
Pukul sembilan malam Aria dan Izana duduk di depan TV sambil makan mie instan rebus pakai telor, mereka sudah makan malam tadi pukul tujuh tapi pingin yang anget-anget karena malam ini dingin, jadilah mie rebus enak.
'Kejadian tak terduga terjadi tadi malam, seorang pembandar narkoba dibegal bersama dengan dua temannya yang datang untuk menolong juga ikut disikat oleh si begal! Hingga detik ini polisi belum menemukan begal, sedang kan korban yang merupakan pembandar di kenai pidana tujuh tahun penjara. Tapi entah aksi heroik atau apa, berkat pembegalan tersebut polisi berhasil menangkap buronan yang selama ini dicari.'
Aria menganga mendengar berita di televisi, ini cukup konyol dan aneh. Sorot matanya perlahan melirik Izana yang memasang ekspresi biasa saja.
“Kenapa?” katanya menanggapi Aria.
“Begalnya bukan Abang, kan?”
“Iya itu abang.”
Puk... Aria menampar kening pelan, lucu sekali, dia menonton berita yang pelakunya tepat berada di samping. Sekarang Aria harus bangga atau gimana? Suaminya udah membantu polisi loh.
“Jadi apa yang Abang ambil dari mereka?”
“Satu mobil dan dua motor, tadinya hanya mobil tapi dua temannya malah datang. Abang sikat semuanya, terus s4bu s4buannya abang taruh kebawah, jadi deh mereka ketangkep polisi ahahaah.”
Kalau benda terlarang itu dibawa dengan mobil berarti itu tidak sedikit, Izana menurunkan sebanyak itu di jalan, jelas saja benda itu tampak mencolok.
__ADS_1
“Bang.”
“Hmm.”
“Sudah cukup.”
“Apanya?”
“Ngebegal lah, nanti kalau Abang ketangkap aku bagaimana? Yang benar-benar aja biarlah gaji sedikit, aku akan berhemat.”
“Jangan dipikirkan.”
“Ngantuk, tidur yuk.”
““Ck Huh~” Aria menghela nafas berat dia tau Izana menghindari percakapan ini. Entah sampai kapan, tapi Aria merasa sebentar lagi ini akan berakhir, sebentar lagi pasti sebentar lagi, sesuatu pasti akan membuat Izana berhenti.
...***...
Zin bingung, ah tidak maksudnya seluruh orang yang berada di kantor ini dilanda kebingungan. Sejak kapan perusahaan diambil alih oleh Roni? Kenyataannya Roni lah yang duduk di tahta itu.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa menentang, termasuk Zin sekretaris Ennie, tertulis jelas surat pengalihan perusahaan yang langsung di tanda tangani oleh Ennie.
“Maaf Pak Roni, ini sudah tiga hari semenjak Anda menjabat, jadi buk Ennie di mana sekarang?” tanya Zin sangat berhati-hati.
“Dia jalan-jalan keluar negeri, sudah seharusnya aku yang bekerja dia yang bersantai. Sudah kau jangan tanyakan istriku lagi, lebih baik ajari aku lagi.”
Siapa yang akan percaya? Tkdak mungkin Ennie menyerahkan kantor pada orang yang tidak tau apa-apa seperti ini. Terlebih Ennie tidak memberitahukan apa-apa terlebih dahulu pada Zin yang notabenya sebagai sekretaris yang akan berganti tuan, sebagai orang pintar Zin tidak percaya itu.
“Sepertinya harus di selidiki dulu, semakin hari semakin mencurigakan.” Selama Tiga hari ini Zin tidak banyak cakap, kerna dia sendiri tidak bisa menghubungi Ennie dan harus berhati-hati dengan Roni.
“Pak siang ini pak Adam akan datang.”
“Adam? Siapa itu?”
Lihat kan? bahkan rekan kerja penting saja dia tidak tau. Tidak mungkin Ennie menyerahkan kantor tanpa menjelaskan apa-apa pada Roni.
Tbc.
...Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu...
__ADS_1
...Author sangat berterimakasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar....