
Tok tok tok
“Permisi apa ada orang?”
Siapa lagi yang datang? Aria sedang malas membukakan pintu untuk siapa pun. Dia masih berada di posisi yang sama di balik pintu sejak dua jam yang lalu.
Saat ini dia tidak ingin diganggu, wajahnya sudah terlalu bengkak untuk menyambut tamu.
“Kak Aria ini aku, Theo.”
Walaupun tahu itu Theo, Aria masih tak membukakan pintu, dia hanya mendengar saja sambil berharap Theo cepat pergi, bertamunya lain waktu saja.
“Aku membawa kabar tentang bang Izana.”
Aria mendongak dari tunduknya, apa katanya tadi? Izana? Aria
Ckreek
Theo terdiam ketika pintu terbuka, dia harus berkata apa pada wanita yang tampak sangat berantakan ini?. Rambut panjang yang berantakan, piama kusut mata bengkak dan yang paling jelas adalah aura kesedihan Aria.
“Kaka kenapa?”
“Ada apa dengan Izana, Theo?” tanya balik Aria tak mengherankan pertanyaan Theo.
__ADS_1
Theo mencoba mengerti, biasanya orang seperti ini tidak ingin cerita, kalau cerita pun memangnya bisa bantu apa?
“Kak boleh aku masuk dulu.”
Membiarkan seorang wanita dengan penampilan berantakan di depan pintu rasanya tidak gentel, tetangga bisa melihat dan berpikir macam-macam dan kemudian bergosip dengan topik KDRT dalam rumah tangga Izana.
Saat masuk dan duduk Theo mendapatkan teko teh dan dua cangkir kecil. Apakah ada tamu sebelum dirinya? Apa tamu itu yang membuat Aria sampai seperti ini.
“Sudah dingin,” gumam Theo dengan tangan yang menyentuh teko itu.
“Kau ingin minum teh?”
“Enggak Kak, aku cuman ingin menyampaikan pesan bang Izana.”
“Dia akan pulang besok, jangan bukakan pintu untuk orang yang tidak di kenal atau pun keluarga bang Izana, jaga diri Kaka jangan menagis terus, jangan lupa makan dan berhenti melamun sendiri.”
Sekarang Theo mengerti kenapa Izana memesankan hal itu, tapi sepertinya dia terlambat. Orang yang dilarang Izana sudah datang sebelum dirinya, Theo sadar itu setelah melihat teko teh dan bagaimana berantakannya Aria.
“Jadi Kaka membukakan pintu untuk siapa tadi?” tanya Theo. Dia tidak tahu masalah apa yang terjadi tapi dia mengerti kalau ini bukanlah sesuatu yang ringan.
“Theo memang bang Izana ke mana?” Lagi-lagi Aria mengabaikan pertanyaan Theo.
“Engga tahu, aku hanya bertemu dan dititipkan pesan seperti itu.”
__ADS_1
“Ohh begitu.”
“Apa yang datang tadi mertua Kaka.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Sepertinya benar, aku hanya menebak karena bang Izana menekankan tentang keluarganya. Jadi apa yang terjadi hingga Kaka menangis seperti ini? Bukan maksud ku ikut campur, tapi bang Izana sedang tidak ada siapa yang akan menjaga Kaka? Kalau tidak Kaka ikutku saja pulang ke rumah, mamaku baik kok.”
“Enggak kakak di sini saja.”
“Yakin? Nanti mertua Kaka datang lagi bagaimana?”
“Theo kakak baik-baik saja di sini, kakak akan kunci pintu dan tidak membukanya walaupun tetangga yang datang,” jelas Aria, sungguh dia tidak bisa ke mana sekarang.
“Janji ya? Bang Izana akan marah padaku kalau Kaka mengingkarinya?”
“Iya janji.”
Theo pulang, Aria mengunci pintu setelahnya. Malamnya Sari datang ke rumah tapi dia tidak membuka pintu sesuai janjinya, mungkin Sari beranggapan kalau Aria tidak ada di rumah hingga dia akhirnya pergi.
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu.
__ADS_1
Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.