mengancam cewek-cewek yang ingin dekat denganku.”
Cerita Aria cukup lucu dipendengaran Izana, bukan masalah isi topiknya tapi cara Aria ngomong dengan raut ingin menangis.
__ADS_1
“Sudah jangan diingat lagi, tuh cowok kalau jumpa sama abang biar abang tendang ulu hatinya sampai dia sesak napas.” Izana menarik Aria untuk lebih dekat dengannya agar bisa memeluk.
“Iya tendang aja.”
“Emmm Aria..”
“Iya?”
“Tentang Sari abang rasa kamu enggak perlu dekat-dekat dengan dia.”
“Kenapa?”
“Dia kayaknya dekati kamu enggak tulus, seperti ada tujuan lain.” Izana mengerti tujuan Sari tapi apakah dia langsung mengatakannya?
“Sari asyik kok orangnya, Abang ini kenapa?”
“Dia itu berusaha menggoda abang, nanti kalau ada apa-apa kamu malah salah paham lagi.”
“Ih abang percaya diri banget, bukannya abang sendiri ya yang tergoda dengan dia? Tadi abang melihat ke dadanya! Apa dadaku tidak cukup!”
“Sayang aku akan tetap memilih punyamu walaupun berjuta wanita menunjukkan dada mereka ke aku.”
“Eleh omong kosong.”
“Aduh~”
Izana menutup matanya dibandingkan melanjutkan obrolan yang mungkin semakin lama akan membuat mereka berdebat.
__ADS_1
Tbc.