
“Jadi silakan ulang kesaksian kalian,” tegur Theo tapi mendapatkan tatapan tak meyakinkan dari Sari karena Theo seperti tidak serius melihatnya sibuk menyantap permen kapas.
“Pak bapak yakin menyerahkan pada anak ini?” Lirik Sari pada polisi sebelumnya, namun berbeda dengan Tati yang tidak protes sama sekali.
“Iya bicara aja dek sama dia.”
“Heh mampuslah aku, pasti anak yang tidak tahu apa-apa ini akan menyalahkanku juga,” batinnya.
“Kak kenapa kau menatapku seperti itu? Ayo bicara.”
Mau tak mau Sari bicara. “Jadi begini, kami bertiga jalan-jalan di mall, tapi si Tati tidak belanja apa-apa karena dia tidak punya duit, jadi Aria mengajak untuk makan-makan saja di pasar kuliner, kami keluar dari mall setelah memesan Ojol dari aplikasi. Kata mang Ojolnya mereka akan sampai maka dari itu kami menunggu di pinggir jalan, tapi anehnya Tati tiba menjerit sambil mendorong Aria. Aku berlari mengejar Aria yang terpelanting tapi dia malah kabur,” jelas Sari sekali lagi.
“Aku bukan kabur, aku pulang ke rumah untuk memanggil suaminya, kami tetangga rumah mereka tepat di sebelah rumahku.”
“Menjerit? Kenapa tiba-tiba Tati menjerit?” tanya Theo.
“Aku menjerit karena Sari mendorong Aria.”
“KAU-”
“Shutt! Kalian hanya perlu menjawab apa yang ku tanya, jangan ada penentangan setelah kesaksian diberikan, benar atau tidaknya kalian harus tetap diam.” Theo memotong ucapan Sari sebelum wanita ini mengumpat Tati. “Jadi Sari praktikan bagaimana cara Tati berteriak”
__ADS_1
“AAAAAAAA” teriak Sari mempraktikkan.
“Benar begitu, Tati?”
“Iya, tapi itu karena Sari mendorong Aria,” jawab Tati.
“Cari orang yang mendengar teriakan Tati,” suruh Theo.
“Orangnya sudah di sini Theo,” jawab polisi yang sudah ke TKP untuk mencari saksi lain, tapi yang mereka temukan hanya orang yang mendengar suara teriakan.
“Oh baguslah, Tati coba kau berteriak seperti kemarin.”
“AAAAAAA.”
“Iya seperti itu, tapi setelahnya saya mendengar teriakan lain.”
“Seperti apa teriakannya?”
“ARIAAAAA. Begitu setelah teriakan AAAAA terdengar,” jelas saksi menirukan suara Sari dan Tati.
“Oh begitu, coba kau kak Sari teriak seperti kemarin pasca kejadian kak Aria.”
__ADS_1
“Anak kecil ini sebenarnya hanya ingin main-mainkan? Memangnya apa yang bisa kau buktikan dari kami yang sejak tadi berteriak teriak? Mentang-mentang ayahmu berpengaruh di sini kau pikir kau bisa seenaknya!” Emosi Sari sangat meremehkan anak SMP yang tampak santai dengan permen kapasnya.
“Kaka ini terlalu meremehkanku ternyata, jangan banyak tanya cepat lakukan saja.”
“ARIAAAAA.”
“Saksi, suara itu yang kau dengar?”
“Iya persis seperti itu!”
Theo tersenyum tipis lalu kemudian kembali berujar sembari menunjuk Sari. “Kaka ini-”
“Heh anak kecil sudah kuduga kau hanya anak sok tahu.”
“Kaka ini tidak bersalah, tahan cewek gendut itu,” lanjut Theo setelah ucapannya dipotong sama Sari. Para polisi di sana langsung memborgol Tati yang bergerak ingin kabur, sekarang terlihat jelas siapa pelaku sebenarnya oleh tingkah Tati yang ketakutan.
“Iya aku tidak bersalah, kau anak kecil yang pintar ya ehehe terima kasih.” Sari lega akhirnya lepas dari posisi kambing hitam.
“Iya Kak, Kakak dan keluarga boleh pulang.”
Emi memeluk putrinya sungguh dia sangat takut tadi, sedangkan keluarga Tati sudah menangis masih tidak percaya kalau Tati benar mendorong Aria.
__ADS_1
Tbc.