Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 54


__ADS_3

“Aria itu tadi suamimu kan? Kenapa kamu enggak bilang biar tuh cewek menyerah.”


“Firasatku tidak enak, untuk sekarang lebih baik diam saja.”


Aria kembali berbaring tapi kini dia tampak tidak bersemangat sama sekali, cerita Putri tadi membuatnya takut, takut Izana diambil Putri, takut suaminya kalau ternyata selama ini belum move-on dari Ella.


Tapi berkat itu semua Aria tahu kalau alasan Izana melarangnya kerja karena mantan kekasihnya mati di saat pulang kerja, tapi apa hanya karena itu? Entahlah hanya Izana yang tahu lebihnya.




Pukul delapan malam Izana baru saja pulang, ia membawa sesuatu di tangannya. Namun saat dia masuk kamar hanya ada Aria tanpa Sari, raut Izana jadi khawatir.



“Sayang kok kamu sendiri? Sari mana? Padahal aku suruh dia untuk menunggu sampai pukul sembilan.”



“Mamaknya tadi cari ke sini, jadi Sari disuruh pulang karena ada teman kampusnya yang datang.”



Izana mengangguk tanda paham, dia duduk di birai kasur dengan tangan yang siap memeluk tubuh Aria. Segala keletihan hilang begitu saja, istri adalah tempat sesungguhnya untuk pulang.



“Bang aku belum mandi.”



Tanpa berujar lagi Izana melepaskan pakaian Aria perlahan, melihat tubuh polos Aria membuatnya sangat ingin namun sayang kondisi berkata lain.



“Bang celana Abang,” tunjuk Aria tepat di selangk\*ngan Izana yang menonjol.


__ADS_1


“Kamu makanya cepat sembuh, kalau begini abang juga menderita.”


.


.


Di kamar mandi Izana memandikan Aria dengan sangat hati-jati, luka yang paling parah adalah di lengan kanan Aria maka tangan itu yang menjadi tantangan terbesar.



“Aww perih Bang!”



“Tahan sebentar Sayang.”



Setelah perjuangan memandikan selesai, kini beralih skene mengobati luka dengan salep. Aria tidak berani melihat lukanya sendiri, sangat mengerikan, dia memejamkan mata merasakan sesuatu yang dingin menempel di kulit.




“Tapi aku takut melihatnya.”



“Jangan dilihat, jangan pernah melihat tanganmu sebelum dia sembuh” Izana tahu luka itu mengerikan, Aria pasti tidak akan sanggup melihatnya.



“Bagaimana caranya?”



“Ya jangan dilihat begitu saja, kamu makannya nanti saja ya setelah abang selesai nyolo, ini sangat sesak abang tidak tahan lagi.” Tunjuk Izana pada celananya lalu kemudian lari ke kamar mandi.


__ADS_1


\>\>\>


“Ahhhh~” erangan panjang terdengar samar setelah 20 menit Izana tenggelam di balik pintu kamar mandi.



Aria memandang pintu kamar berharap orang yang ditunggu cepat masuk.



“Sayang kau menunggu lama?”



“Lumayan, cepatlah Bang aku sudah lapar.”



Raut manja Aria sangat menggemaskan di mata Izana, ingin sekali dia terkam saat ini juga. Lagi-lagi pemikiran liar itu terlintas, Izana menggaruk kepalanya yang frustasi harus libur jatah setidaknya selama dua bulan.


.


.


Aria tidur dengan pulas setelah minum obat, namun Izana masih termenung menatap langit-langit kamar. Dia begitu lelah, sangat lelah mengerjakan semuanya sendiri. Seharian ini dia pergi mencari uang agar obat mahal untuk Aria bisa selalu dia beli, dia tidak ingin meminta uang dengan ayahnya lagi, pria itu adalah orang yang ia benci.



“Hasil hari ini lumayan juga,” gumamnya tersenyum tipis.



Seharian ini Izana melakukan berbagai macam hal kriminal. Merampok dan membegal sudah jadi keahlian bagi Izana.



“Maaf ya Sayang memberikanmu makan dengan uang yang tidak baik,” ucap Izana mengelus surai Aria pelan, dia memeluk Aria perlahan, memastikan tangan wanitanya tidak terimpit.


__ADS_1


Tbc.


__ADS_2