
Setibanya surat itu di tangan Theo, remaja ini sangat mengamati detailnya. Ada beberapa poin yang bisa ia pertanyakan.
“Tanda tangannya disaksikan pengacara enggak?”
“Iya.”
“Kalau begitu panggil pengacaranya ke sini, Kak Aria panggil juga sekretaris buk Ennie.”
>>>
20 menit kemudian kedua orang yang dipanggil pun sudah berada di tempat. Mereka bersumpah akan menjawab sejujur jujurnya.
“Takutlah dengan sumpah kalian. Ok langsung saja, jadi nama bapak Pak Edi kan dan sekretaris buk Ennie, Zin.”
Mereka berdua mengangguk, rasanya aneh melihat cara anak remaja itu berbicara. Apa ini masa puber anak yang ingin jadi detektif? Lagi-lagi penilaian itu yang terlintas untuk Theo.
“Paman Zin ada campur tangan membuat surat ini?”
“Tidak, saya bahkan sangat terkejut,” jawab Zin simpel.
“Jadi Pak Edi yang buat?”
“Iya, atas Izin buk Ennie sendiri.”
__ADS_1
Minah dan Roni tersenyum dalam diam, ya sebentar Edi juga tidak tahu apa-apa tentang yang sebenarnya terjadi. Dia hanya melakukan perkerjaan sebagai pengacara.
“Kapan bapak membuat surat ini?”
“Lima hari yang lalu”
“Anda langsung berhadapan dengan buk Ennie?”
“Iya.”
“Bagaimana ekspresinya?”
“Dia lesu, katanya tidak enak badan, terlihat sekali dari pakaiannya yang sangat tertutup.”
“Hanya wajah yang terlihat?”
Theo memperhatikan kembali kertas itu, dia mengeluarkan penanya dan kemudian mencoret tangan sendiri, tintanya hitam semua orang bisa melihat di sana.
Kemudian dia mengambil kertas yang dibawa Zin dari kantor yang ada tanda tangan Ennie dan juga stempel. Terlihat mirip tapi... Sudahlah.
“Yang dibawa paman Zin lebih rapi tapi yang punya pak Roni... seperti yang tanda tangan orang yang tengah ketakutan walaupun tidak terlihat begitu jelas tapi bisa dinilai, terlebih lagi di sini ada setitik noda merah, apa ini darah?” Seketika kertas itu dikurabuni karena rasa penasaran mereka. Memang ada noda merah tapi setitik seperti bekas ujung pena.
Kaki Roni gemetaran hebat dan itu menjadi pusat perhatian. “Pak kau ketakutan ya? Sudah jujur aja nanti bisa diringankan hukumannya.”
__ADS_1
Padahal titik merah itu Theo sendiri yang buat, pulpennya memiliki dua warna tinta, Theo sengaja memperlihatkan pada mereka warna tinta pulpen yang berwarna hitam untuk mengelabui mereka. Yah berhasil, Roni menampakkan kepanikan.
Dalam hati Minah mengutuk Roni yang teramat pengecut.
Roni berusaha menenangkan diri hingga akhirnya kaki itu berhenti bergoyang. “Maaf aku memang sering tremor tiba-tiba.”
Kerna Roni tidak mau mengaku Theo pun sepertinya perlu bantuan orang lain. Tapi sebelum itu dia perlu sesuatu dari Aria, dia mendekat kan diri lalu berbisik, “Kak Aria tolong kirimkan foto ibumu ke ponselku, sebutkan tinggi badannya juga ya.”
Aria dan Theo saling bertukar nomor, Ah tidak nomor Izana bukan Aria, pria itu cemburu duluan padahal Theo hannyalah anak SMP.
Ting.. Setelah foto Ennie berhasil didapat Theo pun kembali mengirimkan foto itu ke seseorang yang entah siapa bersamaan dengan lokasi rumah ini.
“Sayang untuk apa mengirim foto ibu ke anak itu?” bisik Izana
“Engga tahu, mungkin mau dikirim ke dukun biar dicari sama dukun pakai ilmu saktinya.”
“Kalau disantet bagaimana?”
“Hus mulutmu Bang, dia datang ke sini kan buat bantu kita.”
Untuk sementara keadaan senyap di antara Aria yang bisik bisikan dengan Izana juga Theo yang tengah sibuk chatan dengan seseorang.
Tbc.
__ADS_1
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu.
Author sangat berterimak asih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.