
Tak tak tak
Langkah wanita karier dengan high heels menggema, layaknya seorang pemimpin dia memandang lurus ke depan di kantor yang bukan miliknya. Tidak ada rasa letih akibat perjalanan panjang untuk sampai ke sini, dia harus membicarakan hal ini sebagai seorang besan bukan sebagai rekan kerja.
Tok tok tok
“Masuk,” sahut orang di dalam terdengar samar.
Kreeek
“Buk Ennie? Ada apa datang kemari?”
“Boleh saya duduk dulu? Sepertinya ini cukup memakan waktu.”
“Oh iya silakan.” Adam berdiri dari kursi kerjanya untuk ikut duduk di sofa bersama Ennie.
“Saya datang ke sini bukan sebagai rekan bisnis tapi saya datang sebagai besan.”
Adam tersenyum tipis dia dapat menebak apa yang akan menjadi pembahasan. Raut tegas ini cukup membuktikan kalau wanita itu tengah menahan emosi.
“Ternyata Anda sudah tahu.”
“Saya tidak mengerti kenapa bapak menyembunyikan perbesanan kita dari saya selama ini.”
__ADS_1
“Kerna putra saya tidak mengakui saya sebagai ayah.”
“Saya tidak tahu bagaimana hubungan Anda dengan Izana, tapi bisa Anda jelaskan kenapa bapak menghina dan menyuruh putri saya untuk meninggalkan Izana.”
“Anak Anda mandul, sebagai seorang ayah saya juga ingin melihat anak saya mempunyai keturunan.”
“Bukan karena anak tiri Anda menyukai Izana?” singgung Ennie, dia tidak akan membiarkan pak Adam berdalih.
Kopi datang, pak Adam menyeruput air hitam itu untuk memberikan sedikit jeda dari ketegangan ini. “Minumlah dulu Buk kopinya, kita santai saja ok.”
Santai? Ini hal yang serius tidak ada waktu untuk menikmati kopi. Ya, walaupun begitu Ennie tetap meminum kopinya, tidak baik menolak niat baik seseorang.
“Ok cukup minumnya jadi.. Bisakah kita lanjutkan? Saya yakin bapak memiliki pekerjaan begitu pula dengan saya.”
“Saya tidak tertarik, kenapa tidak bapak yang membujuk Izana untuk berpisah dari Aria?”
Raut Adam tegang, kalau bisa dia membujuk Izana tidak mungkin dia melakukan hal sejauh ini, Ennie baru sadar itu.
“Bapak takut dengan putra Bapak sendiri ya?”
“Jika Ibu keras kepala seperti ini saya bisa menghentikan kerja sama kita.”
“Silakan saya tidak takut, tapi jangan ganggu putri saya.”
__ADS_1
“Anda akan kembali bangkrut.”
“Tidak masalah, kalau begitu saya permisi sepertinya apa pun yang saya katakan tidak dapat merubah pemikiran Bapak, kalau begitu aku biarkan Izana mendatangi Bapak.”
Ennie pergi begitu saja, kalau sejak awal dia sadar Adam takut dengan Izana mungkin wanita ini tidak akan datang. Ennie bisa tenang sekarang, setidaknya walaupun Adam bersikeras dia tetap tidak mampu.
Kita lihat saja besok apakah Adam akan benar-benar mencabut sahamnya? Seperti tidak! Sudah jelas dia menanam saham atas perintah Izana kalau ingin mencabut juga harus ada izin Izana kan?
Hahaha Ennie tertawa dalam diam. Dugaannya salah kalau pak Adam adalah orang baik, kenyataannya pria itu egois.
“Buk bagaimana?” tanya Zin setelah Ennie masuk ke dalam mobil.
“Keputusan ada di tangan Izana bukan di tangan pak Adam.”
“Maksudnya?”
“Tidak ada yang bisa memaksa Izana untuk menceraikan Aria, kecuali kemauannya sendiri. Kulihat pak Adam terlihat takut dengan putra sendiri.”
Zin yang tak mengerti apa-apa hanya mengangguk merespons, melihat reaksi Ennie sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan pada pak Adam.
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu
__ADS_1
Author sangat berterimakasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.