
Saat Aria membuka matanya ia langsung disambut dengan penampakan indah seorang laki-laki yang tengah sibuk mengupas kulit mangga.
Aria tersenyum tipis dan ikut duduk langsung mencomot potongan mangga yang sudah ada di piring.
“Jangan pernah memanjat pohon lagi,” ucap Izana memperingati Aria tanpa memandangnya.
“Kenapa memangnya?”
“Huh~ lihatlah pahamu habis tergores semua, tunggu aku saja nanti kalau mau mangga lagi atau apa pun itu.”
“Iya,” jawab Aria menunduk menyembunyikan rona pada pipinya, wanita mana yang tidak luluh jika seperti ini?
“Ah masamnya, kenapa kau tahan menggigit mangga muda ini?” kata Izana setelah mencicipi mangga yang ia kupas dan potong.
“Enak.”
“Masam begini enak? sudah jangan dimakan lagi nanti sakit perut.”
“Aku suka yang masam-masam, tenang saja perutku sudah terbiasa kok.”
“Ya sudah tapi jangan terlalu banyak, habis ini kau mandi kita ke pasar cari perabotan rumah tangga.”
“Hem~” dehemnya melanjutkan makan.
Dengan perasaan yang girang Aria lari berlompat-lompat kecil menuju Izana yang sudah berada di atas motor, wanita berpakaian serba pink putih itu tampak manis berseri. Dia seperti anak kecil yang memakai baju gaya kodok dengan topi bulat di kepalanya.
__ADS_1
“Kkk~ di mana baju kuno yang kau pakai kemarin kemarin?” kekeh Izana mengejek tapi tak dipungkiri dia merasa gemas.
“Itu bajunya mendiang istri pak Iky, kemarin aku pinjam karena tidak bawak baju.”
“Tapi kau seperti anak kecil sekarang.”
“Enggak suka ya?” tanya Aria sembari melihat penampilannya sendiri dengan raut kecewa.
“Enggak kok malah lucu, sudah ah ayo cepat naik.”
Baru saja mau naik Aria menyadari motor yang ada berbeda dengan sebelumnya. “Ini motor siapa?”
“Motor kenalanku, kenapa baru sadar kan aku jemput kamu ke rumah bapak pakai motor ini.”
“Ohhh~”
.
.
Sampailah mereka di toko yang memang khusus untuk perabotan rumah tangga, semua yang dibutuhkah untuk mengisi rumah ada di situ.
“Pilih apa yang diperlukan, aku tidak mengerti sama sekali.”
“Banyak sih, tapi nanti bawaknya bagaimana? Kita kan cuman pakai motor.”
__ADS_1
“Nanti minta tolong mereka antarkan, kalau belanjanya banyak pasti mereka mau bantu.”
“Sayang ada duitnya, kan?”
“Ada.”
“Baiklah.”
Aria berjalan menuju tempat alat-alat dapur, toko ini memang lengkap dia tidak perlu bolak balik mencari toko lain untuk membeli barang yang berbeda.
“Panci, wajan, rice kuker, spatula, kompor, piring, sendok, gelas, mangkok, hmm.. Apalagi ya?” tanyanya usai mengabsen barang yang ia ambil.
“Kulkas, mesin cuci,” jawab Izana menanggapi.
Plak.
Aria menampar tangan Izana sambil matanya melotot besar. “Gila ya? Memangnya duit abang cukup! Abang kan miskin ini aja aku enggak yakin ada duitnya.”
“Kau yang gila kenapa panggilanmu berubah-ubah.”
“Kenapa bahas yang tidak penting, sekarang kita ini lagi bahas uang tahu!”
“Hais~” Izana membuang napasnya pelan, sungguh diremehkan seperti ini dengan istri sendiri rasanya sangat terhina. “Segini cukup enggak?” Dia menunjukkan jumlah saldo di M-bankingnya yang tersisa 17 juta hasil jual motor.
“17 juta? Hmm beli ini aja dulu bang. Ini aja mungkin sudah habis tiga jutaan, yang lain nanti-nanti aja. Sisa uangnya untuk stok makanan pokok sama bayar kontrakan bulan depan.”
__ADS_1
“Kulkas yang satu pintu itu dua jutaan, kita ambil ya. Yang aku tahu kulkas itu penting untuk menyimpan makanan, tenang saja kita tidak akan mati kelaparan hanya untuk membeli kulkas,” pujuknya, Aria pun mengangguk. Memang sejak dari tadi Aria curi-curi pandang ke arah kulkas tanpa disadarinya Izana memperhatikannya.
Tbc.