
Saat bangun tidur Aria sudah mendapati Izana yang tertidur pulas, berbeda dengannya pakaian Izana lengkap tidak seperti Aria yang polos karena tadi malam dia cukup malas untuk beranjak dari kasur.
Senyuman tipis terukir manis di wajah Aria, percayalah senyuman itu mencoba menahan rasa penasaran yang selama ini ia pendam. Tatapanmya sayu mengarah pada pria yang mendengkur halus.
“Apa aku tanyakan saja ya nanti?” gumamnya sendiri dengan segala keraguan yang mendesak untuk di keluar kan.
“Baiklah akan kutanyakan setelah dia bangun.”
Aria beranjak dari kasurnya memungut pakaian untuk langsung dicuci, Aria tidak suka menumpuk-numpuk pakaian kotor, setelah pakai pasti akan dia cuci, selalu begitu.
Pekerjaan rumah sudah selesai semua hanya tersisa memasak, hari ini dia harus mengungkapkan unek-uneknya pada Izana maka dari itu harus membuat perut pria itu kenyang terlebih dahulu.
“Aria kau masak apa?” Suara parau khas bangun tidur itu seolah berbisik di telinga, jelas saja! Izana tengah memeluk Aria dari belakang dengan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Aria.
“Gulai ayam dan sambal ijo.”
“Hmmm~”
“Abang pergi mandi sana.”
Enggak bersuara lagi, Izana langsung pergi ke belakang memang niatnya tadi mau mandi, tapi karena lihat punggung Aria perasaan ingin memeluk itu mencegahnya untuk ke kamar mandi.
>>>
Masakan sudah selesai begitu juga dengan Izana yang sudah segar duduk di meja makan.
__ADS_1
“Enak enggak?” Pertanyaan seperti ini selalu terlontar ketika Izana memakan masakan Aria, Aria selalu ingin tahu pendapat Izana.
“Enak, seperti biasa masakanmu enggak pernah mengecewakan.”
Pujian ini yang selalu ingin Aria dengar, karena ingin mendapatkan pujian itulah memasak menjadi salah satu hobinya.
Setelah kenyang plus membersihkan piring Aria duduk di samping Izana dengan tatapan serius.
“Ada apa?” heran Izana.
Helaan nafas terdengar berat, Aria mencoba mengumpulkan keberaniannya. Selama ini Izana tidak pernah cerita tentang keluarganya jadi Aria takut pertanyaannya dapat menyinggung.
“Bang kenapa kau menyembunyikan identitas keluargamu padaku?”
“Pak Adam yang membantu perusahaan ibuku itu.. ayahmu kan?”
Tidak ada reaksi dari Izana dia tampak diam, entah apa yang membuatnya tidak mau mengakui orang tua sendiri. Tangan Aria memegang tangan Izana halus dengan tatapan tulus.
“Kenapa Abang tidak mau mengakuinya ada masalah apa kalian? Tolong cerita dengan ku aku berhak tahu.”
“Aria kau tahu semua itu dari mana?”
“Dari Putri. Tapi abang tenang saja Putri tidak tahu kalau aku anak ibu dan juga istri abang, aku merahasiakan karena tampaknya Putri masih mengharapkan Abang.”
Berbeda dengan sebelumnya ekspresi Izana kini tampak cemas, dia menatap bola mata Aria dengan tatapan keterkejutan.
__ADS_1
“Kau mengenal Putri!”
“I-iya dia temanku, dia juga adik tirimu kan?”
“Jauhi dia! Jangan pernah berteman lagi dengannya.”
“Apa Abang sama kaya Sesil yang mengira Putri lah pelaku atas kematian Ella?”
Pening sudah kepala Izana, dari mana Aria mengetahui sampai sedalam itu? Dari mana sumbernya? Kalau begini bagaimana caranya ia tetap merahasiakan semua tentang masa lalu?”
Dengan kasar Izana mengacak acak rambutnya sendiri, dia sebenarnya malas mengingat masa lalu yang memuakkan untuk dikenang.
“Jawab Bang!”
“Bang kamu harus cerita sama aku!”
“Ini tidak adil, Abang tahu tentang aku tapi aku tidak tahu tentang Abang! Kalau Abang tidak mau cerita aku tidak mau percaya sama abang lagi, lebih baik aku tanya langsung pada ayahmu!”
“Aria.” Izana menegur lembut tapi entah kenapa bulu kuduk Aria merinding, suara itu seolah menahan amarah yang dalam dan kelam. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Kenapa mata itu begitu mengerikan?
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu
Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.
__ADS_1