
Rick menoleh ke jok samping, Ana tengah meremat ujung dress. Dia tau gadis nya sedang di landa kecemasan hebat.
"Lihat aku sayang, jangan memikirkan hal yang terlalu berat. Tidak mendapatkan restu orang tua ku, bukan berarti dunia kiamat. Kita bisa menjadi pasangan hebat, tanpa harus meminta restu dengan mengemis belas kasihan. Jika memang tidak bisa sekarang, kita bisa menunggu nya nanti. Namun hubungan kita harus tetap berjalan. Itu yang aku inginkan. Jangan menyerah saat kau di tekan, angkat kepala mu sesekali itu perlu. Itu bukan berarti kau bersikap kurang aja pada orang yang lebih tua dari mu. Tapi kau juga punya hak untuk mempertahankan argumen dan harga diri mu." Nasihat Rick panjang lebar.
Ana masih belum bisa mencerna kalimat panjang kekasih nya, hati dan pikiran nya sudah di penuhi dengan tumpukan masalah rumit yang bahkan belum dia hadapi.
"Ayo keluar, kita tidak akan tau apa reaksi orang tuaku jika terus duduk diam di sini." Ajak Rick membujuk.
Ana hanya mengangguk pelan, kedua nya keluar lalu menuju ke pintu rumah besar tersebut. Hati Ana semakin merasa tak pantas.
"Ingat sayang, jangan menyerah. aku tidak suka kau menyerah demi keluarga ku, aku mencintaimu sangat besar. Jangan kecewakan aku" Ujar Rick kembali mengingat kan.
Ana lagi-lagi hanya bisa mengangguk pelan.
Joi menatap putranya yang baru masuk dengan menggandeng mersa lengan seorang gadis. Gadis yang sangat tidak asing bagi nya. Mata nya melirik ke arah lain, di mana Maura dan kedua orang tua nya tengah duduk di seberang meja membelakangi arah pintu masuk.
"Sayang, akhirnya kau datang juga. Kemarilah, kau mambawa tamu rupa nya." Sambut Joi tersenyum ramah pada gadis di samping putra nya.
Maura menoleh dan mata nya hampir melompat keluar, melihat pemandangan mengiris hati nya.
"Hai Rick, aku sudah menunggumu sejak tadi." Sapa Maura berusaha bersikap setenang mungkin walau hati nya tidak lah baik-baik saja. Mata nya menyorot tajam ke arah Ana, dan itu terlihat jelas oleh seseorang di ruangan itu.
"Bawa teman mu duduk sayang, sebentar lagi kita akan makan malam." Ujar sang ibu menengahi situasi.
Rick menatap sofa, di mana Maura mulai mengambil tempat di sofa muat dua orang. Dan kedua orang tuanya duduk di sofa kapasitas 4 orang. Lalu menoleh ke arah sofa dimana kedua orang tua nya duduk. Kini hanya ada sofa tunggal yang tersisa.
__ADS_1
"Duduk di sini saja Rick," Maura menepuk pelan sisi sofa di samping nya. Rick hanya menatap datar tanpa ekspresi.
"Ayo duduk" ajak Rick menarik pelan lengan Ana menuju sofa di mana Maura duduk.
Maura kesal bukan main "aku meminta mu yang duduk di samping ku Rick, bukan dia. Aku ini calon tunangan mu, bisakah kau menghargai perasaan ku sedikit saja" isak Maura memulai drama.
Joi mulai merasa kan suasana tak nyaman, "sayang, teman mu bisa duduk di samping mimi saja. Duduklah di samping Maura sampai makan malam tiba."Titah sang ibu, jika biasanya Rick sangat penurut pada ibunya, tapi tidak kali ini.
" Kami duduk di sofa ruang tamu saja mi, seperti nya kalian sedang membahas hal penting disini. Kami permisi" baru saja dua langkah suara bariton Jovan menghentikan langkah Ana dan Rick.
"Begitu kah sikapmu pada orang tua mu? apa seseorang sudah mengajarkan mu untuk bersikap kurang ajar pada wanita yang sudah melahirkan mu dengan susah payah." Rick mengeraskan rahangnya, dia tau seseorang yang di maksud sang ayah, dan hati nya tak rela.
Rick berbalik, matanya menatap netra ayahnya dengan tatapan menantang.
