
Sebelum mangantar makan siang Izana terlebih dahulu Aria mengunjungi ibunya. Sopir taksi sudah datang depan apartemen, Aria turun menghampiri.
“Yok Dik”
“Siap, Nona”
Kalian ingat Dika? dipart 87 dia datang ke rumah Izana untuk minjam uang. Sekarang dia jadi supir taksi kerna jera digebukin warga, Dika adalah langganan Aria, kerna dengan pria ini Izana tidak akan cemburu.
“Ke rumah sakit kan?”
“Iya, sudah itu kita ke kantor suami aku.”
“Tumben biasanya langsung pulang.”
“Dianya yang minta antarkan makan siang, mungkin hari ini sibuk makanya enggak sempat pulang.”
Sesampainya di rumah sakit Dika tetap menunggu Aria, dia di bayar lebih untuk itu.
Entah kapan Ennie akan membuka matanya, Aria hanya bisa berdoa untuk kesadaran ibunya. “Selamat siang Ibu, hari ini aku datang terlambat. Lihat aku bawa bunga tulip ungu hari ini, Ibu kan suka bunga ini.”

Aria mengganti bunga mawar yang ada di vas dengan bunga tulip yang dia bawa, bunganya masih segar dan cantik kerna langsung dipesan dari Kazakhstan.
Bunga tulip ungu memiliki arti yang klasik dan menawan. Hal ini karena tulip ungu sempat muncul dalam cerita Hamlet karya William Shakerspeare sebagai simbol kebangsawanan.
Ennie menyukai bunga itu kerna mendiang ayah Aria pertama kali memberikan bunga itu sebagai bentuk menghormati Ennie bak bangsawan belanda, walaupun pria itu sejatinya dingin dan enggan menunjukkan perhatian hingga akhir hayatnya.
“Suster.”
“Iya.”
“Tubuh Ibu sudah dibersikahkan?”
“Sudah Dek.”
“Kapan sih ibuku bangun, lama banget.”
__ADS_1
“Sabar aja dek banyakin doa” *Dan juga uang*. batinnya.
Jangan khawatir buk suster, Aria sekarang kaya, bukankah sudah terlihat dari outfit Aria yang branded.
\>\>\>
Dika sudah menunggu selama 45 menit, dia sangat santai sambil makan snack dan merokok di luar agar mobil tidak bau asap, Aria tidak suka bau asap.
“Ah itu dia,” gumam Dika melihat Aria keluar dari rumah sakit.
“Dika ayo cepat, ini sudah jam makan siang.”
“Ok.”
**Brumm**~
Sampai di kantor Aria menjadi pusat perhatian para karyawan yang berlalu-lalang habis makan siang.
“Cantik banget.”
“Di mana dia merawat kulitnya?”
“Kalau jomblo gue crush in.”
Kira kira begitulah yang dapat terdengar di telinga Aria, namun dia cuek. Aria singgah di meja resepsionis, untuk bertanya. “Ruangan Izana di mana?”
“Dengan siapa Kak?”
“Saya istrinya.”
Mata resepsionis membulat, dia ingat bos besar ada menitip pesan kalau istrinya akan datang. *Ternyata secantik ini ya*. batinnya.
__ADS_1
Yang tadinya ingin mendekati Aria langsung mati kutu tak berani, bisa-bisa mereka kehilangan pekerjaan jika berani menggoda istri bos, mereka menangis dalam diam.
“Sa-saya akan antarkan, Buk.”
“Hmm ok.”
Baru saja resepsionis mau keluar dari tempatnya, seorang wanita datang mendekatinya, dia adalah putri klien perusahaan. “Hai kamu cantik sekali.” Dia menggandeng tangan Aria seolah sudah akrab.
“Kenalkan aku Cindy.”
“Aku Aria.”
“Kau di sini karyawan ya? Aku baru lihat kamu loh di sini, padahal seminggu ini aku sering ke sini bersama papa. Kau mau makan bareng enggak?”
“Enggak aku mau antarkan bekal untuk bang Izana.”
“Oh jadi kamu adiknya, yaudah bareng aku aja kebetulan aku juga mau ke sana.”
Aria kesal mulai berpikir macam-macam “Ngapain kamu ke ruang bang Izana?!”
“Kan papaku juga di sana.”
Aria enggakak jadi kesal. “Yaudah ayok, kak resepsionis aku bareng dia aja kaka lanjutkan kerja aja.”
Walaupun tidak kenal Aria ikut saja sama Cindy, kan sekalian. Lagian sepertinya Cindy sangat pandai bergaul, terlihat dari sifatnya yang friendly dan girang.
Tbc.
...Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu. ...
__ADS_1
...Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar....