
Setelah tiga bulan lamanya, kondisi Aria sudah pulih bahkan dia sudah bisa berjalan hanya saja beberapa bekas luka belum hilang, butuh waktu untuk itu asalkan rajin mengobati pasti akan hilang.
Akhirnya dia bisa menyentuh sapu dan alat masak lagi, selama ini mereka hanya makan makanan dari luar karena Izana tidak bisa memasak.
“Aria coba sini,” panggil Izana dari depan dengan sebuah kotak yang sudah berada di atas meja.
“Kotak sepatu?”
“Hmm coba buka.”
Ketika kotak dibuka terlihatlah sepatu joging berwarna pink sama persis dengan sepatu yang Aria beli waktu itu. Memang ini hadiah sederhana namun sangat berarti baginya, walaupun begal Izana juga tahu caranya romantis.
“Ayo kita pergi joging, ingatkan tiga bulan yang lalu janjinya ingin joging bareng.”
Brugh!
Aria menghamburkan diri dalam pelukan Izana. “Aku sudah boleh berlari ya?”
“Dokter bilang akan semakin bagus jika kaki itu kau gerakkan.”
“Setelah sekian lama jadi duyung daratan akhirnya aku bisa mengubah ekor ini menjadi kaki kembali,” senangnya bukan main.
>>>
Setelah sarapan barulah mereka bergerak untuk pergi ke tempat yang biasanya jadi jalanan joging. Tidak banyak orang mengingat ini adalah hari Selasa, biasanya kalau weekend tempat ini akan dipenuhi pasangan muda ataupun nenek kakek yang tengah olahraga.
__ADS_1
“Pegangan dengan aku jangan dilepas.”
“Iya.”
“Jangan memaksakan diri, kalau sakit bilang.”
“Hmmm.”
“Nanti kalau capek aku gendong.”
“Iya bang~”
“Kalau-”
“Hus sudah, Abang cerewet banget. Aku bukan anak kecil bang, nih aku baik-baik aja nih.” Aria melompat lompat membuktikan kalau dia baik-baik saja.
Izana menghentikan lompatan Aria dengan menekan pundaknya. Aria malah tertawa ketika Izana sedang sangat khawatir.
Mulailah pelatihan Aria berlari, awalnya pelan.. pelan.. sedikit lari... semakin cepat.
“Aria jangan kencang-kencang!”
Dan...
BRUGH
__ADS_1
“Awwww!”
“Astaga!” Izana memungut tubuh Aria yang terduduk di tanah, Aria meringis kesakitan karena terkilir. “Tuh kan kamu sudah dibilang in, kualat enggak dengar perkataan suami.” Dia mengomel sembari mengurut kaki Aria hingga wanita itu terjerit ketika kakinya diperbaiki dari posisi terkilir.
“Sakit Bang!”
“Lari lagi sana, biar enggak bisa jalan selamanya, sudah ah kita pulang aja. Engga jadi kalau kamu lasak kaya begini.”
“Janganlah Bang, aku sudah bosan di rumah terus, iya nih aku menurut. Yuk jalan,” ajak Aria dengan menggandeng tangan Izana yang ngambek.
“Tapi ada syaratnya kalau mau lanjut.”
“Apa?”
“Aku sudah lama puasa, nanti malam kasih jatah ya” Bisiknya di telinga Aria sedikit menggigit hingga Aria merinding ngeri.
Memang sudah tiga bulan Izana tidak menyentuh Aria untuk berhubungan, alasannya pasti kalian mengerti dengan keadaan wanita itu yang memiliki banyak luka di sekitar tubuh. Sebenarnya bisa saja jika ingin tapi akibatnya Aria lah yang akan menderita.
Dengan menahan malu Aria mengangguk pelan, dia malu karena mengingat suara erangan Izana di malam hari saat bermain solo, kasihan juga iyakan?
Jawaban Aria sudah cukup membuat suaminya senang, bahkan sebelum melanjutkan langkah Izana mengecup pelan dahi Aria.
“Palan pelan saja” Ucapnya memimpin langkah Aria agar tidak terjatuh lagi. Dia harus siaga karena langkah Aria masihlah lemah harus berhati hati dan diperhatikan.
Tbc.
__ADS_1
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu
Author sangat berterimakasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.