"Namanya Ana, jika saja aku lupa mengenalkan nya pada kalian semua. Tapi Maura sudah mengenal nya dengan baik, karena dia sudah terlalu sering bersikap buruk pada gadis ku sejak hari pertama Ana masuk ke sekolah." Ana tertegun, Rick mengetahui semua nya bahkan sejak pertama kali Maura mulai mengganggu nya? kini dia mengerti arti diam Rick selama ini, pria itu berusaha untuk menjaganya dengan cara berbeda.
"Mana ada seperti itu Rick, kau salah paham padaku." Bela Maura dengan sedikit gugup.
"Salah paham ? saat kau menghempas kotak bekal nya hingga berhamburan? mengancam nya dan menyakiti nya dengan sengaja ?" sungguh Maura ingin melakban mukut pedas level akut Rick, agar berhenti mengurai daftar dosa-dosa nya.
"Nak, mungkin Maura hanya sedang cemburu, dan itu biasa bagi remaja seperti kalian. Maura masih belum dewasa, jadi maklumi saja. Dia pasti tidak ingin menyakiti siapapun jika tidak pancing terlebih dahulu." Ujar Sely memberikan pembelaan bagi putri nya. Mata nya melirik tajam ke arah Ana.
"Duduk lah Rick, jagan sikap mu." titah Jovan tak ingin di bantah.
Rick menatap sofa tunggal lalu membawa Ana ke sana. Di dudukkan Ana, lalu dirinya duduk di sandaran tangan disamping Ana.
__ADS_1
Joi menatap apa yang putra nya lakukan, selama ini Rick paling menjaga dirinya dari para anak gadis. Namun bersama Ana, putranya nampak berbeda. Joi menarik sudut bibirnya, hati nya senang. Ana adalah kandidat calon menantu idamannya. Ekor matanya melirik suaminya yang masih belum bersikap lunak. Dasar keras kepala batin nya ikut kesal.
"Bu, makan malam sudah siap." Ujar seorang art menyela situasi gerah tersebut.
"Ah ya, terimakasih bi." Ucap Joi tersenyum ramah.
"Baiklah, mari kita makan malam dulu. Setelah nya kita bisa membahas apa saja jika perut sudah terisi dengan baik." kekeh Joi mencairkan suasana.
Rick kembali menggandeng Ana menuju ruang makan, Maura mengambil tempat paling ujung agar Rick duduk di samping nya. Namun Rick mengambil tempat duduk di samping ibunya, selanjutnya Ana di samping kirinya. Wajah Maura cemberut tak suka. Gagal lagi membuat Rick duduk disampingnya.
"Silahkan di makan, semoga menu nya cocok di lidah Bu Sely dan keluarga. Maaf jika masih banyak kekurangan baik bumbu juga rasa lainnya " Ujar Joi merendah.
"Ah jeng bisa aja, aromanya saja sudah seenak ini pasti rasanya juga enak. Saya yakin selera jeng Joi pasti berkelas, ya kan Ra" Ujar nya menyanjung dan meminta dukungan sang anak.
"Benar tan, aromanya enak. Pasti rasanya juga tak kalah enak." Sambung Maura dengan ceria.
Joi hanya tersenyum simpul, lalu mempersilahkan tamu nya untuk mengambil makanan. Sementara Rick sudah ambil star lebih dulu, pria itu mengisi piring Ana dengan porsi biasa dia lakukan. Yaitu lauk yang lebih banyak.
"Sudah Rick, nanti aku di sangka rakus" bisik Ana yang terdengar jelas oleh Joi, Joi tersenyum samar, dia suka sikap gentel putranya tersebut.
"Kau harus makan yang banyak, nanti saat kita menikah, kau harus segera hamil anak kita, dan kau butuh tubuh yang berisi agar tetap kuat dan sehat berbagi nutrisi dengan calon bayi kita." Maura tersedak makanan nya begitu pun dengan Sely. Kedua wanita beda generasi itu menatap jengah ke arah Ana, ingin sekali Maura melempar sambal goreng ke wajah lugu Ana. Jika saja dia tidak mengingat di mana dirinya kini berada.
Joi pun tak kalah terkejutnya, namun sudut bibirnya tersenyum penuh kemenangan. Putranya tau kepada siapa harus menjatuhkan hatinya.
Sementara Ana meringis menahan malu, mendengar kalimat frontal Rick. Wajah nya memerah menahan malu.
__ADS_1
Makan malam dengan suasana sedikit berbeda telah usai, kini mereka semua duduk di ruang tengah. Rick lebih dulu ambil tempat. Keduanya duduk di sofa kapasitas dua orang saja, Rick sengaja melakukan nya.