
Gerah dan berkeringat, Aria terbangun dari tidur karena alasan itu. Saat ia melihat ke jendela matahari di luar sana begitu terik dihiasi oleh kicauan burung kawin.
“Hah akhirnya kau bangun juga, ini sudah jam satu siang tahu!” sahut Sari yang entah sejak kapan berada di rumahnya.
Mata Aria membulat kaget, apa jam bergerak mundur? Seingatnya dia tidur kisaran jam empat sore kenapa Sari bilang sekarang jam satu?. Di liriknya jam ternyata memang jam satu, seketika otak Aria ngebug.
“Hei kau ini kenapa? Haloo~” Tangan Sari melambai lambai di wajah Aria yang menatap kosong jam dinding.
“Aria kau mengigau ya?” Seketika Sari mengguncang tubuh Aria hingga wanita itu tersadar.
“Jam satu?” ulangnya dengan mata melotot.
“Iya memangnya kenapa?”
“Berarti aku sudah tidur selama 22 jam?”
“Ma-mana kutahu, tadi pagi aku datang ke sini kau masih tidur.”
“Terus suamiku mana?” Kepala Aria mutar kanan kiri mencari keberadaan Izana yang entah ke mana.
“Dia pergi kerja katanya, maka dari itu dia suruh aku temani kamu di sini. Kamu kan enggak bisa jalan jadi butuh seseorang sebagai kaki. Oh iya ini makanlah dulu, suamimu tadi yang beli” Sari mengarahkan sendok ke mulut Aria, ya dia menyuapinya karena tahu Aria tidak bisa memegang sendok sebab perban di tangannya.
__ADS_1
“Terima kasih, Sari.”
“Iya, jadi apa kau sekarang membenci Tati?”
“Aku tidak tahu, tapi aku marah dengannya. Dia sengaja kan? Jelas sekali tangannya mendorongku, itu bukanlah senggolan.”
“Iya aku juga lihat dengan jelas, kau tahu Aria waktu kamu belum sadar dia menuduhku yang mendorongnya.”
“Hah kok begitu?”
“Enggak tahu, untung ada detektif cilik yang mengeluarkan aku dari posisi kambing hitam, aku hampir saja jadi tersangka.”
Aria adalah manusia yang pada dasarnya diciptakan egois, dia bukanlah manusia berhati malaikat yang bisa melupakan kejadian yang membuat dia sakit dan susah.
“Bencilah pada Tati.. Bencilah pada Tati. Gadis jelek itu memang pantas dibenci,” sorak Sari dalam benak ketika melihat perubahan ekspresi Aria yang seolah menyimpan dendam.
Tok tok tok
Di luar terdengar suara ketukan, Sari bergerak keluar kamar untuk membuka pintu dengan semangat dia pikir yang datang adalah Izana.
“Aduh harus terlihat cantik nih, aku harus bilang apa ya? ‘Aku sudah menyuapi Aria makan’ ah tidak-tidak jangan begitu, nanti dikira pamrih lagi. Apa ya?” gumamnya kebingungan sendiri menyusun kata hingga ketukan itu terus menuntut untuk dibuka.
__ADS_1
Kreek!
Mata Sari terbelalak karena yang datang bukan Izana melainkan dua wanita yang tidak kenalinya.
“Ini benar rumah Aria kan?” tanya salah satu dari mereka.
“Iya, kalian siapa?”
“Kami teman Aria, aku Moon dan dia adalah Sesil.”
Sari membuka pintu lebar mempersilahkan mereka masuk, dia memimpin mereka untuk sampai ke Aria menyimpan rasa kecewa di dada.
“Aria temanmu datang,” katanya dengan nada malas.
“Moon Sesil?”
“Aria.. Kami baru dengar loh tentang kamu dari salah satu pelanggan, katanya kamu didorong, memangnya benar ya?” Moon tampak khawatir sedangkan Sesil tampak biasa saja, malahan dia mengupas apel yang ia bawa sendiri.
Sari kesal dengan Sesil karena barusan Sesil menyuruhnya mengambil pisau, sikap Sesil yang seakan bos ingin sekali Sari mencekik.
Tbc.
__ADS_1