
Yang tersisa di dalam hati seorang anak laki-laki yang menjadi saksi bisu itu hannyalah kebencian. Dia yang selalu berusaha melindungi papa kini menjadi pembenci, dia sudah tidak menganggap Adam adalah seorang ayah, ayah mana yang tega membunuh anaknya sendiri?
Izana ingin mengunjungi ibunya tapi tidak diizinkan, mereka bilang Minah sudah gila akan berbahaya jika mendekati Minah.
Hingga beberapa bulan setelahnya, adam membawa wanita asing masuk ke dalam rumah. Dia tidak sendiri ada seorang gadis kecil yang lebih muda setahun dari Izana bersamanya.
“Izana ini mama barumu, namanya mama Amik dan ini pengganti adikmu, Putri.” Kenal Adam, tapi Izana acuh dan memilih pergi dari hadapan mereka.
“Pengganti katanya? Aku tidak butuh pengganti,” desis Izana sembari melihat fotonya bersama Zara.
Waktu makan malam tiba, saat Izana ingin ke meja makan dia melihat dan mendengar suara tawa Adam, Amik dan Putri. Mereka tampak bahagia seperti keluarga yang selama ini Izana impikan.
Ngilu, hati Izana merasakan sakit melihat Adam bisa tertawa lepas setelah apa yang pria itu lakukan.
“Izana kemarilah,” panggil Amik menyadari keberadaan Izana, dia mencoba akrab tapi Izana membangun dinding kokoh sebagai pembatas.
Dia memang menghampiri tapi Izana enggan berbicara sepatah kata pun.
Hari-hari begitu sulit bagi Izana, dibandingkan dirinya Putri lebih di sayang seolah dialah anak kandung di rumah ini. Izana tidak bisa, dia harus pergi dari rumah ini.
__ADS_1
“Izana kau mau ke mana?” tanya Adam, koper Izana cukup membuktikan kalau anak itu ingin pergi.
“Kau sangat bahagia ya dengan keluarga barumu, apa kau sudah melupakan dosa yang kau perbuat? Aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi di sini, kebahagiaan kalian membuatku jijik,” kata Izana setelahnya pergi begitu saja, Adam tidak menghentikan Izana. Bisa-bisa tangannya yang dipatahkan anak itu, kalian ingat kan Izana belajar dari mamanya?
Tujuan Izana tak lain tak bukan adalah rumah sederhana neneknya, di sanalah dia hidup hanya berdua dengan nenek hingga saat usia Izana menginjak dua belas tahun neneknya meninggal.
Izana yang masih dua belas tahun tidak diterima bekerja di mana pun, menurut mereka tenaga anak kecil tidak dibutuhkan padahal Izana perlu uang untuk makan.
“Saya bisa mencuci piring, tolong berikan saya pekerjaan.”
“Tapi saya butuh uang, Pak.”
“Kembalilah ke rumah orang tuamu.”
Selalu saja seperti itu, mereka terus mengatakan hal yang sama. Hingga putus ada mendorong Izana untuk maling.
__ADS_1
Pekerjaan pertamanya memang maling namun semakin lama Izana semakin berani, dia memaksa orang secara terang-terangan atau sebut saja membegal, hal itu terus berlanjut sampai usia Izana menginjak 17 tahun.
Malam ini Izana menghentikan seorang gadis bermotor Metic. “Stop! Tinggalkan motormu dan pergilah.”
“Jangan, ini motor orang di bengkel pamanku. Aku hanya meminjam sebentar ini harus dikembalikan,” ucap gadis itu langsung bersujud menangis.
“Aku tidak peduli, itu urusanmu.”
“Apa pun itu asalkan jangan motor ini, perk\*sa saja aku juga tidak apa-apa.”
“Hah apa!” kaget Izana bukan main, gadis ini harga dirinya sangat rendah ternyata.
“Tapi jangan bunuh aku ya, kalau sudah selesai tolong lepaskan aku, aku tidak akan bilang siapa pun,” tawarnya lagi.
Izana yang notabenya memang penasaran dengan rasa yang seperti itu tergiur dengan tawaran gadis itu, biasanya dia hanya bisa menonton lewat ponselnya, bisakah sekarang dia praktik?
Tbc.
__ADS_1