
Sembari menunggu Izana, Aria duduk di samping kuburan sambil mencabuti rumput. Banyak sekali kuburan yang terdapat rumput tinggi, mungkin keluarga dari jasad belum sempat berziarah.
Matanya tertuju pada wanita berambut pendek yang agak jauh dari Aria yang tengah termenung di depan kuburan seseorang, tatapannya begitu kosong Aria takut wanita itu akan kesurupan nanti maka dari itu dia menghampiri wanita itu.
“Kak?” tegur Aria menyentuh pundak wanita itu.
“Iya, ada apa?”
“Kaka melamun?”
“Enggak kok.”
“Kayaknya Kakak sedih banget, ini kuburan siapa?”
“Emm ini..” Wanita itu menangis dia bahkan memeluk Aria yang tidak dia kenali. “Dia adalah sahabatku, kami sudah dekat dari kecil. Dua tahun yang lalu dia dikepung sekumpulan preman saat pulang kerja kemudian... hiks dia digilir oleh mereka, tak sampai di situ bahkan dia dibunuh setelahnya.”
Sebenarnya Aria tidak begitu ingin tahu tentang kematian orang yang dimaksud wanita yang masih menangis ini, tapi wanita itu sendirilah yang cerita, bukankah dia terlalu terbuka bahkan pada orang yang tidak dikenal?
“K-kau yang sabar ya, yang namanya musibah tidak ada yang tahu kapan datangnya.” Elus Aria pada punggung wanita itu. Rasanya risi juga jika berpelukan lama seperti ini apalagi sesama wanita, Aria ingin melepasnya tapi dia berusaha mengerti kalau wanita itu lagi bersedih.
Di liriknya tulisan yang terukir di batu nisan “Ellyana,” ucapnya dalam hati.
“Maaf,” katanya melepaskan diri. “Aku Putri, siapa namamu?”
“Aria.”
“Kau ke sini sendiri?”
__ADS_1
“Sama suamiku, dia ke toilet tadi.”
“Wah bisa bisanya meninggalkan istri di kuburan, kalau aku jadi kamu aku akan menendang tititnya.”
“Ahahah untung dia bukan suamimu.”
“Kalian sudah nikah, padahal masih muda jangan-jangan sudah jebol duluan nih,” tebaknya membuat Aria bungkam berusaha menutup aib sendiri.
“Kami memang saling mencintai.”
“Ooooh siapa tahu ya kan?”
Perubahan ekspresi Putri begitu cepat padahal tadi dia menangis tersedu sudu tapi sekarang dia malah tertawa bercanda, ya bagus sih yang namanya kesedihan itu jangan terlalu berlarut larut.
40 menit kemudian...
“Aria suamimu belum datang ya?”
“Belum kayaknya.”
“Engg.. aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi, papaku pasti mencariku.”
“Duluan aja, aku akan pergi menyusul suamiku.”
“Kita pisah di sini ya, lain kali kita bertemu lagi.”
Sebelumnya Aria dan putri sempat bertukar nomor kontak, ke depannya mereka bisa membuat janji untuk bertemu dan bermain bersama.
__ADS_1
Mereka berjalan bersama hingga akhirnya berpisah di gerbang TPU. “Sampai jumpa Aria.”
“Iya.”
Putri belok ke kanan Aria belok ke kiri. Dia sampai di toilet umum kebetulan melihat Izana yang keluar dari WC tapi kemudian masuk lagi.
“Lah dia kenapa sih?”
Tok tok tok
“Bang, Abang kenapa?”
“Enggak tahu perut abang sakit banget,” sahut Izana dari dalam.
“Kita ke rumah sakit aja yuk.”
“Aku yakin ini ulah papa tiri kamu, dia pasti masukan sesuatu di minuman aku.”
>>>
Kerna Izana tak henti hentinya bolak balik toilet terpaksa dia di bawa ke rumah sakit dengan menahan mules di sepanjang perjalanan.
Tbc.
...Like dan komentar sebelum lanjut, berkarya itu tidak mudah jadi hargailah usaha author mana pun itu.
...
__ADS_1