
Tiga bulan kemudian....
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi selama itu, tapi yang jelas Sari sekarang sedang hamil. Cinta tumbuh di rumah tangga mereka entah sejak kapan, yang jelas mereka lagi bucin-bucinnya sekarang.
Mungkin Sari benar-benar akan menjadi teman Aria tanpa pamrih, maksudnya bukan demi mendekati Izana tapi benar-benar karena Aria adalah temannya. Lucu sekali bahkan hingga detik ini Aria tidak pernah tahu niat Sari yang dulu.
“Cepat banget ya kamu hamil, aku aja belum hingga detik ini,” keluh Aria merasa iri, sungguh dia merasa takut sekarang, takut kalau dirinya bermasalah.
“Coba cek ke dokter atau ikut program hamil.”
“Engga ah aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kalau dokter bilang aku bermasalah.”
“Tapi bisa saja cowok yang bermasalah bukan hanya cewek.”
“Kau bilang seperti itu malah membuatku semakin takut.”
“Makanya jangan berpikir negatif, mungkin memang belum saatnya lagian kau masih suangaaaaat muda! perbedaan usia kita aja dua tahun.” Kata Sari mencoba menghilangkan pikiran buruk Aria.
__ADS_1
“Hmmm kau benar juga. ”
“Sabar saja, mungkin Tuhan punya rencana lain untuk kalian berdua.”
Yang dikatakan Sari cukup membuat Aria tenang, ya mungkin ujian sebenarnya adalah kesabaran, usia Aria masih terlalu muda jadi jangan terburu buru.
“Sari~” panggil Ambrin di seberang jalan sana, dia datang untuk menjemput Sari. Sari sudah tidak tinggal bersama orang tuanya tapi rumah Sari masihlah di daerah ini, malahan toko besar dekat depan gang blok B adalah milik Ambrin suami Sari.
“Aria suamiku sudah jemput, aku pulang dulu ya.”
“Cepat banget.”
“Oh ya sudah.”
Sari berjalan pergi ke dekat suaminya yang tengah membeli bensin di depan rumah Aria. Saat Sari sudah jauh pergi bersama Ambrin pun Aria masih menatapnya dengan tatapan penuh keirian.
“Ada apa?” tegur Izana datang dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya. Aria yang temenung menarik perhatian Izana.
Aria berbalik memeluk tubuh kekar itu, sungguh keras sekali. “Bang kalau aku mandul bagaimana?”
“Apa yang kau bicarakan?”
__ADS_1
“Sari sudah hamil padahal baru menikah. Sedangkan kita? Sudah dua tahun tapi belum diberi karunia seorang anak.”
Mengerti akan kesedihan Aria, Izana membawanya masuk ke dalam.
“Apa alasanmu ingin punya anak cepat-cepat?” tanya Izana menyudutkan Aria di dinding dengan menatapnya tajam dan mengintimidasi, dia benar-benar kesal dengan Aria yang tidak percaya diri.
“Jawab apa alasannya?”
“Ya karena malulah jadi omongan orang, Abang mana tahu karena Abang tidak dengar gosipan tetangga. Aku setiap lewat pergi ke warung ibu Emi pernah tak sengaja mendengarnya beberapa kali.”
“Kerna malu? kau ingin punya anak karena malu? yang benar saja Aria, anak itu bukan alat yang digunakan untuk menyumbat mulut tetangga. Sudah punya anak pun mereka akan tetap menggosip, tak ada habisnya kalau kau mendengarkan mereka,” marah Izana.
Malu bukan menjadi alasan untuk punya anak, biarkanlah tetangga ingin berkata apa, kehadiran anak bukan satu satunya pelengkap dalam hubungan pernikahan, melainkan setia menjadi teman hidup hingga akhir hayat dan terhindar dari nafsu syahwat pada yang bukan mukhrim, itu adalah arti pernikahan yang sebenarnya.
Melihat Aria yang menangis Izana jadi tidak tega, kasihan juga pada wanita ini yang mengiri dirinya mandul.
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu
Author sangat berterimakasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.
__ADS_1