Beloved My Ana

Beloved My Ana
Kilas Balik II


__ADS_3

Elisa tersenyum melihat id pemanggil di layar ponsel nya. "Ya dad.." sahut Elisa, wanita itu mulai membiasakan diri dengan panggilan tersebut. Dan Jorge hanya bisa menuruti nya saja.


"Benar Lukas sudah boleh keluar dari rumah sakit? bukan kah dia baru saja siuman?" cecar Jorge sedikit tak sabar. Terlalu cepat jika Lukas sudah di perbolehkan untuk keluar.


"Benar dad, kondisi putra kita sudah membaik dan stabil. Jadi hanya perlu melakukan kontrol rutin saja untuk luka nya." Sahut Elisa menjelaskan dengan suara riang. Lagi-lagi Jorge hanya bisa mendesah pasrah.


"Baiklah, aku akan menyuruh Fred mengurus kepulangan Lukas dari rumah sakit. Kita akan berangkat nanti malam, urusan ku masih belum selesai. Beristirahat lah di penthouse sejenak sembari menunggu urusan ku selesai. Tidak akan lama," balas Jorge dari seberang sana, Elisa hanya menjawab iya. Lalu panggilan terputus. Kaki nya melangkah lebar menuju ruangan Lukas, masalah ibu mertua nya akan dia pikir kan nanti saja.


Klek


Lukas terlihat duduk termenung menatap jendela, tadi perawat mendudukkan nya di atas kursi roda lalu membawa nya ke dekat jendela kaca. Lukas mengatakan jika dia bosan hanya duduk di ranjang nya.


"Sayang.. maaf, mom sedikit lama. Kita akan keluar hari ini, apa kau sudah merasa lebih baik sekarang.." tanya Elisa hati-hati.


Lukas tersenyum manis menatap wanita yang kini menjelma menjadi ibu nya tersebut.


"Aku baik mom, hanya saja kaki ku masih sangat perih untuk ku gerakan. Jadi nya aku minta duduk di kursi roda saja, maaf jika aku akan merepotkan mom nanti nya." Ujar Lukas tak enak hati. Ada perasaan canggung pada sang ibu, seperti orang asing yang baru saja dia temui. Lukas sungguh merasa bersalah akan perasaan tersebut. Ibu nya pasti sangat sedih jika mengetahui isi hati nya itu.


"Tidak masalah sayang, itulah guna nya mom dan dad ada. Kami akan berbagi waktu untuk menjaga juga mengurus segala kebutuhan mu." Balas Elisa lembut. Wanita itu berjongkok di hadapan Lukas sambil menggenggam kedua tangan anak nya.


"Aku belum bertemu dengan daddy, apa aku juga akan melupakan nya nanti." Seloroh Lukas mencair kan suasana kaku tersebut. Elisa ikut terkekeh pelan. Kemudian kedua nya mulai mengobrol tentang masa kecil Lukas, Elisa mengarang bebas. Biarlah jika nanti Lukas membencinya, dia kan menanam kan memori indah selama Lukas masih hilang ingatan. Akan dia buat putra tak mampu meninggalkan nya suatu saat nanti.


"Ini kamar mu untuk sementara, kita akan berangkat malam ini. Daddy mu sedang mengadakan pertemuan penting dengan rekan bisnis nya. Istirahat lah, mom ingin membersihkan diri dulu. Kau ingin mom memandikan mu nanti sayang." Tawar Elisa. Lukas segera menggeleng pelan, tak ingin membuat Ibu nya tersinggung.


"Aku akan mandi sendiri mom, nanti paman Fred akan membantu mendorong kursi rodaku ke kamar mandi, sisa nya aku urus sendiri. Mom istirahat lah, mom terlihat sangat lelah." Lukas berucap dengan nada penuh perhatian. Elisa sangat terharu mendengar kalimat menyentuh hati dari putra nya itu.


"Baiklah sayang, mom akan menyiapkan pakaian mu saja kalau begitu. Jadi nanti kau bisa langsung menggunakan nya setelah selesai mandi." Lukas mengangguk tak lupa berucap terimakasih pada ibu nya.


"Bagaimana keadaan nya, honey?" tanya Jorge yang baru saja selesai mandi. Pria itu baru pulang setelah hampir pukul 9 malam. Membuat Elisa uring-uringan karena kepulangan mereka otomatis tertunda.


