
Melihat Aria yang menangis Izana jadi tidak tega, kasihan juga pada wanita ini yang mengiri dirinya mandul.
“Sudah jangan menangis lagi”
“Jawab dulu pertanyaan ku, kalau aku mandul bagaimana?”
“Enggak apa-apa, masih banyak anak di panti asuhan yang butuh orang tua. Mungkin itu salah satu alasan tuhan menciptakan wanita mandul.”
“Iya juga ya, kupikir untuk pasangan LGBT hihi.”
“Ya itu juga mungkin.”
Aria berhenti menangis, setidaknya Izana tidak mempersalahkan tentang anak. Aria hanya perlu menulikan telinga akan omongan tetangga, Izana benar kalau Aria memanglah belum dewasa, tidak perlu buru-buru masih banyak kesibukan di dunia ini selain mengasuh anak.
Sebagai seorang abang yang sangat memanjakan adiknya, Samuel cukup pusing oleh tingkah Dendy yang sering sekali keluyuran meninggalkan segala tanggung jawab.
Kini dia balik lagi ke kota yang belakangan ini menjadi tempat favorit Dendy, saking kesalnya dia karena harus berkejaran dengan waktu hingga tak melihat lagi gadis yang membawa banyak barang.
Brugh.
“Aww,” keluh gadis itu, kakinya tergores akibat sedikit tersenggol mobil yang lewat.
Menyadari barusan mobilnya mengenai pejalan kaki, Semuel langsung turun menghampiri gadis itu.
“Kau tidak apa-apa?”
“Iya tidak apa-apa.”
__ADS_1
Gadis itu ingin berdiri, tapi Samuel mencegahnya. Dia akan merasa sangat bersalah jika tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. “Kau pegawai di kafenya Sesil kan?”
“Iya aku Moon, kau pasti datang mencari adikmu lagi, dia ada di kafe bersama Sesil.”
“Kalau begitu sekalian aja ikut denganku, tujuan kita sama kan?”
Moon mengangguk menerima ajakan Samuel, dia tidak ragu karena Samuel adalah orang yang sering dia lihat di kafe. Tapi baru pertama kali mereka berbicara sebanyak ini.
Samuel membantu mengangkat barang belanjaan Moon untuk dimasukkan ke dalam mobil. Sedangkan Moon bisa berjalan sendiri, dia hanya tergores sedikit.
“Maaf ya, ini salahku,” kata Samuel.
“Oh iya aku boleh enggak minta nomor kamu?”
Bolehkah Moon untuk ge-er sedikit? Memangnya apa arti cowok meminta nomor HP cewek selain untuk dekat atau temanan? Entahlah tapi Moon terlihat menahan senyum.
“U-untuk apa?”
“Kau lihat sendiri kan Dendy? Aku capek mencarinya ke sana ke sini padahal kerjaku banyak. Jadi kalau aku punya nomormu aku bisa menanyakan kepadamu, kau pasti sering melihat dia bersama bosmu kan?”
“Oh iya.” Rasanya kecewa sedikit, berharap berlebihan itu memang tidak baik.
__ADS_1
Sesampainya di tujuan Samuel kembali mengangkat barang-barang Moon ke dalam, Kafe ini tidak asing lagi jadi dia santai saja.
“Sudah Moon, semua sudah kubawa ke belakang.”
“Iya terima kasih.”
“Samuel dan Sesil ada di ruangan itu kan?”
“Iya masuk saja Sam kalau mau menggerbek.”
Sesuai perkataan Moon, Samuel membuka pintu tanpa mengetuk pintu. Pemandangan pasangan yang lagi bercumbu di atas sofa bukanlah hal yang mengejutkan bagi Samuel, dia terlalu sering memergoki Dendy seperti itu.
“Dendy.”
Mereka baru sadar kalau ada tamu tak diundang masuk, Sesil langsung bersembunyi di balik selimut membiarkan Dendy dengan tubuh polosnya terlihat oleh Samuel.
“Kenapa sih Bang ganggu terus!?”
“Ayo pulang kerjamu masih banyak, abang capek harus mengerjai doble berhentilah main-main kau itu sudah dewasa.”
“His, keluarlah dulu pacarku tidak pakai baju,” usirnya.
Tbc.
__ADS_1