
Dalam lamunannya Izana mengucap syukur karena istrinya bisa diselamatkan. Dia menatap wajah yang entah kapan akan bangun dengan menggenggam tangannya erat.
Ini sudah dua hari sejak kejadian tapi Aria belum kunjung bangun, dokter pun hanya mengatakan kalau dia selamat tapi tak tahu kapan dia akan bangun, dengan kata lain koma.
Ibu Aria juga ada di sini, wanita itu beberapa kali dia pingsan melihat keadaan putrinya.
“Izana yuk makan,” ajak Ennie setelah Roni datang dengan membawa tentengan di tangannya.
“Ibu makanlah duluan, aku nanti saja.”
“Jangan begitu Nak, kau dari kemarin hanya minum air putih, Aria pasti sadar bentar lagi dokter bilang dia baik-baik saja kan? Kita tinggal tunggu dia sadar. Nih cepat makan atau kau akan pingsan sebelum Aria bangun nanti” Pujuk Ennie.
Selera makan Izana sudah hilang tenggelam bersama mimpi Aria yang tidak bangun-bangun. Dia terlalu takut, dia takut kehilangan orang yang memberinya semangat hidup untuk ketiga kalinya. Ya tiga! Pertama adik perempuannya, ke dua kekasihnya (Ella) dan jangan sampai ada yang ketiga yaitu Aria.
“Si penabrak belum jumpa ya?” tanya Ennie pada suaminya. Pemilik mobil sedan yang menabrak Aria tidak bertanggungjawab mungkin karena merasa bukan salahnya maka dari itu dia kabur.
Di sini tepatnya di kantor polisi dua cewek yang bersama Aria masih berdebat memberikan kesaksian. Tapi anehnya Tati malah menuduh Sari yang mendorong Aria hingga permasalahan ini belum selesai sampai sekarang.
Sialnya tidak ada CCTV yang menangkap kejadian itu, karena beberapa hari sebelum Aria kecelakaan, di area sekitar mall ada tauran para remaja yang merusak fasilitas di sekitarnya termasuk CCTV yang sengaja dirusak oleh mereka.
“Kenapa jadi aku? Jelas-jelas kau yang mendorong Aria!” Sari tidak Terima dengan tuduhan palsu Tati.
__ADS_1
“Mana mungkin aku, kau menyimpan dendam kan pada Aria karena dia menghentikanmu membullyku waktu itu!”
Di sini posisi Sari terpojok, rekaman hasil dia menganiaya orang-orang di sekitar menjadi dalih bagi Tati untuk menuduhnya, entah siapa yang merekam Sari yang jelas rekaman itu sudah ada di atas meja.
Kalau dilihat dari penampilan, Tati, memang seperti orang yang terkucilkan sehingga membuat orang dengan mudah mempercayai bahwa orang yang seperti itu mana berani melakukan hal keji.
“Ehem!” dehem orang yang disegani di kepolisian yang baru saja datang setelah baru pulang liburan bersama keluarganya.
“Ada apa ini?”
“Ini Pak...” Polisi menjelaskan dengan detail pada polisi yang dominan ke detektif itu secara saksama.
“Oh begitu, Theo.”
__ADS_1
“Iya Pah,” jawab Theo yang berada di belakang papanya mendengarkan pembicaraan.
“Kamu papa kasih tantangan selesaikan kasus ini sebelum fajar,” kata Agha kemudian dia pergi begitu saja meninggalkan putranya yang stay di tempat.
Anak itu menyengir kesenangan, dia sangat suka diberi tugas seperti ini. Theo duduk menggantikan tempat polisi sebelumnya berhadapan dengan Tati dan Sari beserta keluarganya yang berdiri di belakang.
“Jadi silah kan ulang kesaksian kalian,” tegur Theo tapi mendapatkan tatapan tak meyakinkan dari Sari karena anak itu seperti tidak serius melihatnya sibuk menyantap permen kapas.
“Pak bapak yakin menyerahkan pada anak ini?” Lirik Sari pada polis sebelumnya, namun berbeda dengan Tati yang tidak protes sama sekali.
Tbc
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu.
__ADS_1
Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.