
Berkat kejadian tadi malam Aria jadi jera menanyakan soal perasaan pada Izana. Walaupun begitu nama Ella terngiang-ngiang terus di kepala mengusik ketenangannya.
“Apa lagi?” tanya Izana karena Aria menatapnya sejak tadi.
“Abang bilang abang mencintai ku tapi kenapa memimpikan Ella?”
“Huh~ kau ini, memimpikan seseorang bukan berarti aku mencintainya, kemarin abang mimpi dikejar ayah tirimu sampai kejang-kejang apa mungkin abang punya perasaan sama Roni ya?”
“Is masa begitu sih! Ini tentang Ella bukan Roni.”
“Ya tapi sama-sama di dalam mimpikan? Sudah jangan ngambek lagi, Ella itu masa lalu sedangkan kau masa depan, abang memang memimpikan dia semalam tapi mimpi buruk bukan mimpi indah, karena mimpi indahku ada di sini.” Cubitnya pada pipi Aria mengunyel-unyelnya gemas.
“Benaran bukan karena rindu Ella.”
“Iya sayang, mimpi itu sangat buruk sampai abang tak ingin mengingatnya lagi.”
Obrolan mereka terhenti ketika mendengar suara Ennie yang memanggil dari luar. “Aria Izana apa kalian sudah bangun?”
“Cepatlah turun, sarapan dulu sebelum lauknya dingin”
“Iya”
.
__ADS_1
.
Sampai di meja makan Aria dan Izana duduk berdampingan mendapat tatapan heran dari Ennie dan Roni, sepertinya mereka siap untuk menginterogasi.
“Tadi malam kalia-”
“Abang semalam mengingau Bu, lupakan saja,” potong Aria cepat sebelum ibunya selesai bicara, dia sudah tahu apa yang ingin ditanyakan Ennie.
“Astaga Izana mengigaumu ngeri banget, sampai teriak-teriak pakai mic loh.”
“Itu masih mending Bu, kemarin dia joget ngebor malam-malam.”
“Eh apa itu! Bohong Bu mana pernah aku joget,” tolaknya tidak terima dengan tuduhan Aria yang memang tidak pernah terjadi. Sejak tadi dia diam saja tapi kalau kayak begini tuduhannya mana bisa Izana diam saja.
“Abang mana tahu, Abang kan tidur.”
“Aku buktinya, mataku ini yang melihatnya Abang joget sampai ngesot di lantai, beeeeh~ geyal-geyol kanan kiri.”
“Dasar pembual kita kan tidur dengan lampu yang mati, mana bisa kau melihat sedetail itu.”
Pagi-pagi ini Ennie sudah disuguhi perdebatan kekanakan antara Izana dan Aria, tak ada niatan baginya untuk menengahi mereka karena menurut Ennie ini sangat lucu dia harus menonton lebih lama lagi sebelum sarapan yang sesungguhnya jadi santapan.
>>>
__ADS_1
Sekitar pukul sepuluh siang Izana dan Aria berpamitan untuk pulang, kesehatan Ennie juga sudah membaik jadi mereka bisa tenang meninggalnya.
“Ibu jangan terlalu memaksakan diri lagi, istirahatlah yang cukup.”
“Iya Aria, kau ini bawel ya.”
“Kami pamit ya Bu, kapan-kapan mainlah ke rumah kami.”
“Hmm kalau ada waktu ibu akan ke sana, hati-hati ya bawa motornya Izana.”
“Iya Bu.”
Sekarang tinggallah Ennie sendiri masih menatapi motor yang kian menjauh, sedangkan Roni entah apa yang dilakukan hingga tidak keluar dari tadi untuk saling berpamitan.
“Ayah mana nih kok enggak timbul-timbul?” Ennie ke sana ke mari mencari, ternyata Roni sibuk bolak balik toilet.
“Yah, Ayah kenapa?”
“Enggak tahu Bu, perutku sakit banget.” Dalam hati Roni menyumpahi Izana yang memang pelakunya, ternyata Izana membalas Roni dengan cara yang sama seperti Roni sebelumnya.
BROOOOT💨
“Astaga kentutmu Yah, kayak bom nuklir,” kaget Ennie dengan suara kentut yang besar itu.
__ADS_1
“Bocah tengil itu! Aku akan mencincangnya!” ucapnya dalam hati.
Tbc.