"Baik, terlihat lebih ceria dari saat pertama dia terbangun. Tadi kami mengobrol sebentar setelah selesai makan, rupanya putra kita punya hobby yang sama seperti mu." Adu Elisa sedikit cemberut.

__ADS_1


"Oya? apa itu, aku punya banyak hobby. Selain membuat mu mend*s*ahkan namaku tentu nya." Ucap Jorge mengedipkan sebelah matanya. Pipi Elisa bersemu mendengar kalimat frontal sang suami.


"Ishhh.. kau ini." Elisa mencubit gemas perut kotak-kotak sang suami, hingga Jorge meringis manja. "Lukas suka sekali menonton channel otomotif. Aku pasti akan kalah saing dari mu nanti, Lukas akan lebih banyak menghabiskan banyak waktu bersama mu di bandingkan aku." Keluh Elisa memajukan bibirnya hingga belasan meter ke depan. Jorge tertawa keras, dalam hati nya terbersit rasa senang mendengar penuturan sang istri. Mungkin saja memang Lukas di takdir Tuhan untuk mereka rawat.


"Baiklah, nanti aku akan menyisakan waktu setengah jam untuk mu dan lukas membuat adonan roti panggang." Ledek Jorge semakin membuat sang istri kesal.


"Aku ingin melihat putraku dulu, jadi bersabarlah menunggu ku. Oke?" setelah berkata yang terkesan meledek sang istri, Jorge keluar dari kamar mereka menuju kamar Lukas.


Tok tok tok


Jorge mendorong pelan handle pintu yang tidak terkunci, sesaat mata nya menatap Lukas yang ternyata tengah menulis sesuatu di sebuah buku. Hati nya menghangat melihat pemandangan itu, seolah melihat putra kandung nya sedang duduk belajar.


"Boleh daddy masuk ?" Lukas menoleh dan sedikit terkejut, untung saja dia sudah melihat potret sang ayah. Jika belum, mungkin saja sekarang dia akan kebingungan melihat Jorge di sana.


Lukas tersenyum lembut, lalu menyuruh sang ayah masuk.


"Apa yang sedang kau tulis, son?" tanya Jorge basa basi, dia sedikit canggung namun berusaha bersikap biasa saja. Seolah mereka benar ayah dan anak kandung.


Jorge meraih buku tersebut, pria itu tercengang melihat kemampuan Lukas dalam membuat desain mobil itu. Sangat sempurna untuk anak seusianya. Jorge menarik sudut bibir nya tersenyum bangga. Kini dia semakin yakin, jika Lukas adalah hadiah dari kesabaran mereka selama 10 tahun ini. Perusahaan otomotif yang dia miliki, kini mempunyai penerus nya.


"Daddy bangga pada mu, setelah kita kembali ke Swiss. Dad akan melengkapi peralatan menggambar mu selengkap mungkin." Ujar Jorge tak sadar telah membuat Lukas merasa sedikit heran.


"Apa selama ini aku tidak pernah menggambar sesuatu seperti ini, dad?" skak! Jorge terjebak oleh ucapan nya sendiri. Pria itu berdehem untuk menetralkan kegugupan nya.


"Tidak! bukan begitu, selama ini kau tidak pernah mendesain sebuah mobil. Hanya menggambarkan seperti anak-anak lain seusia mu. Jadi dad sedikit terkejut, dan berencana menggali bakatmu agar lebih berkembang dengan baik." Jelas Jorge setenang mungkin


Lukas hanya mengangguk pelan. Sementara Jorge mulai berpikir untuk menghubungi sang adik, untuk meminta beberapa gambar buatan keponakan nya agar di tempel kan di kamar lukas. Dia sengaja menunda kepulangan mereka, sementara sang adik di Swiss tengah mempersiapkan kamar untuk Lukas beserta segala isinya.


Satu hal yang akan dia lakukan adalah menciptakan kebohongan baru, yaitu mengarang soal sebuah kebakaran hebat yang melahap semua kenangan masa kecil lukas di rumah lama mereka yang entah dimana. Dengan begitu Lukas tidak akan bertanya apapun lagi soal kenangan masa kecilnya.


