
“Aria aku mau berangkat kerja.”
“Kerja? Kerja apa memangnya Abang?” sahut Aria menyinggung. Ya dia tahu suaminya itu dalam masyarakat adalah penjahat hanya saja masyarakat di sini tidak mengenal siapa Izana.
“Astaga Aria kamu dari tadi kenapa sih? Jutek banget.”
“Enggak tahu lagi bad mood aja.”
“Datang bulan?”
“Iss pergi sana katanya mau pergi.” Ingin sekali Aria menanyakan tentang nama Ella, tapi dia sadar Izana menikah dengannya atas dasar keterpaksaan saja.
Baru saja Izana mau pergi namun Aria menahan bajunya. “Antarkan aku ke tempat kerja ku sebelumnya.”
“Kau masih kerja?”
“Iya, masih sempat ini kalau berangkat sekarang, aku sudah lama libur pasti Sesil akan marah-marah.”
Izana tak bergerak dari tempat, sebenarnya ia tidak menyukai wanita yang bekerja padahal sudah ada suaminya. “Tidak usah bekerja lagi,” ujarnya.
“Kenapa?”
“Aku tidak suka, masalah uang biar aku saja yang cari.”
“Uang hasil mencuri dan membegal maksudmu? Mau sampai kapan abang memberiku makan menggunakan uang haram itu?”
“Siapa yang peduli tentang itu! Uang haram ataupun uang halal juga sama-sama uang, tak ada yang bertanya saat kau berbelanja dari mana kau mendapatkan uang.”
__ADS_1
Brak!
Izana langsung pergi meninggalkan Aria begitu saja, dia menutup pintu begitu keras dan langkahnya tampak cepat.
Entah apa yang salah dengan otak Izana, dia tampak marah padahal Aria hanya ingin melanjutkan pekerjaannya.
“Kenapa marah? Aneh.”
.
.
Aria mengabaikan perkataan Izana, sekarang dia sudah berada di depan kafe milik Sesil setelan menumpang mobil sayur yang ingin ke perkotaan.
“Aria dari mana saja kau,” sambut Moon yang tengah menyapu.
“Lebih baik kau temui Sesil dulu, kebetulan dia ada di ruangannya.”
Astaga Aria kembali melihat pintu itu lagi, pasti gajinya akan dipotong dari absennya yang total selama sebulan ini ada tujuh hari.
Tok tok tok
“Masuk.” Dia menyipitkan matanya kemudian melotot. “Hah! Kenapa datang lagi? Kupikir kau sudah mengikhlaskan gajimu di sini.”
Sungguh Aria Heran kenapa Sesil galak seperti ini sih, apa dia datang bulan setiap hari?
“Maaf, aku dijemput mamaku pulang waktu itu jadi enggak sempat Izin enggak masuk kerja.”
__ADS_1
“Memangnya mamamu siapa? Belagu banget kayak kaya aja hidupnya. Nih gajimu delapan ratus ribu, dua ratus ribunya aku potong dari absenmu tujuh hari.”
“Iya.”
“Sana kerja lagi.”
Aria ke depan langsung duduk di dekat Moon karena pekerjaan sudah diselesaikan semua oleh Moon, tinggal menunggu pelanggan saja lagi untuk dilayani.
“Jadi bagaimana?” tanya Moon.
“Nih aku dikasih 800, sisanya dipotong sama dia.”
“Ya masih mendinglah dari pada dipecat, memangnya kamu ke mana aja sih?”
Aria menceritakan alasannya tidak masuk kerja selama 5 hari ini pada Moon kecuali tentang pekerjaan suaminya Izana, ya hanya itu yang diceritakan oleh Aria. Sedekat dekatnya dia dengan Moon Aria tidak mau suaminya dipandang buruk.
“Jadi yang kau tak masuk dua hari itu kau diperkos-“
“Shutt diam, nanti didengar orang lain aku yang malu, jadi intinya begitu deh. Dari pada aku menikah dengan orang yang tak kukenal lebih baik aku dengan dia yang sudah memperkosaku iyakan?”
“Ternyata kau anak orang kaya ya, kenapa susah-susah cari uang kalau begitu?”
Aria hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Moon, temanya itu tidak tau tentang masalah rumah tangganya, masalah dengan ayahnya, masalah dengan ibunya dan juga masalah perusahaan yang hampir bangkrut.
“Woi kenapa hanya tersenyum, oh iya suamimu pasti kaya juga kan?”
“Enggak ah, dia orang biasa yang punya uang pas-pasan.”
__ADS_1
Tbc.