
Sepanjang perjalanan Cindy terus saja mengoceh hal yang tidak penting, dari makanan sampai cerita mamanya yang cerewet.
Satu topik berhasil membuat Aria geram, karena dengan jelas Cindy mengatakan, “Sebenarnya aku tidak suka ikut papaku ke kantor klien, tapi kali ini berbeda kerna aku jatuh cinta sama Izana saat pertama kali dia datang ke kantor papaku minggu kemarin, dia sangat tampan dan masih muda udah jadi CEO, siapa yang enggak jatuh hati cobak hihi, jangan bilang bilang abangmu ya aku masih malu.”
“Hah! lebih baik-”
“Shuuut aku masih takut menyatakan perasaan, menurutmu aku harus apa?” potong Cindy di saat Aria mencoba memberitahu gadis itu.
“Berhenti mengejarnya.”
“Kenapa? apa harus jual mahal dulu ya biar dia yang berusaha mengejar aku.”
“Bukan itu tapi-”
“Semalam dia mengambilkan lipstikku yang terjatuh, tangan kami bersentuhan. Pasti jantungnya deg-degan sama kaya aku kan? Aku yakin dia menyukaiku juga tapi dia malu mengakuinya.”
Aria menyeringit, nih cewek terus terusan memotong perkataan nya, kapan Aria diberikan kesempatan bicara?
“Dia belum punya pacar kan Aria?”
“Bukan pacar tapi is-”
“Aaaa kalaupun dia punya pacar Izana pasti akan memutuskannya dan memilihku, pasti aku lebih cantik.”
__ADS_1
“AKU ISTRINYA!” tekan Aria karena geram perkataannya yang selalu dipotong.
Seketika mulut Cindy yang terus berkicau seperti burung itu terdiam. Krik krik krik krik tiba-tiba lift yang hanya isi dua orang ini jadi hening. Mata Aria menatap tidak suka pada Cindy.
“K-kau bukan adiknya?”
“Bukan.”
“Huhuhu papa~” Cindy menangis, saat lift terbuka dia berlari menelusuri karidor hingga membuka salah satu pintu.
Brak!
Suara pintu yang kencang membuat 4 orang di dalamnya kaget, yaitu Izana, Zin dan pak Vinsen serta sekretarisnya.
“Papa~” Cindy menangis menghadapi Vinsen.
Kemudian disusul dengan Aria yang datang dari pintu yang sama berjalan santai, telunjuk Cindy menunjuk Aria. “D-dia huhu.”
“Hei kau apakan anakku?!” Marah pak Vinsen dengan suara yang tegas, hingga Aria mundur selangkah karena takut.
“Jangan membentak istri saya, Pak!” tegur Izana dengan dinginnya.
Pak Vinsen tersentak. “Maafkan saya, saya tidak tau. Nona saya minta maaf.”
__ADS_1
“Sayang sini,” panggil Izana, Aria berjalan cepat duduk di pangkuan Izana. Susana jadi tegang kerna Aria menyembunyikan kepala Aria di dada Izana seolah dia menghindari tatapan pak Vinsen.
Pak Vinsen jadi merasa tidak enak hati. “Putri kenapa kau menunjuk istri pak Izana?”
“Dia yang membuatku menangis.”
“Pak Izana maaf tapi bisakah Anda tanyakan istri Anda kenapa membuat anak saya menangis?”
“Aria,” panggil Izana.
“Dia menyukaimu jadi aku bilang kalau aku istrimu terus dia berlari menangis, apa salahku?”
“Engga bukan salahmu.”
Pak Vinsen malu sendiri kemudian dia berdiri menarik Cindy untuk berdiri juga. “Sekali lagi saya minta maaf Pak Izana, kerna pembahasan kita sudah selesai saya pamit undur diri.”
Izana mengangguk, Vinsen menarik Cindy keluar walaupun gadis itu sebenarnya tidak mau keluar. Pada akhirnya hilang juga mereka dari pandangan.
“Zin kau kembalilah ke ruanganmu.”
Zin pun undur diri, tinggalah Aria dan Izana berdua saja. Aria melonggarkan pelukannya ingin lepas tapi ditahan kembali oleh Izana.
Tbc.
__ADS_1
...Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu...
...Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar....