Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 31


__ADS_3

Aria bercermin memperhatikan lehernya yang terdapat banyak bercak merah, karena mereka ingin keluar untuk kencan maka Aria berusaha menutupi bercak itu menggunakan foundation.


“Ah akhirnya tertutup juga,” leganya menatap diri di cermin.


“Apanya yang tertutup?”


“Lukisan bibirmulah apa lagi?”


“Ahaha benarkah? Kenapa ditutupi biarkan saja itu terlihat,” bangganya yang tak memikirkan malu yang akan Aria tanggung nanti.


Aria cuek dia melanjutkan aktivitasnya memilih baju yang akan dikenakan. “Kita pakai motor kan Bang perginya?”


“Iya.”


“Berarti aku harus pakai celana panjang, hmmm bajunya yang mana ya?.... Oh yang merah ini aja biar senada dengan baju Abang.”


>>>


Aria memperhatikan motor yang sudah beda dengan yang semalam, kali ini motor matic hitam. “Bang? Ini hasil merampas, ya?”


“Enggak, itu motornya pak Ramly. Motor supra yang kemarin mau dipakai sama anaknya jadi abang tukar,” jelasnya santai.


“Memang pak Ramly siapanya abang kok bebas banget?”


“Kenalan, sudah ayo cepat naik katanya tadi lapar.”


Hidup berdua sederhana seperti ini benar-benar sudah lebih dari cukup, bermotor memeluk pinggang pasangan hingga sampai di tujuan bergandengan tangan membuat gemas orang sekitar.


“Mau makan apa?” tawar Izana memberikan buku menu dengan gaya berlutut seperti orang yang sedang menyatakan cinta.


“Hihi~”

__ADS_1


Aria tertawa gemas menerima yang diberikan bakal seorang putri yang malu-malu.


“Hmm apa ya?... Bakmi ini kayak!ya enak, ok Bakmi toping komplit sama perkedel ini satu porsi, minumnya es teh manis saja. Kalau abang mau apa?”


“Sama kan saja.”


Pelayan mencatat pesanan mereka lalu pergi ke dapurnya.


“Abang kaya banyak duit aja, perasaan kemarin-kemarin bahkan sampai kelaparan enggak punya uang.”


“Kemarin abang malas sekarang sudah lebih rajin karena mikirin kamu.”


Aria menepuk jidatnya, Izana bukannya insaf setelah beristri malah dia semakin rajin merampas hak milik orang lain.


Rasanya aneh jika menyalahkan Aria yang tidak berusaha mengubah suaminya, mungkin di antara kalian mengesalkan hal itu namun perlu diketahui semua itu butuh tahapan proses yang mungkin cukup lama karena Aria sendiri perlu mengetahui satu persatu tentang Izana yang terlampau misterius. Hanya keajaiban yang bisa mengubah seseorang dalam sekejap mata, itu pun kalau keajaiban itu memang ada.


“Bang aku ke toilet bentar ya, mau pipis.”


“Iya jangan lama-lama.”


“Huh leganya~ ..eh suara bising siapa ini?” sadarnya mendengar suara tawa yang ramai.


“Si jelek ini utang ibunya di warung mamaku sudah banyak banget. Engga bayar-bayar entah bahkan saat ditagih bilangnya enggak ada uang terus,” ijarnya dengan kaki yang menginjak-injak tubuh yang terbaring terisak dalam diam.


“Hei Babi gendut kenapa diam saja, ayo ngomong!” Teman dari gadis itu juga ikut ikutan menindas, yang dirundung hanya diam saja tidak berani melawan.


Hingga datanglah sepasang tangan membantu gadis malang itu berdiri. “Jangan berbaring di lantai kotor ini, Tati,” kata Aria mengabaikan tiga gadis lainnya yang menatap sinis atas kehadiran Aria yang tidak mereka kenal.


“Kau siapa? Jangan ikut campur urusan orang!”


“Aku Aria, tetangganya Tati. Jangan macam-macam ya, aku akan teriak di sini. Kita lihat adakah orang yang akan datang?” ancam Aria karena dia juga tidak sanggup jika melawan tiga orang sekaligus, tapi untunglah berhasil, tiga orang itu mundur menjaga jarak darinya.

__ADS_1


“Ayo Tati ikut aku aja.” Aria memandang kasihan ke Tati yang bajunya bahkan basah dan kotor.


“Enggak, aku kotor lebih baik aku pulang saja.”


“Kalau kau pulang sekarang mungkin kau akan diganggu lagi sama mereka, tuh lihat mereka sepertinya sedang menunggu aku pergi.”


“Tidak apa aku seperti ini?”


“Tidak apa-apa. Kau juga pesanlah makan nanti, aku yang bayar.”


Di sini pesanan sudah datang, Izana belum menyentuh sedikit pun makanan itu, dia menunggu ingin makan bersama Aria.


Hingga datanglah orang yang ia tunggu dengan satu orang lagi yang mengekori istrinya.


“Ayo Tati duduk,” tawar Aria.


“Aria?” tegur Izana menatap Heran orang kotor yang Aria bawa.


“Oh ini? Dia Tati tetangga kita, dia tadi ditindas di Toilet jadi aku bawa saja dia.”


Hancur sudah angan-angan Izana yang ingin makan semeja hanya berdua dengan Aria, tapi dia berusaha bersikap santai saja walaupun dalam benaknya memaki kesal melihat Aria yang sibuk menghibur Tati.


Hingga akhirnya setelah memastikan Tati naik mobil angkutan penumpang untuk pulang, barulah Aria berbicara dengan Izana.


“Kenapa muka abang masam bagitu?”


“Entah! Yuk pulang.” Izana mengambek dan Aria sadar itu.


“Jangan begitulah Bang, jadi orang itu harus punya simpatik, apalagi dia tetangga kita misalnya terjadi apa-apa denganku dan Abang tidak ada di rumah? Pastilah mereka yang bergerak lebih dulu.”


“Iya deh, ayo kita pulang cuacanya panas banget nih”

__ADS_1


“Hehe iya-iya, kita singgah dulu ya beli es krim,” pinta Aria memasang wajah Lucy, tentu saja Izana menurutinya.


Tbc.


__ADS_2