
Interaksi antara cewek-cewek di dalam kamar ini campur aduk. Cukup menyenangkan sambil memakan buah dan mendengar kicauan Sari yang menjadi pesuruh Sesil. Hingga di menit kemudian kedatangan sosok cewek lain membuat keadaan jadi tegang.
Tatapan saling menusuk yang menggambarkan kebencian di antara dua wanita membawa suasana hening bagi penontonnya.
“Aria sejak kapan kau mengenal Putri,” kata Sesil namun matanya terpaku tajam pada putri yang terdiam di ambang pintu.
Putri tadinya ingin menjenguk Aria sebelum dia pulang ke kota sebelah, tapi siapa yang duga kalau dia akan bertemu Sesil di sini?.
“Mereka kenapa?” bisik Sari pada Aria dan Moon, jawaban yang Sari dapatkan adalah gelengan kepala yang artinya mereka juga tidak tahu.
Tadinya putri syok namun dia menormalkan kembali ekspresinya, melangkah santai melewati Sesil menuju Aria yang di atas ranjang.
“Hai Aria kita jumpa lagi.”
“Kok kami tahu rumahku di sini?”
“Ya karena aku mencari tahu, sebenarnya aku mau mengunjungimu di rumah sakit tapi nenekku juga sakit.”
Jangan tanya kenapa Putri juga mengetahui tentang kecelakaan Aria, waktu itu dia melihat tragedi dari lantai dua Mall, dengan kata lain dia adalah saksi yang terlewatkan oleh polisi.
“Moon ayo kita balik,” kata Sesil yang sudah berdiri ingin pergi. Dia melangkah begitu saja tak memandang ke belakang lagi.
__ADS_1
“Aria kami pulang duluan ya,” pamit Moon tersenyum manis berlari kecil menyusul Sesil.
Di sini sebagai orang yang menguping pembicaraan Putri dan Sesil waktu di Mall, Aria menatap dengan mata yang seolah ingin bertanya begitu pula dengan Sari.
“Maaf aku membuat temanmu pergi.”
“Aku kemarin mendengar pembicaraanmu dengan Sesil di Mall” Akuan Aria, dia ingin tahu apa reaksi Putri setelahnya.
“Oh begitu, kami dulu bersahabat. Bukan cuman berdua tapi bertiga dengan Ellya tapi sejak kematiannya Sesil selalu menyalahkanku.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Kerna menurutnya karena aku iri dengan Ellya, dan menyuruh orang untuk membunuh Ellya. Padahal aku sahabat Ellya mana mungkin aku melakukan hal itu walaupun aku iri.”
“Ellya pacaran dengan abang tiriku padahal aku juga menyukai abang tiriku, Ellya tahu itu tapi dia sama sekali tidak ada niatan untuk mengalah. Di saat aku mulai menjauhi Ellya sebuah tragedi terjadi yaitu Ellya dicegat preman saat pulang kerja, dia digilir dan dibunuh setelahnya. Sesil berpikir aku yang menyuruh preman itu padahal aku tidak tahu apa-apa.”
“Tragis sekali si Ellya, tapi bukankan Sesil tak berhak menuduhmu,” kata Sari yang hanyut dalam cerita.
Sedangkan Aria tampak berpikir keras, ada sesuatu yang mengganjal. “Siapa nama abang tirimu?”
“Izana, oh iya aku ada fotonya.” Sesil memperlihatkan foto profil layar HP nya.
__ADS_1
“Itu kan-”
Aria membungkam mulut Sari yang hampir membocorkan identitas Aria. Nafas Aria memburu dia menelan ludahnya kasar, sekarang teka teki tentang Ella semakin jelas di matanya.
“Ada apa?” tanya Putri pada Sari, Aria memainkan matanya agar Sari tidak memberitahu Putri untunglah Sari paham.
“I-itu cowok yang tampan pantas saja jadi rebutan ahaha,” jawabnya cengengesan.
“Iyakan? Sampai sekarang aku masih mencari dia, entah di mana aku juga tidak tahu.”
Drtt.. Drrrt..
Deringan HP Putri membuat wanita itu berhenti curhat sejenak, dia menjawab telepon itu terlebih dahulu. “Halo pah. ... iya-iya aku pulang sekarang.. ok ok bye Pah.”
Tut.
“Aria aku pulang dulu ya, papa ku sibuk banget kalau enggak ada aku.”
“Iya sampai jumpa Putri.”
Setelah Putri pergi Aria dan Sari mendapatkan kebebasan bernafas, sungguh mereka sangat takut Izana pulang di detik ini juga tapi untunglah tidak.
__ADS_1
Tbc.