"Sekarang istirahat lah, besok sore kita baru kembali ke Swiss. Malam ini Daddy sedikit lelah, dad jadi tidak sabar menunggu mu dewasa. Dad ingin menjadi pengangguran yang di gaji oleh anak nya, meski hanya duduk-duduk santai di rumah, namun rekening tetap terisi maksimal." Kekeh Jorge tidak sepenuhnya hanya untuk mencair kan suasana. Dia mulai terpikir untuk menjadi pensiunan. Menemani sang istri dirumah, menemani wanita kesayangan nya itu ke salon dan berbelanja kebutuhan mereka bertiga.

__ADS_1


"Dad? daddy..?" tegur Lukas yang melihat sang ayah terus tersenyum sendiri seperti sedang berkhayal.


"Heh? maaf, daddy hanya tidak sabar untuk menjadi seorang pengangguran. Ayo dad bantu naik ke tempat tidur." Lukas mengangguk lalu mengulurkan tangan nya agar sang ayah mudah mengangkat nya ke kasur.


"Kenapa lama sekali..?" Elisa menatap sang suami yang terlihat sedikit berbeda, pria itu terus tersenyum saat memasuki kamar mereka.


"Astaga..sayang. Aku hampir saja melupakan mu.." seloroh Jorge dengan wajah menyesal yang di buat-buat. Elisa mencebik melihat tingkah konyol suaminya, namun tak di pungkiri, hati nya sangat senang dan tentu saja sangat bahagia.


"Apa yang kalian bahas, hmmm?" tanya Elisa saat mereka sudah saling memeluk di atas ranjang.


"Hanya berbicara soal bakat putra kita. Kau tau sayang, Lukas ternyata bisa mendesain sebuah mobil yang dia tonton bersama mu tadi. Bahkan mampu berimajinasi dengan menambah beberapa detail. Bukankah itu hebat? aku mulai berpikir untuk menjadi pengangguran 8 tahun ke depan." Jorge bercerita dengan penuh semangat. Senyum di wajah nya memperlihatkan kebahagiaan yang sempurna. Sejenak Elisa merasa bersalah. Andai diri nya mampu memberikan keturunan bagi suaminya, pasti Jorge akan lebih bahagia lagi.


"Hei? kenapa kau jadi murung mom? apa kau takut jika kita akan kekurangan uang jika suamimu ini pensiun dini, hm?" Jorge menatap netra mendung sang istri.


"Maaf tidak mampu menjadi istri yang sempurna untuk mu.." lirih Elisa menunduk dalam. Air mata nya sudah menggenang.


"Sayang..jangan bersedih lagi. Bukan kah kita sudah punya seorang putra? apa Lukas masih belum cukup, kita bisa mengadopsi lagi dari panti asuhan. Mungkin seorang anak perempuan. Lukas pasti akan senang." Elisa semakin terisak di dada sang suami. Entah terbuat dari apa hati suaminya itu, saat pria lain gelisah soal keturunan yang tak kunjung hadir. Suaminya malah menjadi pria yang paling tenang, bahkan menjadi penyemangat bagi nya.


"Cukup Lukas saja, aku ingin kasih sayang kita tidak terbagi. Aku ingin Lukas merasa kan kasih sayang kita seutuhnya. Dengan begitu, kelak saat memori nya kembali. Di hati nya sudah tumbuh rasa sayang yang dalam untuk kita." Jorge mengangguk setuju kemudian memeluk erat sang istri dengan perasaan hati yang penuh.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


∆Terimakasih untuk perhatian kalian terhadap karya receh ini, mohon dukungan kalian sekira nya itu tidak memberatkan😁


Maaf jika cerita nya sedikit ngalor ngidul tidak jelas. Kemampuan berimajinasi othor hanya sebatas ini. Jika kehaluan hakiki ini di rasa kurang memuaskan ekspektasi kalian, mohon di maklumi. Oke😘


Tinggalkan jejak jika sempat, tapi usahakan jangan sampai lupa @maksa😆


∆Semoga kalian semua senantiasa sehat dan selalu berbahagia di manapun kalian berada.


Luv you para readers ku yang baik, dukungan kalian merupakan stimulan yang luar biasa hebat buat othor. Apalah othor tanpa kalian, pembaca yang comel dan menggumushh keun😚😚🥰🥰🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2