Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 97


__ADS_3

Kini duduklah Theo di antara keluarga yang bermasalah ini. Keheranan Minah dan Roni begitu jelas di raut mereka melihat remaja yang dibawa oleh Aria dan Izana.


Siapa anak ini? Remaja puber atau orang dewasa berwujud remaja. Itulah yang terlintas di benak mereka.


“Si begal ini menikahi putri orang kaya rupanya, kok mau sih kak Aria nikah sama dia,” batin Theo, dia baru tahu ini. “Ok jadi buk Ennie keluar negeri untuk merelaks kan pikiran setelah menyerahkan jabatan pada pak Roni,” kata Theo.


“Enggak mungkin ibuku melakukan hal itu!”


“Kak Aria diam dulu, kita satu-satu saja biar suasana enggak panas, ok. Percayakan semua padaku.”


Aria menghela nafas kesal, mengetahui itu Izana menggenggam tangan Aria guna untuk menenangkan istrinya.


“Pak Roni tolong jawab.”


“Iya Dek, saya ada bukti kalau istri saya benar-benar mengalihkan semua pada saya lalu kemudian dia pergi jalan-jalan ke luar negeri katanya, tapi saya tidak tahu ke mana.”


“Mana buktinya?”


“Bukti apa?”


“Bukti pengalihan yang bapak katakan barusan.”


“Tunggu saya ambil.” Roni pergi.


Theo menajamkan pandangan ke arah punggung itu, di saat istrinya tidak ada kabar dia malah sibuk dengan harta, sementara Roni tidak ada gantian Minah yang ditanya.


“Hubungan Ibu dengan pak Roni sangat dekat ya?”


“Iya-iya kami teman.”

__ADS_1


“Teman juga kalau tidak ada istrinya di rumah enggak boleh menginaplah, Buk. Di dunia ini ada yang namanya etika.”


“Kami sudah biasa kok, aku datang karena kupikir Ennie ada di rumah ternyata tidak ada, karena capek di perjalanan aku menginap deh, aku sudah izin kok ke Ennie,” jawab Minah santai.


“Jadi Ibu sudah lama menginap di sini? Itu malah lebih parah lagi kaya selingkuhan yang bebas di rumah istri sah.”


“Enggak! Aku baru aja dua hari di sini” Minah terus mencari alasan tanpa disadari perkataannya terus memberi celah yang teramat jelas di mata Theo begitu juga dengan Izana yang juga menyadarinya, ternyata Theo sangat pandai memancing.


“Ibu sudah Izin kan sama buk Ennie?”


“Iya sudah.”


Theo tertawa kemudian melirik Izana. “Sepertinya kita tidak perlu jauh-jauh,” katanya.


Aria heran tapi raut Izana tampak sendu, padahal baru ketemu dengan ibunya tapi malah dibuat kecewa lagi.


“Apa yang dimaksud Theo, Bang?” bisik Aria.


“Kenapa aku harus membenci Abang?”


“Kerna mama abang.”


“Aku menikah denganmu bukan dengan mamamu, tapi semoga saja bukan biar aku bisa mencoba mendekat kan diri dengan salah satu orang tuamu, kalau Adam tidak mungkinkan?”


Izana tersenyum tipis sambil tangannya mengacak acak surai Aria.


Kembali lagi ke Theo..


“Apa yang kau tertawakan?” tanya Minah.

__ADS_1


“Aku mencurigaimu.”


“Hah jangan ngawur, aku tidak tahu apa-apa!”


“Makanya jadi orang pintar dikit biar enggak dicuriga. Jelas-jelas buk Ennie tidak bisa dihubungi selama empat hari bisa bisanya kau bilang sudah Izin dengannya dua hari yang lalu, kelihatan sekali bohongnya.”


Putus sudah harapan Aria untuk memiliki hubungan yang baik dengan Minah, mendengar pernyataan Theo dia jadi yakin Minah benar pelaku.


“Ti-tidak kok, dua hari yang lalu aku bisa meneleponnya.”


“Mana ponselmu, biar aku lihat riwayat panggilannya.”


“Itu aku pinjam ponsel orang karena ponselku mati.”


“Siapa orangnya?”


“Engga tahu aku enggak kenal, orang yang kebetulan lewat aja aku mintain tolong.”


“Jadi ibu hafal nomor buk Ennie?”


“Enggak, aku ada catatannya.” Minah tahu kalau dia bilang hafal, Theo pasti akan meminta untuk menyebutkan nomor Ennie dengan mata yang terpejam.


Namun Theo masih memiliki banyak perangkap. “Mana catatannya?”


“Itu di kertas kecil, sudah hilang saat aku memasukkan nomor ke ponsel orang itu.”


“Wah persiapan Ibu sebelum HP mati ok juga ya,” sindir Theo dan kemudian tatapannya beralih pada Roni yang turun dari tangga dengan map di tangan pria itu.


Tbc.

__ADS_1


Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu


Author sangat berterimakasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.


__ADS_2