Beloved My Ana

Beloved My Ana
Bulan madu GaTot


__ADS_3

Wajah Rick terlihat muram durja, bagaimana tidak, niat bulan madu berdua dengan istri tercinta nya. Kini malah terancam gagal total akibat ulah para tamu tak di undang.


"Muka nya jangan di tekuk terus by, tidak enak sama teman-teman nya hubby ih.." ujar Ana sedikit resah dengan tampang tak bersahabat sang suami.


"Aku kesal sayang..boleh tidak sih kalo aku tenggelamin mereka ke tengah laut sana.." ucap Rick menatap para pengacau yang kini tengah berlarian di bibir pantai, seperti orang yang baru pernah melihat pantai.


"Dasar norak..!" lanjut Rick kesal maksimal.


"Biarin aja by, biar rame juga, kan.." sahut Ana polos. Tak tau saja jika Rick ingin mencetak benih unggul nya di berbagai tempat di pulau itu. Dan sekarang rencana nya hanya tinggal angan-angan.


"Woii..!! bisa tidak jangan kaya orang kampung gitu..!" seru Rick menatap tak percaya pada para makhluk astral di depan sana. Mereka bermain seolah tak melakukan kesalahan apapun pada nya.


"Santai dong Rick..kaya sensi gitu, lagi M apa gimana?" balas Davin tanpa rasa bersalah. Rick menatap tajam teman nya dengan tatapan horor.


"Idih..cuaca mendadak panas banget yak. Ngerasa tidak, kaya ada terik-teriknya gitu.." timpal Vino kemudian mereka semua tertawa jahanam, dengan raut wajah sepolos dada mulus Lisa yang hampir meloncat keluar dari bikini nya.


"Bunga apa ya, yang biasa di samain sama mayit..." ucap Rick seolah tengah berpikir. "Ah ya!" seru Rick tiba-tiba. "******..!" lanjut Rick semakin dongkol.


"Astaga...kau ini" desis Yodra melirik tak percaya pada mulut tajam Rick yang semakin terasah saja setiap hari nya.


"Malam ini kita barbeque an yuk! aku ada liat mesin pemanggang di belakang tadi." Sela Lisa tiba-tiba.


"Asyiaapp!!" seru mereka bersamaan. Air muka Rick semakin keruh, padahal daging dan semua bahan mentah di kulkas, adalah persediaan yang sengaja dia bawa untuk nya dan sang istri selama bulan madu di sana.


"Kalau sampai tidak cukup buat satu minggu, cari ganti." Ketus Rick meraih pinggang Ana dengan posesif.

__ADS_1


Lisa memutar bola mataq nya malas, dasar adik ipar laknat batin nya ikut mengumpat kesal.


"Ya yaa.. nanti kita bakal ganti, tenang aja." Sahut Lisa jumawa. Padahal dia sendiri tidak tau kemana akan membeli bahan mentah tersebut.


"Memang nya kau tau, kemana harus membeli nya?" tanya Aby menatap penasaran ke arah Lisa.


"Tidak! tapi apa guna nya aku punya mulut. Aku kan bisa bertanya, begitu saja kau buat repot." Gerutu Lisa kesal. Dia pun tadi tidak terpikir sampai ke sana. Namun demi menjaga gengsi, Lisa menjadi jutek sendiri.


"Kan aku cuma bertanya, kenapa kau galak sekali menjawab nya." Balas Aby tak kalah kesal.


"Sudah sudah, ayo kita masuk. Bentar lagi senja, aku mau bantu bibi buat makan malam." Sela Ana menginterupsi perdebatan Lisa dan Aby.


Mereka kemudian berjalan kembali ke arah villa. Dulu villa itu hanya ada satu lantai. Sebenarnya ada dua lantai, namun lantai atas di fungsi kan untuk menjemur dan menyimpan pakaian bersih yang belum sempat di lipat. Juga sebagai gudang barang tak terpakai.


Landasan pacu yang di buat oleh mendiang sahabat sang kakek dan nenek mereka pun masih ada. Dan masih di gunakan oleh penduduk setempat untuk bandara darurat. Satu helikopter di hibahkan untuk di gunakan penduduk lokal sebagai sarana transportasi udara, jika ada pasien gawat darurat yang membutuhkan pertolongan medis ke rumah sakit besar di kota.


"Mau buat lalapan aja sih aku, kalau kak Lisa sama kak Yodra mau buat apa. Bisa request kok kalo Ana bisa buat nya." Tawar Ana menatap kedua nya bergantian.


"Aku lalapan juga deh, sambel matah tapi... boleh tidak?" Lisa menatap sang adik untuk memastikan pesanan nya.


"Boleh pake banget lah kak. Aman mah itu.." sahut Ana tersenyum lembut. Lisa tersenyum lebar lalu pamit untuk mandi.


"Kak Yodra tidak mau mandi dulu, tadi main air laut loh.." ucap Ana mengingat kan. Yodra masih enggan mandi, karena kulit nya tiba-tiba jadi dingin menusuk.


"Nanti aja deh, dingin nya kaya beda banget gitu. Apa ya aku mau demam atau flu ya.." balas Yodra tanpa menoleh pada Ana.

__ADS_1


"Bisa jadi, tadi kan baru nyampe udah main di pantai. Abis kena dingin AC trus langsung di sinari terik matahari, di kolaborasi dengan main air lagi. Cocok sudah tuh." Sahut Ana menimpali kemungkinan yang di katakan oleh Yodra tadi.


"Tapi mudahan tidak sih. Mungkin butuh adaptasi aja, disini tuh dingin memang walau area pantai. Karena masih hutan asri di belakang sana. Hawanya rada kaya di puncak malah." Lanjut Ana menghibur teman suami nya itu.


"Ya, mungkin juga. Kan di kota biasa panas banget cuaca nya, pas di sini rada dingin jadi butuh penyesuaian cuaca sama tubuh." Sambung Yodra membenarkan argumen Ana yang terakhir.


Ana mengangguk saja dari pada salah bicara.


Sementara di lantai atas terjadi perdebatan antara Davin dan Vino. Kedua pria itu berebut handuk, di karenakan handuk mereka punya warna dan model yang sama.


"Ini punya ku loh Vin! enak saja!.." sanggah Davin menarik kembali handuk dari tangan Vino. Vino pun tak mau kalah, terjadilah perebutan handuk seperti anak TK berebut mainan.


"Malu tau tidak, sudah pada dewasa kelakuan kaya balita!" Sentak Aby pada kedua nya lalu melempar handuk bersih yang entah milik siapa, ke tengah-tengah kedua insan tersebut.


Davin mengernyit dalam, seperti nya dia kenal dengan aroma pewangi di handuk tersebut. Di raih nya handuk yang tergeletak di lantai lalu menghirup nya dalam-dalam.


"Ternyata ini memang punya mu. Noh ambil balik..!" Davin melempar handuk Vino ke wajah pria itu tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Vino mendengus kesal mendapatkan lemparan ke wajah tampan nya.


"Kenapa tadi tidak di cari dulu sih! pake acara berebut handuk orang segala. Udah Kumal gini siapa yang rugi. Kan aku juga.." Ucap Vino dramatis kemudian berlalu menuju kamar mandi.


Aby menatap sahabatnya dengan tatapan entahlah. "Lain kali nyari sesuatu itu di tempat yang benar. Koper mana di cari nya kemana, barang milik orang lain pun di klaim sembarangan. Malu kan jadi nya?" ledek Aby sambil menasehati.


"Abis kenapa harus samaan sih. Udah beli nya mahal-mahal lagi. Eh, malah ada yang sama. Sial tidak tuh!" ujar Davin gondok sekaligus malu. Pasal nya tadi dia sudah jumawa, jika handuk nya adalah handuk limited edition.

__ADS_1


"Mandi di kamar sebelah noh. Jangan coba-coba cari masalah lagi sama singa yang lagi hor*n*y." Nasehat Aby asal.


"Lagi marah bege!!" teriak Davin melempar handuk nya ke wajah Ady. Sementara Aby tertawa renyah melihat wajah kesal Davin.


__ADS_2