Beloved My Ana

Beloved My Ana
Sepenggal Kisah II


__ADS_3

Ternyata bu Romlah lah yang bertamu pagi-pagi ke rumah sederhana nya.


"Bu kades, mari masuk. Maaf, saya tadi di dapur sama Nura lagi mau bikin sayur sop." Jelas Ira tanpa di minta.


"Tidak apa-apa Ira, saya hanya ingin memberi tahu padamu. Jika Nura mendapatkan tawaran untuk masuk SMP Negeri tahun ini. Ini kartu undangan resmi dari pihak sekolah. Masih 1 bulan lagi, jadi Nura masih punya waktu untuk mengikuti paket A keseteraan Sekolah Dasar. Mohon jangan hanya di pertimbangkan, tolong bujuk Nura juga Ra. Nura anak yang cerdas, beberapa kali Nura mengajar otodidak anak-anak di lapangan kala bermain. Sayang sekali jika tidak bersekolah, lagi pula tidak ada biayanya. Bahkan Nura bisa mendapatkan beasiswa hingga jenjang kuliah mengingat putri mu itu sangat cerdas." Papar bu Romlah panjang lebar.


Ira tertegun mencerna apa yang telah di sampainkan oleh bu kades baik hati itu pada nya. Sementara Nura bersembunyi di balik dinding pembatas yang terbuat dari triplek. Hati nya senang sekaligus sedih, meski tidak membayar biaya apa pun. Tetap saja ibu nya harus membeli perlengkapan sekolah nya, dan itu pasti di luar tanggungan sekolah. Untuk beli sendal jepit saja dia harus menunggu sendal nya rusak parah baru ganti yang baru. Boro-boro beli sepatu sekolah, seragam buku dan lain-lain.


"Baik bu, nanti saya coba bujuk Nura. Untuk seragam nya, jika bu kades tidak keberatan. Bolehkah aku meminta seragam bekas Fitri, syukur-syukur kalau ada sepatu bekas nya juga. Untuk sekarang keuangan kami berdua sedang menipis, hasil penjualan sayur tidak seberapa karena musim penghujan beberapa minggu belakangan ini. Kalau hanya kaos kaki dan buku beberapa lembar juga pulpen, saya masih sanggup untuk membeli nya. Sementara Nura bisa menggunakan kantong plastik untuk menaruh perlengkapan menulis nya. Sementara menunggu hasil panen kami 2 bulan lagi." Urai Ira menjelaskan keadaan ekonomi nya. Meski tak perlu di jelaskan semua orang sudah tau bagaimana mereka hidup selama ini di bawah garis kemiskinan. Dan sedikit mulai bisa menata hidup setelah mendapat kan bantuan sembako dari bantuan sosial, berkat kebaikan hati kades yang baru.


"Itu tidak perlu kau pikir kan Ira. Sepatu, seragam, tas buku dan lain-lain sudah saya persiapkan. Bukan sepenuhnya saya yang menyiapkan, ada ibu-ibu yang lain juga. Tadi lupa saya bawa sekalian karena saya mempir ke postu untuk bertemu bu bidan dulu. Nanti sore Fitri sama Gamas akan mengantar nya kemari. Sekalian sama formulir untuk mengikuti ujian kesetaraan SD nya." Pungkas bu Romlah.


Ira tak kuasa menahan tetesan air mata nya, begitu pun Nura. Dibalik dinding triplek itu air mata kebahagiaan nya mengucur deras bagai air. Setidak nya dia masih bisa sambil bekerja di kebun teh tetangga sepulang sekolah. Karena pasti akan ada biaya lain nanti nya, dia tak ingin membebani sang ibu.

__ADS_1


"Terimakasih bu kades, saya tidak tau harus berkata apa lagi. Ibu terlalu banyak membantu saya dan Nura selama ini. Saya jadi malu sendiri..." ucap Ira terisak pelan, dia tak ingin Nura tau jika dirinya tengah menangis. Walau berbisik pun, dingin rumahnya akan saling bersahutan, saking kecilnya rumah tersebut.


