
Sepanjang perjalanan mengelilingi Mall Aria hanya membeli satu sepatu joging berwarna merah muda, uang yang diberikan Izana masih tersisa tapi Aria tak ingin boros. Sedangkan Sari membeli dress ketat yang katanya untuk pergi ke pesta ulang tahun temannya di club malam. Hanya Tati yang tidak membeli apa apa bahkan dia tampak tidak bersemangat hari ini.
“Tati kau tidak membeli sesuatu?” tanya Aria, dia lupa dengan keadaan ekonomi Tati.
“Aku mana punya uang, kalian saja.”
“Kalau begitu bagaimana kalau kita makan-makan saja, aku sudah tidak ingin membeli apa pun lagi,” saran Aria. Kalau untuk makan Tati pasti ada uangnya kan?
“Aria katanya kuliner di mall ini lumayan loh,” sambung Sari antusias, matanya sudah melirik ke eskalator.
“Enggak ah, kita cari yang di pinggiran aja.” Makanan pasti harganya lebih mahal, Aria punya uang tapi di sini dia membawa Tati jadi harus mengindikasikan keadaan agar Tati juga ikut menikmati weekend.
Berbeda dengan Aria, Sari melirik tajam Tati dengan tatapan sinis, ia tahu alasan kenapa Aria ingin makan makanan pinggiran itu pastilah karena Tati.
“Sudah tahu Tati miskin kenapa dibawa sih? Kalau kaya begini kan jadi repot,” ucapnya membatin.
Mereka berjalan keluar mall sambil menunggu ojol yang baru saja dipesan, mereka ingin ke pasar kuliner yang harganya di sana relatif murah sesuai dengan standar.
Pov Tati
__ADS_1
Sebenarnya Tati sangat tidak nyaman jalan-jalan bersama Aria dan Sari, alasannya karena penampilan. Aria sangat cantik dan manis berada di sebelahnya membuat Tati jadi bahan ejekan, sedangkan Sari bergaya dewasa dan seksi seperti tante-tante orang mengira dia adalah tantenya Aria.
“Siapa cewek gendut itu? Itu yang kayak bule itu tantenya cewek cantik itu ya?”
“Engga tahu, tapi cewek gendut itu...”
“Hus enggak boleh body shaming! Kalau dia dengar bagaimana?”
Mereka tidak tahu kalau Tati memang mendengarnya maka dari itu dia murung sejak tadi. ”Kenapa? Kenapa aku selalu jadi bahan ejekan. Aku juga tidak mau jelek seperti ini” Dia menahan tengisnya seorang diri. Tatapan orang di sekitar membuatnya semakin tidak pede dan merendah.
“Iss mana sih ojolnya.” Suara Aria menyadarkan Tati dari lamunan, dia sudah tidak tahan berada di samping Aria bahkan ingin sekali dia mendorong Aria agar jauh dan melepaskan gandengan tangan gadis itu.
Tati heran apa telinga Sari dan Aria budek? Kenapa mereka tidak sadar sejak tadi mereka jadi bahan gurauan orang-orang lewat. Apa mata mereka juga buram? Padahal sejak tadi banyak orang yang diam tadi ekspresi mereka menggambarkan apa yang mereka pikirkan.
“Ih lihat gendut banget.”
“Itu lemak ya?”
“Dia enggak ada niat untuk diet apa? Engga takut obesitas.”
__ADS_1
“Ih gendut banget.”
“Si gendut.”
“Gendut.”
“Gendut”..... “Gendut” .... “Gendut banget”... “ sudah gendut jelek lagi.”
“Aaaaa” Tiba-tiba Tati berteriak keras karena suara yang terbayang itu membuatnya depresi.
“ARIAAAAAAAA,” teriak Sari pada gadis yang sudah terpelanting di sana. Dia berlari mengejar Aria, semua kendaraan berhenti karena menyaksikan bagaimana Aria didorong tepat saat sebuah mobil sedan hitam melaju.
Tati memandang kedua tangannya yang bergetar hebat, suara-suara yang terbayang di kepalanya membuat dia tanpa sadar mendorong Aria ke tengah jalan di saat gadis itu tengah sibuk mengeluh menunggu ojol, tadi mereka memang berada di bibir jalan sehingga dorongan Tati menjadi musibah.
Dia ketakutan, dia ingin kabur, dia tidak ingin disalahkan, kakinya mundur ke belakang selagi perhatian semua orang ada pada Aria yang jauh terpelanting di sana, Tati kabur.
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu
__ADS_1
Author sangat berterima kasi jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.