
Sekembalinya dari kantin rumah sakit, Rick menyempatkan diri untuk menjenguk keempat anak nya. Seharusnya keempat bayi nya sudah boleh di bawa pulang, namun Rick meminta agar pihak rumah sakit mau merawat anak-anak nya selama sang istri masih belum sadar. Dan pihak rumah sakit pun menyetujui nya.
Klek
Rick membuka pintu ruang tunggu, Joi dan yang lain yang seperti nya tengah berdiskusi. Mengalihkan tatapan mereka pada Rick. Pria itu tersenyum hangat, sungguh seperti bukan Rick yang mereka lihat. Ada kelegaan, juga kecemasan di saat bersamaan.
Sikap Rick terlihat lebih bersahabat, dengan gaya santai, tenang dan seolah tanpa tekanan.
"Pada cerita apa nih? serius banget muka nya pada..." seloroh Rick tertawa kecil. Kemudian pria itu duduk di samping sang ayah yang tengah duduk bersandar di dinding.
"Abis dari mana nak?" Sahira memecah kan keheningan yang ada.
"Dari kantin ma, abis makan. Laper banget, tadi aku liat nasi di kotak bekal tinggal dikit sama lauk. Takut nya tanggung mau nambah, maka nya aku ke kantin aja. Di sana tinggal mesen porsi kuli juga bisa..." Lagi-lagi semua orang di buat tercengang dengan kalimat panjang penuh nada candaan tersebut. Sungguh seperti orang lain yang tengah berbicara. Rick tak pernah berbicara panjang selain pada istri nya.
"Wah! pasti porsi kuli panggul nih makan nya..? kok papi tidak di ajak, padahal mulai keroncongan juga nih perut. Mami belum datang bawa makan siang..," sahut Zero menimpali. Dia tau ada hal yang di sembunyikan oleh keponakan nya itu, dia harap bukan sesuatu yang mereka cemas kan.
"Eh? maaf pi, Rick tidak tau kalau belum pada makan siang. Ke kantin gih, ada Rick jagain Ana. Takut nya mami kelamaan nyampe nya...," Ucap Rick penuh perhatian. Joi menatap nanar netra sang anak yang mengiris hati nya.
"Tidak lah, tar mami mu bakal ngamuk sama papi. Papi di sangka ke kantin mau tebar pesona doang, ketimbang pergi makan. Secara papi kan tampan dan menggemaskan, di jamin cewek-cewek bakal meleleh liat papi." Ucap Zero membanggakan diri, tak lupa jari tangan nya terlihat merapikan rambut klimis nya ke samping.
Jovan berdecih seolah jijik melihat tingkah ipar nya tersebut.
__ADS_1
"Tidak kebalik? bukan nya situ yang bakal kejang-kejang, liatin Kakak ipar jalan sendiri tanpa pengawalan." Cibir Jovan meledek.
"Aishhh..! Rahasia semesta jangan di umbar- umbar dong... Bukan nya situ juga, sadar diri kenapa sih..!" Zero mencebik kesal, sementara Yang lain hanya tersenyum melihat kelakuan dua pria bucin tersebut.
"Sama-sama bucin akut jangan saling meledek...," tegur Joi akhirnya angkat bicara.
"Suami mu ini loh dek, mas mu ini selalu saja di dzolimi tanpa perasaan." Adu Zero dengan wajah selayaknya seorang korban bullyan. Jovan melempar potongan cup cake tepat ke hidung mancung sang kakak ipar laknat.
"Heh! ini makanan kenapa pada di jadiin bola sih. Pamali tau, tar kena sumpah sama margarin. Diare baru kapok kalian berdua...!" Jovan dan Zero kompak mendengus mendengar kalimat doa tak enak dari mulut Joi.
"Aku mau ke dalam bentar ya..Tar makan aja, tidak perlu nyisain. Aku udah kenyang banget, paling kalo mami bawa cemilan. Boleh deh, tinggalin dikit tarok di toples itu." Tunjuk Rick ke arah toples besar tinggi bulat berwarna biru di samping sang ibu. Di dalam nya sudah ada beberapa sisa stok aneka kue. Untuk jaga-jaga jika perut lapar, atau hanya sekedar lapar mata lihat tetangga pada ngemil. Biasa kan orang suka gitu, kalau liat orang makan begituan walau udah kenyang suka khilaf 🤭😁(othor curhat).
"Isshhh..jual mahal banget sih jadi cowok! Kok aku jadi semakin penasaran, secantik apa sih wanita yang katanya istri nya itu. Sampe ni laki-laki nolak pesona seorang Yumna." Seringai licik terlihat jelas di wajah nya polos nya. Ralat! Wajah yang terlihat polos namun memiliki kepicikan luar biasa tersebut.