"Kita ini sudah lama saling mengenal, kau sudah ku anggap saudari. Jadi jangan berpikir yang macam-macam. Aku ini anak tunggal, aku senang kau di desa ini. Sejak kau di sini aku merasa memiliki saudara perempuan. Ya sudah aku mau balik dulu, Nura jangan lupa di beri tau. Biar dia bersiap untuk menghadapi ujian nya nanti. Dan ini, jangan menolak aku tak ingin menerima penolakan. Ini bukan hanya dari ku, urunan ibu-ibu PKK juga. Semoga bermanfaat, dan jangan di bawa perasaan. Ini bukan hanya sekedar bantuan, tapi bentuk kepedulian sosial juga kasih sayang kami terhadap warga desa. Yang lain akan mendapatkan sesuai porsi nya masing-masing. Ini bagian mu, rejeki mu dan Nura. Syukuri tanpa memikirkan akan membalas nya dengan apa dan bagaimana." Tukas bu Romlah mewanti-wanti.


Ira hanya mampu mengangguk haru, rasa nya tak akan cukup hanya sekedar mengucapkan kata terimakasih saja. lebih 14 tahun hidup di desa itu membuat nya belajar banyak, mana yang bisa di anggap teman dan keluarga. Dan mana yang cukup hanya sekedar tau saja.


Setelah kepulangan bu Romlah, Ira masih betah memandangi amplop putih berlogo sebuah sekolah Menengah Pertama ternama di kota kabupaten tersebut. Juga amplop coklat yang sudah bisa di pastikan isi nya adalah lembar rupiah.


"Ma?" Ira mendongak setelah mengusap air mata nya.


"Ini ada undangan resmi dari SMP Negeri yang terkenal di kabupaten itu. Yang siswanya sering ikut perlombaan dalam berbagai bidang studi dan lain sebagainya. Dan anak mama yang cantik ini mendapat kan kesempatan untuk bisa mengenyam pendidikan di sana juga. Apa kau senang sayang?" Jelas Ira dengan wajah antusias. Dia tau Nura pasti akan memikirkan perasaan nya, apa lagi jika dia menunjukkan raut wajah sendu di hadapan sang putri.


"Nura senang ma, tapi mama yakin tidak apa-apa jika Nura bersekolah? maksud Nura, mungkin saja ada biaya lain-lain yang barangkali tidak sedikit nanti nya. Nura tidak ingin membebani mama, tidak sekolah juga tidak apa-apa. Nura juga bisa berhitung dan membaca dengan benar kok meskipun tidak bersekolah." Jawab Nura tersenyum lebar pada sang ibu. Hati Ira bagai di siram air panas. Perih rasanya, mengingat bagaimana kehidupan sulit sang anak selama ini. Padahal suaminya bisa hidup mewah bersama istri baru juga anak tirinya.

__ADS_1


flashback


Lenguhan seorang wanita membuat perhatian si nenek teralih kan dari tungku. Dengan langkah tertatih si nenek masuk ke dalam bilik kecil tersebut untuk memeriksa wanita yang baru saja dia tolong tadi sore.


"A_air.."


"Sebentar nak, nenek ambil kan dulu..." tak lama si nenek kembali datang dengan membawa gekas yang terbuat dari potongan bambu.


"Minum pelan-pelan.." ucap sang nenek mengingat kan.


"Terimakasih..." ucap si wanita lemah.


"Mau makan? nenek hanya ada ubi rebus dan sambel terasi ulek mentah di dapur. Apa kau mau?" tanya si nenek menawarkan, walau dia ragu jika si wanita mau memakannya. Mengingat penampilan wanita itu terlihat seperti berasal dari kalangan orang kaya. Perhiasan yang menempel di tubuhnya sudah menjelaskan tanpa harus bertanya.

__ADS_1


"Mau nek, terimakasih sebelumnya. Aku memang sangat lapar.." ujar nya tersenyum senang. Si nenek merasa sangat lega, lalu bergegas menuju dapur untuk mengambil beberapa potong ubi rebus juga sambel terasi nya. Hanya itu saja yang dia miliki.


__ADS_2