
Rumah sakit di krubuni polisi, mereka melakukan tugas nya untuk menyelidiki. Suster di bawa oleh mereka untuk melanjutkan penyelidikan di kantor agar lebih nyaman, ingat ini rumah sakit banyak orang yang datang berobat tidak efesien kalau polisi menghalangi jalan mereka.
Sebelum suster masuk ke dalam mobil polisi sebuah tangan menyentuh pundak nya.
“Terimakasih sudah menyelamatkan ibuku” Ini adalah Aria, dia sudah mendengar semua cerita dan juga CCTV.
“I-iya”
“Tenang saja aku yakin suster tidak akan di penjara, kalau pun di penjara kami akan menuntut persidangan untuk membebaskan mu” Tidak mungkin Aria membiarkan orang yang menyelamatkan ibunya di penjara.
“Terimakasih, aku jadi lebih tenang sekarang” Kata suster lalu kemudian di bawa pergi.
“Udah? ayo kita kembali ke ruangan ibu”
Kalau kalian bertanya tentang Roni, dia sudah di kuburkan tadi pagi. Soal biaya Izana lah yang menanggung, kerna status nya adalah ayah tiri Aria.
Izana dan Aria kembali ke ruangan Ennie mereka berdua duduk di dekat Ennie. “Ibu syukurlah suster itu menyelamatkan mu” Kata Aria sambil menggenggam jari Ennie yang dingin.
Tak di sangka tangan Aria malah di genggam oleh Ennie. “Bang! ibu genggam tangan aku”
Mata Ennie terbuka, dia sadar dari koma. “Ibu! ibu ini aku Aria. Bang panggil dokter!”
“Izana” Panggil Ennie hingga Izana menghentikan langkah kaki nya. Hebat sekali Ennie bisa langsung bicara setelah bangun dari koma berbulan bulan.
__ADS_1
“I-iya ibu”
“Kemarilah”
Izana mendekat duduk di samping berhadapan dengan Aria. Posisinya tangan kanan dan kiri Ennie di genggam satu oleh ke dua orang itu.
“Ibu percayakan Aria pada mu, kamu jaga dia baik baik ya” Kata Ennie.
“Iya bu aku selalu menjaga dia dengan baik, ibu cepat lah sehat dan tinggal bersama kami. Aria sedang hamil loh”
“Kau hamil nak, syukur lah ibu tenang mendengar nya” Senyum Ennie tipis lalu berkata. “Maaf kan ibu ya, jangan sedih jika ibu tidak ada kan ada suami kamu yang selalu ada”
“A-apa maksud ibu?”
Ennie perlahan menutup mata bersamaan dengan dokter datang, pegangan tangan itu juga melonggar.
“Oh iya dok tidak apa apa, ini ibu saya-”
“Ah iya kami akan pindahkan sekarang”
“Pindahkan ke mana?”
“Ke ruang mayat”
__ADS_1
“APA MAKSUD MU!” Tariak Aria langsung berdiri bersama Izana yang juga ikut kaget.
“Apa tidak ada yang memberitahu?” Bisik dokter pada suster nya.
“Sepertinya kelupaan pak kerna banyak sekali yang harus di tangani”
Aria sudah memasang wajah permusuhan, enak saja ibu nya di pindahkan ke ruang mayat padahal dia sudah membayar mahal ruang VIP ini.
“Sepertinya ada kelalaian dari petugas kami hingga lupa memberitahu kalian. Buk Ennie sudah meninggal subuh tadi pukul empat lebih dua di kernakan racun yang sempat di suntikan oleh saudara Roni sebelum jatuh”
“A-anda berbohong kan? ba-barusan ibu saya bangun dan berbicara dengan saya loh dok”
“Tidak mungkin dek, ibuk Ennie sudah meninggal empat jam yang lalu. Anda bisa lihat sendiri”
Aria menoleh kebelakang, dan benar saja Ennie sudah pucat. Kemudian Izana yang mengecek hidung Ennie, benar! Ennie tidak bernafas. Kalau di ingat saat Aria menggenggam tangan Ennie, tangan Ennie sudah dingin tadi.
“huhu Ta-tadi ibu saya tidak pucat seperti ini dok” Aria merosot ke bawah, dia tidak sanggup benar benar menyesakkan dan membingungkan. “Bang, aku tidak sedang berhalusinasi kan hiks?”
“Kau tidak sendiri, tadi ibu benar-benar ngomong dengan kita”
Izana memeluk Aria, wanita itu menangis tersedu sedu. Kenyataan ini sangat sulit di Terima dan juga tidak masuk akal.
Tbc.
__ADS_1
...Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu...
...Author sangat berterimakasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar....