Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 108


__ADS_3

Mata yang sudah cukup beristirahat semalaman terbuka menerima cahaya pagi, Aria meregangkan tubuh sebelum menurunkan kaki ke lantai. Dalam keadaan polos dia memungut pakaian di lantai hasil pergulatan tadi malam.


“Celana dal*mku ke mana perginya.” Aria bolak-balik mencari kain segitiganya, ternyata tersangkut di kaki Izana. “Ahahah kenapa bisa di situ.” Cukup lucu untuk mengundang tawa Aria.


>>>


Aria sudah mandi dan tinggal masak, tapi baru saja mau mengambil panci, bel rumah menunda pekerjaannya.


“Sari, bang Ambrin ayo masuk,” sambut Aria setelah membuka pintu. Ini sudah ke dua kalinya mereka datang.


“Izana mana Ar?”


“Masih tidur, nanti sudah selesai masak baru dia dibangunkan. Kalian sudah makan?”


“Belum! Aku datang ke sini karena mengidam ingin makan nasi goreng buatanmu,” sambung Sari, sedangkan Ambrin merasa tidak enak hati karena harus merepotkan Aria, bahkan mereka berangkat dari rumah dari jam tiga dini hari karena Sari yang terus merengek.


“Maaf ya Aria merepotkanmu.”


“Iya tidak apa-apa, kebetulan aku memang mau buat nasi goreng, duduk aja dulu kita sarapan bareng.”


Aria pergi ke dapur, baru saja mengupas bawang merah Aria langsung merasa mual. Aria kemudian melanjutkan tapi tetap saja dia sepertinya tidak bisa mencium aroma bawang mentah ini.


“Huekk, apa apaan ini!”


“Ada apa Aria?” Sari datang dengan niat membantu.


“Sari kau kupaslah bawangnya aku enggak sanggup.”


“Matamu perih?”


“Enggak, aku mau muntah menciumnya. Hueek, aduh aku tidak tahan dengan baunya.”


“Iya sini biar aku yang kupas kami mundur gih.”


Aria menjauh hingga jangkauan aroma bawang itu tidak tercium lagi. Sambil mengupas bawang Sari bertanya.. “Kamu hamil ya Ar?”


“Bodoh! Aku ini mandul.”


“Ya mana tahu kan keajaiban tuhan, kapan kau terakhir datang bulan?”


“Tiga minggu yang lalu kayaknya.”


“Tuh kan Ar, coba kamu periksa nanti ke dokter sama Izana mana tahu benaran hamil, biasanya tanda-tanda awal kehamilan itu penciuman sensitif, dada bertambah volume dengan pu*ing jadi gelap, aku kemarin kaya begitu karena pucuk dadaku sebelum hamil pink.”


“Aku tidak mau terlalu berharap, lebih baik tidak usah dari pada nanti kecewa. Sudah siap mengupas bawangnya?”


“Sudah nih.”


“Ya sudah haluskan dengan cabai sekalian, sisanya biar aku saja.”




Nasi goreng siap, Aria mati-matian menahan mual mengingat Sari mengidam masakannya. “Huwah! Hampir mati aku, Sari kau susun di meja makan aku mau banguni Izana dulu.”


__ADS_1


“Iya.”



Saat masuk ke kamar ternyata Izana sudah bangun bahkan sudah mandi, dia mau keluar hanya dengan col\*r, langsung Aria menutup pintu cepat.



“Jangan keluar begitu Bang.”



“Kenapa?”



“Ada Sari sama bang Ambrin di luar, enggak malu kamu dilihat kaya begitu sama mereka?”



Aria membuka lemari mencari pakaian untuk Izana, pakaian santai aja dulu karena Izana katanya mau ke kantor setelah jam istirahat siang.



“Pagi banget mereka datang.”



“Pagi apanya, sudah jam delapan ini.”




“Sari mengidam nasi goreng aku.”



“Oh begitu.”



Selesai berpakaian Aria dan Izana keluar dari kamar, Sari sudah tengah makan dia tidak menunggu tuan rumah, maklumin aja namanya juga orang ngidam. Tapi Ambrin menunggu Izana dan Aria.



“Maaf ya, sari enggak sopan,” ucap Ambrin.



“Engga apa-apa, biasa itu, kan dia lagi hamil,” tutur Izana, kasihan juga melihat Ambrin yang tidak enak hati.



\>\>\>


Selesai makan...

__ADS_1



“Yuk pulang,” kata Sari.



“Tunggu Sari, jangan main minggat aja habis makan di rumah orang cuci piringnya dulu.”



“Aku enggak mau cuci piring.”



“Biar aku saja yang cuci piring, kamu duduk aja.”



“Aku mau langsung pulang, rindu bantal guling.”



“Jangan begitu, Sari.”



Ambrin memang orang yang tidak enakkan, Aria menengahi mereka berdua. “Engga apa-apa Bang Ambrin, piringnya dikit kok. Turuti aja permintaan bumil.”



“Aku enggak enak kalau kaya gini.”



“Enggak apa-apa, kayak sama siapa aja.”



“Ya sudah Aria, Izana. Terima kasih ya, kami pamit pulang nih.”



“Iya hati-hati di jalan.” Lambai Aria, setelah mereka pergi Aria menghadap Izana. “Bang cuci piring sana.”



“Hah?” Izana kaget, tidak biasanya Aria menyuruhnya pekerjaan rumah, bukan tidak mau tapi aneh aja. Mau tidak mau Izana mencuci piring, apalagi melihat Aria yang tampak malas duduk di sofa sambil memegang HP.



Tbc.



Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu.


__ADS_1


Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.


__ADS_2