
Hari ini adalah hari H nya, Aria dan Izana sudah rapi dengan pakaian yang mereka beli semalam.
Tampilan seperti ini memperlihatkan bagaimana serasinya mereka berdua. Mereka sudah sampai di lokasi, cukup mengesankan mungkin suami Sari banyak duit maka dari itu ayah Sari bersikeras menikahkan anaknya.
“Wih ramai ya Bang nikahan Sari, dulu kita nikahnya cuman di kantor KUA.”
“Ya sudah nanti kita adakan resepsi,” saran Izana dia tidak ingin melihat Aria iri dengan pernikahan orang lain.
“Engga ah, yang penting kita sudah sah aja cukup.”
Kemudian Aria dan Izana menuju ke tempat pelaminan untuk memberi salam pada Sari, gadis itu sekuat tenaga menahan tangis.
“Selamat ya untuk kalian berdua, kalian cocok loh moga langgeng ya,” kata Aria sembari menyalami pengantin.
Ambrin pasangan Sari tampak sangat bahagia, sepertinya dia benar-benar mencintai Sari itu terlihat dengan sangat jelas.
Aria pun mendekat untuk membisikan sesuatu pada Sari. “Malam pertama sakit loh.”
“Ih apaan sih Aria!” Sontak Sari menjauhi diri dari Aria yang tersenyum menggoda. “Ahaha mampuslah kau, yok bang kita makan rendang.”
Karena perkataan Aria tadi Sari jadi kepikiran, akankah malam ini dia di bobol? Sungguh dia tidak rela kerna Ambrin bukan sosok yang ia mau. Sedangkan sosok yang ia mau malah makan bersama Aria di hari pernikahannya, sungguh sangat lucu takdir ini.
“Sari kenapa liatin kita terus dari tadi, Bang?” Aria sadar dengan tatapan Sari di sana, dia jadi enggak konsen makan.
“Enggak tahu,” jawab Izana yang tidak peduli ke manapun arah pandangan Sari.
“Mungkin aku ambil lauknya kebanyakan kali ya Bang?” Entah pemikiran dari mana ini, Aria kadang bodoh kadang pintar.
__ADS_1
“Pfft.” Izana menahan ketawa, bagaimana bisa Aria berpikir seperti itu? Adakah pengantin yang memperhatikan piring tamu undangan?
“Sari kau pelit banget,” kata Aria menggunakan bahasa isyarat sedangkan di sana Sari bingung sebenarnya Aria bicara apa. Dia menyeringiti dahi mencoba untuk menerjemahkan.
“Sayang sudah, malu di ihat orang, makan saja,” tegur Izana.
Pov Sari.
Pesta pernikahan sudah selesai sejak jam 4 sore tadi, ini sudah jam 10 malam dan suasana terasa canggung. Sari yang tidak menyukai Ambrin begitu malah tidur satu ranjang bersama pria itu.
Ambrin tersenyum tipis, dia mencoba mengerti perasaan Sari. Ambrin mengambil bantal lalu diletakkan di lantai di samping ranjang, dia pun bebaring di situ.
“Aku tidur di sini boleh kan?”
“Terserah asalkan jangan satu ranjang denganku. ”
__ADS_1
Untuk saat ini sabar adalah kunci utama, segala sesuatu butuh proses. Ambrin akan menunggu sampai saatnya tiba, maka dari itu dia harus berusaha.
Jam 11.30 malam, Sari belum bisa tidur dia tidak bisa tenang, Sari melihat ke bawah ternyata Ambrin tidur dengan nyenyak tapi dia terlihat kedinginan.
Kerna kasihan, Sari berjalan ke lemari mencari selimut untunglah ada satu selimut lagi. Dia sedikit ragu untuk menyelimuti Ambrin.
“Hais repotin aja, jangan salah paham aku hanya berbuat baik saja,” gumamnya namun tangan itu tetap menyelumuti Ambrin.
Sari tidak tahu saja kalau Ambrin juga belum tidur, dia hanya menutup mata karena badannya tidak nyaman berbaring di lantai. Tapi dia senang ternyata Sari perhatian juga.
Tbc.
...Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu...
__ADS_1
...Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar....