Beloved My Ana

Beloved My Ana
Kepercayaan Leluhur


__ADS_3

Sidharta telah di ijin kan pulang oleh dokter. Kondisi kesehatan pria paruh baya itu sudah mulai membaik. Jika di tanya apakah Sahira akan mengikuti mantan suami nya itu pulang, jawaban nya tentu saja! Karena bagi Sidharta, Sahira masih lah tetap istri nya.


Di agama yang dia anut, selama pasangan kita masih di nyatakan hidup dan meski ada kata cerai terucap. Perceraian itu tidak lah sah menurut hukum agama nya.


Hanya saja Sidharta sudah memohon pada anak-anak nya untuk menikahi ulang ibu mereka. Dan anak-anak baik itu pun tak keberatan. Lebih baik seperti itu mereka pikir, apalagi mengingat jika sang ayah sama sekali tak ingin berpisah meski sang ibu hanya pamit keluar sebentar saja.


"Kenapa tidak pulang ke rumah papa saja? di sama lebih luas?" Lukas bertanya dengan heran. Pasal nya Sidharta tak ingin kembali pulang ke rumah lama nya. Padahal rumah itu telah di perjuangkan sedemikian rupa agar tak jatuh ke tangan Seli.


"Papa mempertahankan rumah itu hanya karena ingin menjaga kenangan masa kecil kalian. Papa tak ingin membuka luka lama di hati mama karena mengingat segala hal buruk yang pernah papa lakukan dulu. Papa takut mama pergi meninggalkan papa nak." Jelas Sidharta dengan nada yang begitu lirih. Ada aura ketakutan terpancar jelas di raut wajah nya. Lukas akhirnya mengalah.


Sedangkan Sahira tertahan di balik pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Dia sudah ingin keluar dari toilet namun urung karena mendengar percakapan ayah dan anak itu. Hati nya memang masih menyimpan sekelumit luka masa lalu, namun masih bisa di ajak berkompromi meski sedikit butuh perjuangan.


"Loh, nak? udah datang, Nura mana?" Sahira mencoba terlihat biasa-biasa saja. Lukas tersenyum melihat wanita kesayangan nya itu lalu segera menyongsong wanita cantik itu dan memeluk nya erat.


"Mama wangi banget, habis sabun berapa botol buat mandi?" seloroh Lukas menghirup aroma wangi sabun yang menguar dari tubuh sang ibu dalam-dalam. Sahira baru saja selesai mandi, agar ketika sampai di rumah dia tidak perlu lagi mandi. Dia sudah merindukan kedua anak perempuan nya.


"Mama habis satu botol penuh, agar anak-anak mama betah memeluk mama lebih lama." Balas Sahira berseloroh menanggapi ucapan sang anak sulung.


"Khmmm.." suara deheman Sidharta membuat kedua insan itu sadar, jika bukan hanya mereka yang ada di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Eh? ada papa...aku sampe lupa saking senang nya ketemu sama bidadari cantik nya kelewatan ini." Ucap Lukas kembali mencium pipi sang ibu penuh sayang.


"Udah, udah..ini papa tolong di bantu dulu." Ujar pria itu dengan nada sewot. Lukas mengulum senyum melihat reaksi cemburu di wajah sang ayah. Sangat menyenangkan, dia kan sering-sering melakukan nya nanti. Begitu lah pikiran licik Lukas yang berniat mengerjai sang ayah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ana duduk di sofa tunggal di dapur, sesekali kalimat memerintah namun dengan nada yang sangat sopan, terdengar.


"Mbak, santan nya di encerin aja dikit ya..papa baru keluar dari rumah sakit soalnya, takut perut nya belum enak kalau di ajak makan santan." Begitu lah kira-kira kalimat Ana yang berusaha tetap ikut andil dalam mempersiapkan makanan untuk menyambut sang ayah juga ibu nya.


"Bu.. tumpeng nya bibi taruh di mana?" bi Sidah menghampiri Ana yang terlihat tengah menikmati cemilan buah-buahan milik nya. Ana sejenak berpikir sebelum akhirnya meminta Sidah menaruh nya di meja tunggal di samping meja makan.


"Udah mom, perut aku begah nih.." Ana mengelus perut nya dengan wajah meringis. Elisa mengambil satu mangkuk dan sendok sayur bersih dari lemari dapur. Ana kebingungan namun tak bertanya apapun.


Terlihat Elisa tengah melakukan sesuatu di permukaan perut besar Ana. Wanita itu seolah tengah mengambil sayur dari wadahnya. Lalu memasukkan ke dalam mangkuk di tangan kirinya. Ana masih menyaksikan dengan seksama tanpa menyela meski hati nya sangat gatal ingin bertanya.


"Nah! sudah sedikit lega belum?" tanya Elisa menatap wajah putri angkat nya tersebut. Ana terdiam sejenak kemudian mengangguk pelan. Sangat ajaib pikir nya.


"Itu tadi buat apa mom?" Ana tak tahan lagi untuk tidak bertanya. Elisa tersenyum mendengar pertanyaan sang anak.

__ADS_1


"Ini kalau menurut kepercayaan orang dulu-dulu, bisa mengurangi begah karena kekenyangan atau kembung air. Para orang tua akan melakukan apa yang baru saja mommy lakukan. Sebagai syarat saja, tidak sepenuhnya harus di yakini seperti itu. Ada juga yang menganggap nya untuk menghibur anak-anak mereka, agar sedikit melupakan rasa tak nyaman di perut mereka. Karena melihat hal konyol yang di lakukan oleh para orang tua. Semua tergantung kepercayaan masing-masing. Ini hanya merupakan bagian kecil dari sebuah tradisi leluhur. Percaya boleh tidak juga tidak masalah." Jelas sang mommy membuat bibir Ana membulat sempurna.


"O..." Ana mengangguk-angguk pelan.


"Jadi ini isi nya bakal mommy buang dulu, tunggu sebentar." Ana kembali mengangguk meski cerita Elisa sedikit menggelitik rasa penasaran di hati nya. Ana seperti mendengar kalimat dongeng, dan itu membuat nya sangat ingin tau banyak soal tradisi leluhur nya.


"Sayang..kenapa tidak duduk di dalam saja? di sini hawanya sedikit tidak nyaman." Joi datang membawa nampan berisi beberapa bekas piring kotor dari ruang tengah.


"Ana pengen liat mbak Santi sama bi sidah masak mi. Kaya kepengen aja gitu.." sahut Ana meringis.


"Ya sudah, mau mimi temani tidak?" Joi baru saja meletakkan nampan di atas meja yang kemudian do lanjutkan oleh Santi, yang menerus kan nya ke belakang, ke dapur kotor.


"Boleh kalau mimi tidak sibuk..."


"Mimi tidak sibuk, tadi hanya mengobrol saja sama yang lain." Joi menyeret satu kursi mendekati sang menantu tercinta.


"Perut mu sudah semakin membesar sayang, anak-anak mu pasti tumbuh sehat di dalam sini." Elusan tangan Joi membuat Ana nyaman.


"Ya mi, aku udah kaya balon udara sekarang. ketiup angin dikit bisa-bisa aku langsung terbang..." kedua nya tertawa renyah sampai Elisa kembali dari belakang menghampiri kedua nya

__ADS_1


"Renyah amat ketawa nya, lagi cerita apa nih..?" tanya wanita itu kepo. Kemudian ikut nimbrung di sana. Obrolan ngalur ngidul pun terjadi. Ana sesekali menanggapi sekiranya ada yang dia pahami. Sang mertua dan ibu angkat nya sangat cocok jika sudah berkumpul seperti ini. Ada saja yang dua wanita itu bahas, terutama topik mengenai suami masing-masing adalah topik terhangat yang selalu mereka kulik.


__ADS_2