Tok tok tok
Yumna menatap malas daun pintu yang perlahan mulai terbuka dari luar. Terlihat seorang wanita dengan jilbab panjang tersenyum hangat pada nya.
"Pak haji menelpon, mau bicara sama neng Yumna. Apa mau di telpon balik? pak haji bilang bakal nunggu neng menelpon nya kembali." Ujar wanita itu tersenyum ramah. Yumna mendelik mendengar panggilan yang paling tidak dia sukai tersebut.
"Apa kau sudah pikun apa bagaimana? sudah aku peringatkan, panggil aku dengan sebutan nona! N-O-N-A..! Nona! paham!" Si wanita hanya tersenyum simpul saat mendengar Yumna mengeja namanya sendiri dengan suara lantang. Sudah terlalu kebal kedua telinga nya mendengar bentakan gadis tersebut.
__ADS_1
"Maaf neng, panggilan tersebut di larang oleh pak haji. Kata beliau tidak pantas, lebih cocok neng seperti panggilan sedari neng masih kecil. Lebih cocok saja dan lebih sopan." Jelas si wanita dengan kesabaran tingkat tinggi.
"Jadi menurut mu aku tidak pantas di panggil nona? begitu? Apa aku tidak cantik, hah? Jaga bicara mu saat berhadapan dengan ku, di sini tidak ada abi dan umi yang akan memberikan mu perlindungan dan pembelaan. Aku bisa melakukan apa saja pada mu, termasuk menelantarkan mu di kota ini tanpa sepeserpun uang. Kau bisa ku jadi kan gembel jika bertindak tidak sesuai kehendak ku!" Sentak Yumna dengan nada tinggi. Tidak lupa jari telunjuk nya mengarah sempurna ke wajah wanita di hadapan nya dengan sangat tidak sopan.
"Keluar dari kamar ku Nuri! aku tak ingin terus memperlakukan seperti ini, jadi menurut lah pada ku. Kenapa itu sulit sekali kau lakukan..." Lanjut Yumna penuh penekanan. Nuri, wanita yang di tugas kan oleh haji Sudy untuk menjadi teman putri nya. Hanya mengangguk lemah dengan senyum yang masih terus merekah.
Sebelum menutup pintu kamar Yumna, Nuri kembali menoleh.
"Pesan pak haji, jika neng Yumna keluar. Jilbab nya jangan lupa di pakai..." Yumna meremat ujung dress ketat nya menahan kesal pada wanita tukang ngadu tersebut.
"Jika sampai abi mengetahui kelakuan ku selama kita tinggal di ibukota, arti nya mulut lemes mu minta untuk di beri pelajaran yang berharga. Ingat itu Nuri, pesuruh tetap lah pesuruh. Tak peduli seberapa sayang nya umi dan abi pada mu, kau hanya lah anak seorang jongos! Jangan lupa dari mana diri mu berasal..!" Nuri meremat ujung jilbabnya dengan cukup kuat.
Biasa nya dia akan menganggap kata-kata Yumna hanya lah angin lalu. Namun kali ini terasa sampai ke lubuk hati nya.
"Baik neng. Nuri akan selalu mengingat asal usul Nuri, jadi neng tidak perlu khawatir jika Nuri akan merebut kasih sayang dan perhatian pak haji dan dan bu Hajjah. Saya permisi, makan malam sudah siap di meja makan." Setelah mengatakan kalimat tersebut, Nuri bergegas pergi menuju kamar nya. Hati nya sangat sakit kali ini, benar. Dia hanya lah anak seorang jongos, namun hati nya tak rela jika orang tua nya ikut di hina.
Nuri menekan sesak di dada nya, bukan keinginan nya untuk menjadi tukang mulut. Dia hanya menjalankan amanah dari majikan kedua orang tua nya. Lagi pula apa salah nya jika diri nya berusaha untuk mengingat kan sang anak majikan. Rupa nya anak yang meski di didik dengan moral dan pembekalan ketuhanan yang luar biasa. Tidak menjamin akan mampu menjalani hidup nya sesuai apa yang telah dia pelajari.
Contoh kecil nya Yumna. Berangkat dari sebuah desa kecil untuk menimba ilmu di ibu kota. Namun terjerat oleh gemerlap nya pesona Jakarta. Seperti mendapatkan ilmu baru yang mencerahkan hati nya, Yumna menanggal kan harapan dan doa kedua orang tua nya ketika kedua kakinya melangkah keluar dari rumah. Di mana masa kecil hingga remaja nya, penuh kesantunan dan attitude yang baik.
∆Tidak untuk menyinggung pihak mana pun, hanya contoh kecil dari anak muda yang sedikit meleng akibat silau cahaya dunia.
__ADS_1