
“Huwaaah~” Aria terkagum saat memasuki rumah kontrakannya. Rumah yang sederhana ini akan menjadi tanggung jawabnya untuk dirawat.
“Apa yang istimewa dari rumah kecil ini?” tanya Izana pasalnya Aria terlihat begitu bahagia dengan pemandangan penuh debu itu.
“Ini rumah impianku.”
“Rumah impian? Seperti ini rumah impian?”
“Iya, suasananya lebih hangat dibandingkan rumah ibu ku. Ayo sayang kita bersih-bersih atau nanti malam kita akan diganggu serangga.” Semangat Aria bukan main, dia seakan menemukan surga baru.
“Hemm~” jawab Izana lesu, sebenarnya dia sangat lelah. Tapi melihat semangat Aria dia merasa lega karena gadis itu menyukai kontrakan pilihannya.
Rumah itu memang kecil ukuran 4x6, berada di lingkungan bertetangga dan ada pohon mangga di halamannya. Bagian dalam sudah selesai dibersihkan, Aria menyuruh Izana istirahat sedangkan dia pergi menyapu dedaunan di luar.
“Eh dek orang baru ya?” sapa tetangga yang lagi menyiram bunga.
“Iya Buk.”
“Sama siapa?”
“Sama suami.”
“Eh sudah bersuami, lihat tuh Tati anak ibu sudah umur 20 tapi belum menikah, mau jadi perawan tua kamu?” omelnya pada anak gadis yang tengah duduk di bangku halaman rumahnya.
__ADS_1
“Apaan sih Ibu, kuno banget kayak ibu-ibu desa. Sekarang tuh mayoritas orang-orang menikah umur 25 atau 30-an, aku masih mau main sama teman-temanku,” gerutu Tati dengan mata yang terus memandang HP-nya.
“Tuh lihat, kalau dikasih tahu sama orang tua menjawab terus. Dek nama kamu siapa?”
“Aria Buk.”
“Kayanya kamu seumuran sama Tati, kalau enggak punya teman main sini aja sama Tati,” Ajaknya sambil menunjuk Tati yang seakan tidak peduli.
“Iya, Bu.”
“Kamu kuliah Dek?”
“Enggak buk, saya baru tamat SMA.”
“Hee~~ rupanya tua Tati ya, tapi enggak apa-apa main aja ke sini kalau kesepian, ya.”
Ibunya sangat ramah, Aria senang mendapatkan tetangga seperti itu. Saat Aria mendongak ke atas pohon ia melihat untaian buah mangga yang besar-besar, seketika Aria lari masuk ke dalam.
“Izana.”
“Hemm ada apa?”
“Ambilkan mangga di depan, aku tidak bisa memanjat.”
__ADS_1
“Iya,” jawabnya namun pria ini tetap tidak bergerak dari sofa yang menjadi tempat baringannya.
“Cepatlah!”
“Hemm.” Izana hanya berdeham.
Geram karena tidak dipedulikan, Aria pun pergi keluar lagi. Tepat di bawah pohon dia melihat ke arah buah mangga yang tampak menggoda. Aria pun mencoba memanjatnya.
Beberapa kali ia mencoba naik tapi tubuhnya terus saja merosot ke bawah, bahkan tangan Aria sudah memerah dan juga pahanya yang tergores kulit pohon mangga yang kasar karena dia memakai celana pendek.
“Aww,” ringisnya merasa perih.
Pada akhirnya Aria hanya mendapat luka tanpa mangga di tangannya, menggunakan kayu juga tidak mungkin akan sampai, dahan yang dibuahi berada jauh di atas sana.
.
.
Pukul empat sore Izana bangun dari tidurnya, dia tidak sendiri di atas sofa itu, ada Aria yang berada di dalam dekapannya tengah tertidur.
“Cantik,” gumam Izana memperhatikan wajah pulas sang istri. Izana beranjak pelan-pelan Agar tidak membangunkan Aria.
Setelah berhasil lepas, perhatiannya ter alihkan pada banyaknya goresan di paha Aria.
__ADS_1
“Apa ini? Kenapa terluka.” Dia menyentuh goresan itu membuat Aria bergerak berpindah posisi.
Tbc.