
Mereka sudah sampai di indomaret, Izana tak melepaskan gandengan tangannya pada Aria, dia takut ada yang menyenggol Aria kemudian membuat Aria jatuh.
“Sayang kau suka yang mana?”
“Engga tahu belum pernah coba semua.”
“Kalau begitu kita ambil semua merk dengan berbagai macam rasa saja ya? Biar nanti kamu yang coba mana yang cocok.”
“Terus sisanya mau di kemanakan?”
“Engga tahu, kasih Zin saja suruh dia mikir.”
Izana benar-benar mengambil berbagai macam, troli jajanan Aria juga sudah penuh.
“Susu hamilnya banyak banget Mas.”
“Biar saja aku juga yang bayar,” ketus Izana membungkam kasir. Sedangkan perhatian Aria terpaku di luar sana, ada kakek-kakek yang pernah dia dorong, kakek itu tampak kehausan tapi botol airnya kosong.
>>>
“Haus kek?” Aria menghampiri kakek dengan menyerahkan air mineral, Izana membuntuti di belakang.
“Kau perempuan yang semalam kan?”
“Ehhe maafkan aku soal yang semalam, aku tengah mengidam memalak orang waktu itu.”
“Bisa begitu ya ngidamnya.”
“Iya, maaf ya Kek. Oh iya rumah kakek di mana?”
__ADS_1
“Tidak jauh dari sini, hanya perlu berjalan kaki sebentar.”
“Kok Kakek kerja sendiri, anaknya mana?”
Tiba-tiba kakek menangis. “Anak kakek dirawat di rumah sakit, kakek enggak ada biaya. Biasanya dia yang selalu mengirim uang buat kakek tapi sekarang.” Kakek tidak bisa melanjutkan perkataan yang membuat pria tua itu sangat sedih.
“Kakek jangan menangis, sebagai tanda permintaan maaf saya, saya akan bantu soal biaya rumah sakit anak Kakek.”
“Benaran?”
“Iya benaran.”
“Terima kasih Nak, ternyata bertemu denganmu adalah sebuah berkah.” Di situasi seperti ini dia memang butuh uluran tangan, dia tidak akan menolak penawaran Aria demi harga diri, harga diri tidaklah lagi penting kalau berurusan dengan nyawa anak sendiri.
“Padahal aku sudah ambil alih harta ayahnya, kenapa dia tidak datang untuk meminta kembali,” gumam Roni. Yang dia maksud adalah Aria, tujuan dia ingin perusahaan adalah agar bisa membuat kesepakatan dengannya.
Gagal total! Rencananya Roni akan memberikan kekayaan yang ia renggut pada Aria jika gadis itu sepakat untuk menikah dengan nya, namun ternyata salah, gadis itu tidak menginginkan kekayaan tapi menginginkan Roni hancur tanpa peduli dengan apa yang susah payang mendiang ayahnya bangun.
“Izana kau sengaja menyiksaku pelan-pelan kan,” ujar Roni.
__ADS_1
Sebulan yang lalu perusahaan meroket dengan harga saham yang tinggi kemudian di minggu berikutnya langsung jatuh dibanting ke tanah hingga hancur berkeping-keping bersama angan Roni.
Pada akhirnya usaha Roni untuk membuat normal dalam waktu tiga minggu ini hanya membuat hutang membengkak, para investor meminta tanggung jawab atas kerugian, hal itu yang membuat Roni berhutang besar.
Dia pada dasarnya memang tidak cocok menggunakan jas.
“Aria aku sangat menyukaimu dan aku hancur karena bermimpi memilikimu huhuhu, Izana pria sialan mirip monyet itu merebut Ariaku, lihat saja aku akan mendapatkan Aria!”
Awal mula cerita ini memang dimulai dari Roni yang menyukai anak tirinya sendiri, ingat?. Pertemuan Izana dan Aria juga karnanya. Bisa dibilang Roni adalah salah satu figuran yang penting tapi nasibnya selalu sial, kasihan sekali.
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu.
__ADS_1
Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.