Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 41


__ADS_3

Setelah perjalanan panjang yang menghabiskan waktu empat jam, Aria merasa capek dan ingin segera istirahat. Dia pergi mandi terlebih dahulu karena debu jalanan di sekujur tubuhnya.


“Bang mandi sana,” ujarnya yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk.


“Lihat kamu yang kaya begini abang jadi ingin.”


“Nanti malam aja.”


“Ok nanti malam, lagian sekarang abang ada urusan lain,” katanya sambil melangkah keluar.


“Loh Abang mau ke mana lagi? Enggak capek apa?”


“Nanti malam makan aja duluan jangan tunggu abang, mungkin paling lambat abang pulangnya jam sepuluh, kamu jangan tidur dulu ya kita begituan dulu,” godanya sambil memainkan alis naik turun.


“Hmm~” dehem Aria memasang wajah malas.


“Sini cium dulu.”


“Abang dekat depan pintu menyuruh aku ke sana? Aku cuman pakai handuk loh.”


Izana jalan mendekati Aria, dia menarik pinggang ramping itu untuk mengikis jarak. Bibirnya langsung ******* pelan, tidak ada nafsu melainkan kasih sayang.


Setelah sekiranya beberapa menit bermain lidah pautan itu terlepas berganti ciuman lembut di dahi.


Cup~


“Hmm, wanginya istri aku. Abang pergi dulu ya kamu jangan main jauh-jauh, ingat tunggu abang pulang.”

__ADS_1


“Iya, tapi kalau lebih dari jam sepuluh aku tinggal tidur.”


“Ok, abang pastikan sebelum jam sepuluh sudah pulang.” Izana pergi sendirian keluar sedangkan Aria kembali ke kamar untuk berpakaian.


Setelah lengkap berpakaian Aria langsung tertidur.


Naik motor lebih melelahkan dibandingkan dengan mobil, bisa di bilang mobil adalah kendaraan ternyaman untuk bepergian. Aria yang biasanya selalu naik mobil kini setelah menikah dia barulah merasakan berada di atas motor, tentu saja itu hal baru baginya dia belum terbiasa hingga begitu saja sudah terasa capek.


.


.


Tok tok tok


“Aria.”


Merasa tidurnya diganggu, Aria terbangun saat melihat jam ternyata sudah jam setengah empat sore, cukup lama ia tidur siang ini.


Cklek~


“Eh Sari, ada apa Sar?” tanya Aria tidak malu dengan wajah bantalnya yang tampak masih mengantuk.


“Kamu tidur ya?”


“Iya.”


“Jadi aku ganggu nih?”

__ADS_1


“Enggak kok, aku memang seharusnya bangun karena sudah hampir jam empat, masuk Sar.”


Kaki Sari melangkah masuk sedangkan matanya celingak-celinguk mencari keberadaan Izana. “Suamimu mana Ar? Kok enggak ada kelihatan?”


“Pergi tadi entah ke mana?”


“Sial padahal aku sudah dandan cantik begini,” rutuk Sari dalam hati, dari semalam memang dia bolak balik ke sini tapi tuan rumah sedang pergi, dan sekarang? Dia tidak gagal bertemu dengan Izana lagi.


“Memangnya kenapa dengan suamiku?”


“Eh enggak cuman nannya aja, pantas saja rasanya rumahmu jadi sepi.”


“Kau ke sini bukan karena ingin menggoda suamiku, kan?” tanya Aria sambil melirik penampilan Sari dari atas sampai bawah, dia memakai baju yang kurang bahan bahkan parfumnya tercium begitu menyengat.


“I-ih Aria enggak lucu bercandamu, sebenarnya aku ke sini mau mengajak kamu jalan-jalan besok ke mall kamu mau enggak?”


“Ohh begitu, kalau itu nanti kukabari lewat chat, aku harus bilang dulu sama suamiku.”


“Kenapa harus bilang dulu?”


“Kan uangnya dari dia, kalau misalnya dia enggak ada uang bagaimana dong jajan di mallnya? Engga mungkin kan aku hanya melihat saja.”


“Baiklah aku mengerti, kalau begitu aku pulang ya.”


“Cepat banget.”


“Ehehehe mau bantu ibu.” Sari pergi, padahal besok dia tidak ingin jalan-jalan tapi Sari terpaksa beralasan mengajak ke mall karena Aria mencurigainya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2