Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 93


__ADS_3

Zin pergi keluar tepat nya di smoking room. Tidak ada siapa-siapa di sana kerna masih jam kerja padat. Dia merogoh kantongnya mencari korek api, asap rokok mengebul bersama suara memanggil melalui telpon.


Tut~ Tut~


“Iya halo Zin.”


Panggilan di awab cepat, untunglah. “Nona, buk Ennie jalan-jalan keluar negeri ya?”


“Hah sejak kapan?”


“Saya bertanya, Nona.”


“Aku tidak tahu, harusnya kamulah yang tahu, kan kamu sekretarisnya.”


“Masalahnya yang menjadi CEO sekarang pak Roni, saya tidak tahu di mana buk Ennie.”


“APA RONI! KOK BISA!?” teriak Aria terkejut. Sebagai heatersnya Roni dia tidak bisa menerima pria itu memegang apa yang dibangun oleh almarhum ayahnya.


“Tidak tau Nona makanya itu saya tanya Anda.”


“Kamu udah ke rumah buat nanya ke ibu?”


“Saya gak dibolehkan masuk.”


“Kok begitu sih? Ya sudah nanti aku ke sana tanya ke ibu.”


“Iya terima kasih Nona.”


Panggilan terputus, Zin tersandar di dinding dengan mata yang melihat langit-langit. Sebagai orang yang sudah lama melayani kantor keluarga papa Aria, dia sendiri tidak setuju dengan orang bodoh yang tiba-tiba datang menjadi CEO.


Tiga belas tahun bukan waktu yang sebentar dalam pengabdian. Melayani orang asing? Yang benar saja.


“Bisa-bisanya kkk~” Zin terkekeh kecut, dia malu sekali membayangkan tiga hari ini menjadi guru Roni.


Sebatang rokok habis, Zin pun keluar bersiap menyambut kedatangan Adam.




Kini Adam sudah sampai, saat pintu dibuka dia terkejut melihat seorang pria duduk di sana.


__ADS_1


“Siapa dia?” tanya Adam pada Zin.



“CEO baru kami, Pak”



“Buk Ennie mundur?”



“Bapak bisa langsung bertanya pada CEO kami pak Roni.”



“Oh jadi namanya Roni.”



Adam datang mendekati Roni, dia dudukan pantatnya itu dengan mata yang menelusuri dari atas sampai bawah penampilan Roni.




“Iya senang berkenalan dengan Bapak, saya dengar bapak rekan penting kami.”


.


.


30 menit berlalu, Adam mengecap Roni sebagai orang bodoh. Benaknya berkata *Apakah Ennie sudah gila menyerahkan tanggung jawab besar ini pada dia*? Ide yang disarankan oleh Roni benar-benar sembrono dan boros.



“Tidak bisa,” jawab Adam setelah Roni menjelaskan tentang proyek yang jelas bukan jangkauannya.



“Ini akan menghasilkan keuntungan luar biasa loh Pak, kenapa tidak bisa?”


__ADS_1


“Membangun kolam renang, apa-apaan itu?”



“Banyak wisatawan atau warga setempat akan berkunjung.”



Adam menggelengkan kepala, sungguh Roni ini bodoh sekali. “Ada beberapa masalahnya Pak Roni. Pertama kota ini sudah banyak sekali waterpark ataupun waterboom, kedua harga tiketnya terlalu mahal, orang akan datang sekali saja untuk mencoba setelah itu tidak akan kembali, ke tiga dan yang merupakan poin utamanya... perusahaan bapak ini bergerak di bidang jasa transportasi!”



Adam mengurut pelipisnya, sungguh goblok Roni. Apakah dia bisa melanjutkan kerja sama jika pemimpinnya adalah Roni? Di sisi lain Zin menggeleng-gelengkan kepala, jadi dari tadi itu yang dipersiapkan Roni?



“Sekretaris Zin sepertinya kau tidak menjelaskan apa-apa pada CEO barumu ini, eh tidak bukan salahmu sih, sepertinya Ennie yang mungkin lagi mabuk saat menyerahkan tanggung jawab,” ujar Adam.



Roni terdiam, dia merasa terhina dengan penuturan Adam, tangan Roni sudah mengepal menahan amarah.



“Saya permisi, Zin sebaiknya kau jelaskan pada bosmu sampai dia mengerti, setelah itu saya baru akan datang lagi,” sambungnya.



“Iya Pak, Maaf.”



Adam pergi keluar dengan Zin yang juga ikut keluar.



Tbc.



...Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu...


__ADS_1


...Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar....


__ADS_2