
Semuanya masih ada di ruangan yang sama bedanya kali ini Tati ter borgol, polisi yang tadi menginterogasi Sari dan Tati duduk berhadapan dengan Theo. “Theo aku masih tidak mengerti kenapa kau menunjuk Tati sebagai pelaku”
“Pertama, dari reaksi Tati saat aku mengambil alih tempatmu paman, ekspresinya tampak lebih lega dibandingkan saat berhadapan denganmu, itu berarti dia meremehkan ku yang anak kecil ini mungkin hanya main-main, berbeda dengan Sari yang malah takut, itu karena dia tidak bersalah jadi dia takut anak kecil seperti ku malah ikut menuduhnya berdasarkan video penindasan yang ada.”
“Jadi sejak awal kau sudah tahu hanya dari reaksi mereka?”
“Itu saja sebenarnya tidak cukup. Kedua, suara teriakan, kenapa Sari berteriak setelah Tati berteriak? Aneh bukan?”
“Bisa saja dia hanya ikut ikutan, agar terhindar dari tuduhan bersandiwara seolah dia terkejut,” tutur polisi.
“Biar lebih jelas kita tanyakan saja pada dia. Kak Tati kenapa kau tiba-tiba berteriak dan langsung mendorong korban?”
“A-aku tidak-”
__ADS_1
“Jangan berdalih lagi, kau sudah ditetapkan sebagai tersangka lebih baik mengaku dari pada hukumanmu akan bertambah,” potong Theo cepat.
Tati sudah tidak bisa berdalih, bocah yang ia kira menjadi penyelamat malah menekannya sampai seperti ini. “Semua orang mengejekku karena berdampingan dengan Aria, mereka mengatakan aku gendut, jelek terus menerus. Aku benar-benar tidak sengaja, aku sungguh tidak sadar telah mendorong Aria.”
“Siapa yang mengatakannya? Aku tidak ada mendengar apa pun. Semua orang sibuk masing-masing, mereka memang melihat tapi tidak mengatakan apa-apa,” sambar Sari, dia memang tidak mendengar ada yang ngomong in Tati, malahan mereka tersenyum ramah.
“Aku yang dengar! Kau itu budek atau apa?”
“Heh Tati, kepalamu menunduk sepanjang perjalanan bahkan saat Aria bicara denganmu kau seolah tak mendengar kami dan sibuk dengan pemikiran sendiri.”
“Tidak ada yang menghinaku?” bingung Tati mendapatkan tatapan keheranan Sari.
“Kau cerdas sekali Theo, benar-benar anak pak Agha” Puji pak polisi.
__ADS_1
“Eits masih ada satu lagi paman. Yang terakhir adalah saat Tati bilang dia pergi memanggil suami Aria. Aria dan Tati kan tetangga, kenapa tidak telepon ibunya saja untuk beritahukan ke Suami Aria? Sepanik apa pun orang mereka tidak akan melupakan fungsi HP. Walaupun suami kak Aria enggak ada di rumah sih.”
“Oh jadi ada tiga.”
“Ahaha sebenarnya itu saja tidak cukup menangkap kak Tati paman, tapi kak Tati barusan mengaku dia mendorong kak Aria, aku hanya menduga duga saja tadi,” tawa Theo membuat orang di sekitarnya ternganga termasuk Tati yang masuk ke dalam jebakan.
“Theo sudah selesai?” tegur papanya Theo yang kembali untuk mengecek.
“Sudah Pah, hebat kan? Engga sampai matahari tenggelam loh.”
“Anak pintar, ayo pulang mama tadi telepon suruh cepat pulang.”
“Ok.” Theo pergi bersama papanya meninggalkan semua orang di situ, sungguh anak detektif Agha.
__ADS_1
Tbc.